0

Pelajaran Hari Ini


“Ya, Nak, ada apa?” tanyaku dengan senyum.

Diam sejenak. Diam Lama. Diam. Diam. Diam.

“Mau apa, Nak?” tanyaku untuk yang ke sekian kali.

Lama terdiam. Diam. Dia masih terdiam.

Hampir satu menit menunggu jawaban, kemudian…

“Telepon.”

Aku lega mendengar dia menjawab. Menjelaskan kedatangannya ke ruang kantor.

Diam lagi. Aku tanya ini itu. Dia masih diam. Bungkam.

“Hafal nomornya?”

Diam. Diam. Tak lama dia mengangguk.

“Coba sebutkan nomornya.”

Dia masih diam. Merapatkan mulut sambil jari tangan melilitkan ujung bajunya. Dia terlihat gugup.

“Ya sudah, kamu yang tekan nomornya ya.”

Tut berbunyi dua belas kali.

Terdengar tiga kali nada tunggu. Aku masih bingung menyampaikan apa ke Bundanya. Mencoba menebak isi kepalanya.

“Ini bicara dengan Bunda.” pintaku sambil menyodorkan gagang telepon.

Tangannya gemetar memegang gagang telepon. Tapi dia masih diam. Diam. Diam. Diam.

Aku yang angkat bicara setelah mengambil alih gagang telepon yang dipegangya.

“Ya, Bunda, Ananda tidak mau bicara menelepon untuk apa, tapi Bunda sudah tahu kalau hari ini pulang jam sebelas?” kataku menjelaskan.

Suara di ujung telepon terdengar jelas mengiyakan. Dan telepon di tutup.

Dia belum beranjak. Setelah aku menjelaskan dia masih diam. Pasti ada hal yang ingin dia sampaikan.

“Ya, Nak, kamu mau bilang apa? Ngomong coba.”

Lagi-lagi diam dengan tatapan yang aku tak mengerti.

Sepuluh detik hanya saling tatap. Lalu…

“Minta bawain buku tematik.”

Terbalik, sekarang aku yang terdiam. Terpesona dengan empat kata yang terlontar dari mulutnya.

Aku melangkah ke pesawat telepon.

Redial.

Paling tidak aku bisa mendengar dia bicara setelah berkali-kali aku sapa ketika berpapasan di depan teras kelasnnya dan tak pernah sekalipun di jawab olehnya. 

16 Desember 2013 Senin
Kantor 1045

0

Krayon Sahabat Miza


Miza berduka. Ini adalah hari terakhirnya bermain bersama Zahra. Kehilangan sahabat adalah kesedihan yang paling Miza takutkan. Zahra bagi Miza sudah seperti saudara kandung. Sejak duduk di TK mereka sudah berteman.

 

“Aku harap kita tetap bersahabat meski kita berjauhan, ya, Za?” kata Zahra saat hari terakhir Zahra bersekolah.

 

Miza memeluk sahabatnya dengan tangis yang tak terbendung.

 

“Iya, Ra. Persahabatan kita selama ini harus tetap kita jaga.” Kata Miza sambil melepas pelukannya.

 

“Oya, aku punya hadiah untukmu. Ini. Semoga kamu suka ya.”

 

Zahra menyerahkan sekotak kado berwarna hijau muda. Miza terkejut. Sungguh, ia tidak terfikir untuk memberikan Zahra sesuatu. Di dalam hati ia menyesal tidak memikirkan sesuatu untuk hari terakhirnya bersama Zahra.

 

“Maafkan aku, Ra. Aku belum sempat membeli sesuatu untukmu. Tapi, terimalah ini.” Miza mengambil sesuatu dari rambutnya dan menyodorkannya ke Zahra.

 

“Ini sungguh untukku? Sejak lama aku tertarik dengan jepitan milikmu dan kini kamu memberikan untukku? Terima kasih, Mizaa…”

 

Sepanjang sore mereka menghabiskan waktu bersama. Mama Zahra mengajaknya jalan-jalan. Menonton di bioskop dan makan di restoran. Tapi menjelang magrib ketika ia sudah sampai di rumah, rasa sedih itu muncul lagi. Ia tidak bisa membayangkan hari-hari sekolahnya tanpa Zahra.

