Kembali = Bertahan (Sayembara Menulis Berdasarkan Lagu I Will Survive -Bondan Prakoso)


Ketika separuh hatimu telah membeku, membatu oleh semua kejadian yang menyakitkan dalam hidup, atas protes terhadap takdir buruk yang seolah enggan pergi ,hendak di bawa kemanakah separuh hatimu yang lain? Yang mungkin hampir larut bersama kebekuan sebelah hatinya jika saja kesadaran terlambat datang?

Tiga bulan setelah lama tak bertemu.
Aku, akulah separuh hati yang hendak kembali. Setelah kularungkan separuh hatiku pada laut, yang telah terbawa ombak besar dan menghilang dengan sempurna.

“Kau tak akan pernah bisa kembali, teman. Harusnya kau lihat mereka yang katanya akan meninggalkan jauh-jauh setelah menikah, nyatanya? Ya, mereka memang kembali, tapi bukan kembali seperti keinginanmu, melainkan kembali dengan keinginan mereka yang sudah mereka usahakan untuk ditinggalkan.”

Aku hanya sesekali menatapnya. Di sebuah taman kota. Di kursi panjang yang tak ada satupun kursi di duduki selain aku dan teman-ku yang sudah terlanjur berbicara serius tentang kita: makhluk-makhluk terbuang yang separuh hatinya telah mati.

“Jangan kau samakan aku dengan mereka. Jika setelah menikah mereka tetap tidak berubah, maka aku akan berubah meski aku tidak menikah.”

Aku membantah dengan suara mantap. Teman-ku tersenyum merendahkan. Mungkin menganggap aku sedang bermimpi sehingga apa yang aku ucapkan barusan tak lebih dari sekedar mengigau.

“Jika yang menikah saja tak mau kembali, bagaimana dengan kau yang sendirian? Lantas, kemana kau akan salurkan keinginan di bawah perutmu itu? Hahaha_”

“Hari ini tepat tiga bulan aku kembali. Aku hanya berharap tetap bisa bertahan. Karena aku yakin pada SATU.” kataku sambil menatapnya dalam disela-sela tawa membahananya.

Kemudian ia bergegas pergi. Terbang setelah merapikan tas ranselnya yang telah dilekatkan dipunggungnya yang bersayap. Sayap hitam yang