 

 “Sudahlah, sayang. Bunda yakin kamu akan mendapatkan sahabat lain di sekolah kamu yang sekarang. Kan ada Putri, Vira, Andin, Tika, bunda pikir mereka juga teman yang baik.”

 

Bunda yang mengenal persahabatan anaknya sangat paham dengan kesedihan yang dialami putri satu-satunya itu.

 

“Tapi Miza gak mau berteman dengan mereka.” Kata Miza dengan isak yang tertahan.

 

“Kenapa?” tanya Bunda sambil memeluk Miza dari samping.

 

“Mereka gak seperti Zahra yang pintar menggambar, Bunda…”

 

Miza memeluk Bundanya dengan erat. Miza merasa jika tidak ada Zahra, maka tidak ada yang mengajarinya menggambar dan mewarnai lagi.

 

“Ya sudah, sekarang kamu tidur ya, sayang. Semoga malam ini kamu memimpikan Zahra ya.”

 

Bunda mencium lalu mematikan lampu kamarnya.

 

++++

 

Hingga dua hari Miza belum membuka kado dari Zahra. Ia hanya menatapnya saja. Bukan tidak mau, namun, ia tidak ingin kado yang diberikan Zahra akan habis, rusak atau hilang jika dipakai olehnya. Ia akan menyimpannya dengan utuh masih dalam keadaan terbungkus kado.

 

Kelas tiga Miza tak seindah seperti hari-hari yang lalu sebelum Zahra pindah. Ia menjadi lebih pendiam dan senang menyendiri. Hanya coret-coretan dan gambar-gambar yang dipelajarinya dari Zahra. Tapi meski ia lebih senang menyendiri, prestasinya tidak menurun. Nilai-nilainya tetap bagus. Semangat belajarnya tetap tinggi. Ia hanya kehilangan sahabat terbaiknya. Seorang sahabat yang mengajarinya belajar menggambar.

 

++++

 

“Hai, perkenalkan, namaku Iqsa. Kamu?”

 

Miza sedang duduk sendiri di teras depan kelasnya. Di saat teman-temannya asyik bermain, Miza yang sudah menyendiri selama tiga minggu didatangi oleh seseorang teman sekelasnya. Seorang anak laki-laki yang tadi pagi menjadi penghuni baru ke kelasnya.

 

Awalnya Miza malas menimpali, tapi akhirnya ia menerima perkenalan Iqsa yang berbeda. Lihatlah, Iqsa memperkenalkan diri sambil memperlihatkan tulisan dan sebuah gambar ke arahnya. Jadi jangan membayangkan Iqsa mengenalkan diri sambil mengeluarkan suara. Itu salah besar.

 

Seperti menemukan sesuatu yang dicarinya, Miza seolah melihat Iqsa dengan tatapan senang.

 

“Namaku, Miza. Panggil aku Miza ya.”

 

Balasnya sambil menuliskan nama dan menggambar sesuatu dari balik kertas yang disodorkan Iqsa.

Awal perkenalan yang menyenangkan. Dan Miza merasa menemukan sahabat baru.

 

++++

 

Miza hampir lupa dengan kesedihannya. Ternyata Iqsa tidak hanya pandai menggambar, tetapi juga menulis cerita.

 

“Suatu hari kamu harus bisa menulis cerita juga ya, Za. Aku ingin kamu menghadiahiku sebuah cerita. Sebelum aku pindah.”

Mata Miza langsung memandang lekat wajah Iqsa yang berada dihadapannya. Ruang perpustakaan yang sepi seolah tambah semakin sepi ketika Miza mendengar sebuah kalimat yang keluar dari Iqsa.

 

“Apa yang kamu katakan tadi? Kamu akan pindah sekolah?” pekik Miza bercampur perasaan yang bergejolak.

 

“Iya. Aku bersekolah di sini hanya dua minggu. Aku harus mengikuti ayahku yag bertugas di sini karena ibuku sedang meneruskan S3-nya di Singapura. Ayah menyuruhku bersekolah di sini karena ayah berteman dekat dengan Ibu Indri, Kepala Sekolah kita.”

 

Miza masih tidak habis fikir. Ia baru saja mendapatkan seorang teman yang cocok, tiba-tiba ia harus mendapat kabar yang membuat hatinya sedih. Air matanya jatuh tanpa disadarinya.

 

“Kamu jangan menangis, aku kan masih lama bersekolah di sini. Kita pasti akan menjadi sahabat yang baik.” Kata Iqsa mencoba menghibur dan membesarkan hati teman barunya.

 

“Dua minggu sangan cepat. Lebih baik aku tidak berteman denganmu daripada aku harus kehilangan sahabat lagi.”

 

Miza melangkah keluar perpustakaan menuju kelas. Sepanjang jam pelajaran hingga pulang, ia kembali menjadi Miza yang penyendiri. Iqsa tampak bersalah telah memberitahukan perihal keberadaannya di sekolah sementaranya. Di hari pertamanya bersekolah, Iqsa sudah harus kehilangan teman baru yang menurutnya menyenangkan.

 

Ketika sampai rumah Miza langsung memeluk Bunda yang saat itu sedang membaca buku di ruang tengah.

 

“Aku benci memiliki teman, Bunda.”

 

Tangis Miza pecah dipelukan Bunda. Ia sudah menahan tangis sejak di perpustakaan.

 

“Kamu sampai rumah bukannya memberi salam malah menangis. Kenapa, sayang?” Bunda mengusap rambut Miza yang tergerai.

 

“Aku tak ingin memiliki teman di manapun!” Katanya sambil melepas pelukan dan menatap mata Bunda. Bunda mengusap air mata yag deras mengalir di pipi Miza. Setelah Miza sedikit tenang mengalirkan cerita tentang Iqsa, teman baru yang harus berakhir cepat.

 

“Sayang, teman baru kamu kan masih dua minggu di sekolahmu, jadi masih banyak waktu yang tersisa untuk bisa berteman dengannya. Harusnya bersyukur karena kamu telah memiliki teman baru yang jago menggambar seperti Zahra. Dan kamu bisa menceritakan teman barumu pada Zahra, pasti Zahra akan senang mendengarnya.”

 

Bunda bersusah payah memberikan pengertian kepada Miza. Awalnya Miza tetap menolak untuk berteman dengan Iqsa, tetapi apa yang Bunda bilang benar juga. Miza mengusap air mata terakhirnya lalu menyunggingkan senyum yang sedikit dipaksa.

 

“Oya, sebelum kamu ganti seragam dan makan siang, tadi Bunda Zahra menelepon Bunda, katanya Zahra menanyakan apa kamu suka atau tidak dengan kadonya.”

 

Baiklah, Miza akan membuka kado dari Zahra. Zahra sudah sangat baik terhadapnya dan ia harus bisa memberikan komentar atas kado yang diberikan kepadanya, meskipun, apapun yang Zahra kadokan untuknya, Miza pasti suka.

 

Selepas makan malam, Miza membuka kadonya. Matanya berbinar. Sekotak krayon warna-warni. Tapi lihatlah, kotak krayon itu sangat spesial.

 

Kotak krayon berukuran sedang bertuliskan Krayon Sahabat. Di bawah tulisan itu tertulis indah namanya dan Zahra. Di kiri dan kanan bergambar mereka dalam versi kartun. Pasti Zahra sangat serius memberikan hadiah pada Miza. Ia jadi teringat tentang kado jepitan miliknya yang diberikan pada Zahra. Sangat tidak spesial dan harganya murah.

Miza langsung menuju kamar Bunda dan memamerkan hadiah dari Zahra. Ia meminta Bunda menelepon Zahra. Bunda setuju.

 

“Zahra… Aku kangen kamu. Terima kasih atas kado terindah yang kau berikan padaku. Aku janji akan memberikan hadiah yang terindah untukmu. Oya, besok-besok aku akan bercerita tentang teman baruku di sini. Kita saling tukar cerita ya, Ra?”

 

Setelah hampir setegah jam akhirnya mereka menutup obrolan. Bunda yang baru saja menyambut Ayah yang belum lama pulang kerja tersenyum melihat Miza sudah tidak bersedih. Setelah mencium tangan Ayah ia pamit tidur. Tapi bukan menuju kasur, melainkan membuka sebuah buku tulis kosong. Hari-hari awal masuk sekolah masih banyak buku tulisnya yang belum terisi. Lima belas menit ia menulis. Menceritakan perkenalannya dengan Iqsa. Ia juga menuliskan tentang saran Iqsa agar ia harus belajar menulis cerita. Karena saran yang diberikan Iqsa baik, maka ia menyarankan Zahra untuk menulis cerita juga. Dan dimulai dengan saling bertukar cerita seperti saat ini.

 

Semoga persahabat kita tak akan pernah putus jika kita saling bertukar cerita, tulis Miza di akhir ceritanya untuk Zahra.

 

+++

 

“Siapa yang merusak krayonku? Ayo jawab? Siapa?”

 

Miza berteriak di kelasnya. Siapa yang tidak marah jika krayon kesayangannya ada yang merusak? Tapi bukan itu persoalannya, bukan krayon yang patah atau hilang, tetapi kotak krayon yang sangat ia sayangi ada yang merusak. Ia sengaja membawa krayon itu karena hari ini ada pelajaran SBK. Air mata Miza tumpah sambil memeluk kotak krayonnya yang sudah tidak berbentuk. Seseorang mendekatinya sambil menunduk. Iqsa?

 

“Za, maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf telah merusak kotak krayonmu. Aku benar-benar tidak tahu kalau di dalam tasmu ada krayon itu. Tadi aku tanpa sengaja menduduki tasmu ketika aku sedang bercanda dengan Argya. Aku benar-benar minta maaf…”

 

Ya, sebenarnya krayon Miza masih tersimpan rapi di dalam tas yang diletakkan di kurisnya. Namun, ketika ia membuka tas dan hendak menunjukkan krayon barunya kepada Iqsa, betapa terkejutnya ternyata krayon miliknya sudah rusak.

 

Miza bergegas keluar kelas tanpa mendengar lagi apa yang hendak Iqsa ucapkan. Ia menumpahkan sedihnya dengan menuju kursi taman sekolah. Miza yang awalnya ingin kembali baik dengan Iqsa harus berhadapan dengan hal yang tidak ia pikirkan sebelumnya. Iqsa sudah menyakiti hatinya dua kali.

 

Tiga hari ia pindah duduk dan menjauh dari Iqsa. Tiga hari itu pula Bunda membujuk Miza untuk sekolah. Bunda baru berhasil membujuk Miza setelah ia menghubungi Zahra, dan Zahra akan membuatkan lagi kotak krayon yang persis dengan yang pernah diberikannya pada Miza.

Karena mogok sekolah tiga hari, maka kesempatan untuk berteman dengan Iqsa hanya tinggal beberapa hari lagi. Miza berpikir, mungkin ia memang tidak diperkenankan untuk berteman dengan siapapun. Miza kembali menyendiri. Meskipun ia tetap menujukkan prestasi belajar yang mumpuni.

 

+++

 

Miza perhatikan sepertinya Iqsa tidak ada keinginan untuk berteman lagi dengannya. Iqsa lebih memilih berteman dengan Ziyad atau Ahyan. Ternyata Iqsa tidak jauh berbeda dengan teman laki-laki di kelasnya. Miza menarik napas di kursinya. Hanya memperhatikan teman-teman sekelasnya bermain. Sebenarnya ia ingin ikut bergabung, tapi tak ada lagi teman yang benar-benar dekat dengannya, lebih tepatnya tidak ada yang mau mengajaknya bermain bersama.

 

“Za, ke perpus bareng yuk! Aku ingin meminjam buku.”

 

Miza terkejut dengan teguran yang menghepaskan lamunannya. Tika.

 

“Hmm… Kamu serius mengajak aku ke perpus?” tanya Miza ragu. Tika mengangguk mantap. Rambutnya yang kucir kuda bergoyang.

 

“Aku juga sering ke perpus, bahkan dari kelas dua, saat Zahra masih bersekolah di sini. Kamu saja mungkin yang tidak pernah memperhatikan.”

 

Miza sudah duduk di kursi perpus. Sementara dengan jarak yang tidak terlalu jauh, Tika mencari buku yang hendak dipinjam sehingga suara Tika masih terdengar oleh telinga Miza.

 

“Terima kasih ya, Za, sudah mau menemaniku ke perpus.” Ia menghulurkan tangannya ke hadapan Miza. Mereka saling melemparkan senyum. Miza merasa telah menemukan teman baru. Meski ia tetap berharap dapat kembali berteman dengan Iqsa.

 

+++

 

Bel masuk belum berbunyi ketika Iqsa menghampiri Miza yang sedag duduk di teras depan kelas.

 

“Sebagai permintaan maafku, terimalah ini sebagai ganti kotak krayonmu yang aku rusak.” Kata Iqsa sambil menyodorkan sebuah kertas berukuran A3. Mata Miza berbinar saat melihat dan menerima dengan ragu pemberian Iqsa. Gambar yang keren.

 

“Te…ri…ma… kasih, Iqsa. Kamu baik sekali. Maafkan aku juga telah mendiamkanmu beberapa hari ini” ucap Miza menyodorkan telapak tangan kanannya sebagai permintaan maaf dan kembalinya pertemanan.

 

“Hai, Za, selamat pagi.” Tika yang baru datang langsung menyambutnya dan duduk di sisi kanannya. Iqsa pamit untuk masuk kelas. Satu persatu teman sekelasnya datang. Beberapa teman melihat adegan Miza dan Iqsa yang tadi saling berbicara canggung.

 

“Kamu memegang apa, Za?” tanya Tika melihat kertas besar yang dipegang Miza.

 

“Ini dari Iqsa. Sebagai permintaan maafnya.” Ucapnya sambil tersenyum. Lima menit lagi bel masuk berbunyi. Sudah banyak warga sekolah yang datang dan berhamburan, baik di kelas, teras maupun taman serta lapangan.

 

“Oya, Za, aku ada sesuatu untukmu. Semoga kamu suka. Hmm, mungkin tidak sebagus gambar Zahra ataupun Iqsa, tetapi semoga hadiah dariku ini membuat kamu suka dan kita bisa menjadi teman yang baik.”

 

Untuk yang kedua kalinya mata Miza berbinar. Sebuah jepitan.

 

“Jepitan ini hasil karyaku. Mamah di rumah mengajariku membuat ini. Mungkin suatu hari kamu bisa belajar bersama di rumahku. Mamah pasti senang.”

 

Miza menerima pemberian Tika dengan hati bahagia. Ia berjanji dalam hati akan memberikan hadiah juga untuk Iqsa dan Tika. Bagi Miza, hari ini adalah yang menyenangkan sampai malam.

 

+++

 

“Bunda, aku gak menyangka mereka begitu baik dan perhatian padaku. Aku senang bercampur sedih.”

 

Malam ini Bunda menemai Miza tidur karena ayah sedang dinas ke luar kota.

 

“Kenapa sedih?” Bunda mengerutkan kening.

 

“Pertama, aku sedih karena Iqsa akan kembali ke sekolahnya yang lama. Kedua, sedih karena tadi aku tidak langsung memberikan hadiah pada Iqsa dan Tika. Ketiga, sedih karena aku terlambat menyadari sesuatu.”

 

Kepala Miza bersandar dibahu Bunda. Bunda mengusap kepala Miza dengan penuh cinta. Ia bahagia karena dapat melihat perkembangan Miza tanpa terlewat sedetikpun. Selepas melahirkan Miza, Bunda memutuskan berhenti kerja dan seratus persen merawat dan menjaga Miza hingga saat ini.

 

“Terlambat kenapa, sayang? Kan sekarang kamu telah mempunyai teman dan tidak sendiri lagi?” selidik Bunda.

 

“Ya terlambat menyadari kalau ternyata memilik banyak teman itu menyenangkan. Bergaul dan bercanda dengan teman-teman itu asyik. Tadi saja Tika mengajakku bermain dengan teman sekelasku yang lain. Dan aku begitu bahagia.”

 

Miza memeluk bunda erat. Tampak sekali Miza merasakan hal yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

 

“Aku tetap bersahabat dengan Zahra meski hanya lewat surat, tetapi aku juga akan berteman dengan siapapun.”

 

Bunda memeluk Miza dengan penuh kasih.

 

“Seperti krayon yang Zahra berikan padamu, berwarna-warni, maka seperti itulah memiliki banyak teman, berbeda-beda namun saling melengkapi, maka akan indahlah sebuah pertemanan, sayang…”

 

Sebuah kecupan lembut hinggap dikening Miza.

 

“Terima kasih, Bunda…”

 

Selasa, 03 Desember 2013

Kamar2149

0

Kembali = Bertahan (Sayembara Menulis Berdasarkan Lagu I Will Survive -Bondan Prakoso)


Ketika separuh hatimu telah membeku, membatu oleh semua kejadian yang menyakitkan dalam hidup, atas protes terhadap takdir buruk yang seolah enggan pergi ,hendak di bawa kemanakah separuh hatimu yang lain? Yang mungkin hampir larut bersama kebekuan sebelah hatinya jika saja kesadaran terlambat datang?

Tiga bulan setelah lama tak bertemu.
Aku, akulah separuh hati yang hendak kembali. Setelah kularungkan separuh hatiku pada laut, yang telah terbawa ombak besar dan menghilang dengan sempurna.

“Kau tak akan pernah bisa kembali, teman. Harusnya kau lihat mereka yang katanya akan meninggalkan jauh-jauh setelah menikah, nyatanya? Ya, mereka memang kembali, tapi bukan kembali seperti keinginanmu, melainkan kembali dengan keinginan mereka yang sudah mereka usahakan untuk ditinggalkan.”

Aku hanya sesekali menatapnya. Di sebuah taman kota. Di kursi panjang yang tak ada satupun kursi di duduki selain aku dan teman-ku yang sudah terlanjur berbicara serius tentang kita: makhluk-makhluk terbuang yang separuh hatinya telah mati.

“Jangan kau samakan aku dengan mereka. Jika setelah menikah mereka tetap tidak berubah, maka aku akan berubah meski aku tidak menikah.”

Aku membantah dengan suara mantap. Teman-ku tersenyum merendahkan. Mungkin menganggap aku sedang bermimpi sehingga apa yang aku ucapkan barusan tak lebih dari sekedar mengigau.

“Jika yang menikah saja tak mau kembali, bagaimana dengan kau yang sendirian? Lantas, kemana kau akan salurkan keinginan di bawah perutmu itu? Hahaha_”

“Hari ini tepat tiga bulan aku kembali. Aku hanya berharap tetap bisa bertahan. Karena aku yakin pada SATU.” kataku sambil menatapnya dalam disela-sela tawa membahananya.

Kemudian ia bergegas pergi. Terbang setelah merapikan tas ranselnya yang telah dilekatkan dipunggungnya yang bersayap. Sayap hitam yang menurutku sangat buruk. Pernah aku memintanya untuk mengganti sayap yang lebih keren, teman-ku bukan berpikir atas saran baikku, dia malah memarahiku habis-habisan.

“Kau tak pernah tahu, tugasku mulia, mengingatkan orang-orang seperti kita untuk kembali. SATU tak pernah sedikitpun mengerti jiwa-jiwa yang telah diabaikan olehnya. Yang sengaja dengan kehendaknya, membuat kita menjadi begini.”

Bagi kami, yang hatinya telah sengaja dibuang, SATU hanyalah sekedar nama. Meski sedetikpun namanya tak pernah hilang. Aku sendiri, ketika aku sedang nikmat bercinta, dengan satu atau dua orang yang sama, namanya melintas walau hanya sedetik.

Surat rahasia yang sejak tadi aku genggam, menyiratkan bahwa ada SATU di surat rahasia itu. Petunjuk, mungkin. Tiba-tiba suara teman-ku kembali terngiang di telinga. Kata-kata yang terlontar darinya tadi, sesaat setelah aku menunjukkan kertas berisi rahasia.

“Kau ingat teman kita yang pernah kita jumpai di mall waktu itu, dia juga mendapatkan surat rahasia itu, tapi dia tetap bersama barisan, bedanya, sekarang ia pakai cara aman, setia dan lebih sering ingat SATU. Kau bisa melakukan sama seperti yang teman kita lakukan tanpa harus kembali, teman.”

Teman-ku tak terkejut saat aku sodorkan surat itu, toh ia sudah sering menerima dan membaca, tapi banyak si pemilik surat itu lebih memilih bertahan.

“ Kau jangan memandang sama aku dengan dia. Karena aku berpikir, ini saatnya.”

“Kita lihat saja, siapa yang bisa bertahan. Kau, atau separuh hati kau yang telah hilang itu.” katanya dengan nada menjengkelkan.

Aku sudah lama berteman dengannya. Hampir lima tahun. Tak perlu aku benci atau sakit hati atas ucapanya itu. Dia memang begitu, spontan dan terkadang meremehkan hal-hal yang dianggap dia tak penting.

Aku rasa, ia telah salah keyakinan. Menganggap kita sudah tak bisa lagi melawan takdir SATU. Sampai-sampai, temannya sendiri dianggap berbelok, salah jalan. Meskipun kita sendiri berada di jalan yang belok itu. Dan aku ingin meluruskan.

Ku lipat surat rahasia itu. Lalu melangkah ringan menuju rumah. Pulang.

 

Hari itu, ketika surat rahasia baru saja aku terima. Tiga bulan sebelum aku bertemu.

“Bunda, bunda siap memiliki anak lelaki yang separuh hatinya telah pergi?”

“Bunda, bunda siap menerima separuh hati anak lelakimu yang ingin kembali?”

“Bunda, bunda rela merawat anak lelakimu yang sakit ini untuk sembuh?”

Dalam peluh, ketika bunda yang saat itu sedang merapikan seprai kamarku, aku melangkah mendekatinya. Gemetar aku menyerahkan surat rahasia itu. Surat yang menjadi permintaan bunda. Yang menjadi titik balik untukku, kembali.

“Ya, nak. Apapun jawaban dari surat rahasia itu, kau tetap anak bunda. Sedikitpun bunda tak akan meninggalkanmu.”

Aku peluk erat tubuh bunda, lama, meski telepon masuk dari handphone-ku dan sebuah lagu mengalun.

hari ini aku di sini
berjuang untuk bertahan
padamkan luka dan beban yang ada
yang tlah membakar seluruh jiwa
kucoba resapi kucoba selami
segala yang tlah terjadi
ku ambil hikmahnya
rasakan nikmatnya
dan kucoba untuk hadapi

I will survive, I will revive
I won’t surrender and stay alive
kau berikan kekuatan
untuk lewati semua ini

hari ini kan kupastikan
aku masih ada disini
mencoba lepaskan, coba bebaskan
segala rasa perih di hati
kucoba resapiku, coba hayati
segala yang tlah terjadi
ku ambil hikmahnya, rasakan nikmatnya
dan kucoba untuk hadapi
and I will survive, I will revive
I won’t surrender and stay alive
kauberikan kekuatan
‘tuk lewati semua ini

Engkau slalu ada
di saat jiwaku rapuh, di kalaku jatuh
and I want you to know
that I will fight to survive,
I will not give up, I will not give in,
I’ll stay alive for you… for you… for You…

I will survive, I will revive
I won’t surrender and stay alive
I will survive, I will revive
getting stronger to stay alive
kau berikan aku kekuatan
‘tuk lewati semua ini

I will survive, I will revive
getting BIGGER… bigger than life
Engkau Yang Esa, Yang Perkasa
You give me reason to survive

Sebuah nama tertera di layar: Teman-ku

01 Desember 2013
Kamar1253
Hari AIDS Se-Dunia

kunjugi: http://inspirasi.co/forum/post/1430/kembali_bertahan

0

Ku Rasa Tapi Tak Kau Rasa


dari matamu menerbitkan kegelisahanku

tak kutemukan lagi bingkai senyummu

tak kudapati suara manja dan selalu terdengar merdu

yang biasa kau singgahi dipenghujung rinduku padamu

 

hendak kemana kau hempaskan jiwa lelahmu?

tak bisakah sedikit kau peluk waktu yang kumiliki

tuk sekedar kudengar gerimis hatimu yang pilu

atau menemanimu merintih dalam duka yang kau tanam sejak dulu?

 

aku di sini

meski matamu menjauh

dan ragamu hanya serupa bayang

 

aku di sini

walaupun tak kau hendaki

dan meski genggamku tak pernah kau rasai

 

ku rasa dekat, lalu kau hilang

meski tak kau rasa, ku tak akan pernah hilang

 

kamis,28112013

hujan1854

0

Pada


pada angin, kutemukan tasbih-Mu berdenting menyentuh relung jiwaku

pada rerumputan, kudapati tahmid-Mu mengaliri dinding hatiku

pada sungai yang beriak, kuperoleh takbir-Mu menggema didasar  kalbuku

pada malam yang sempurna, gemetar lisan ini menyebut-Mu dalam bismillah

pada cahaya, kurasai hamdalah melesap ke ruang batinku

 

pada-Mu, betapa syukurku masih saja tak seluas nikmat-Mu

 

selasa, 19112013

cibalung1542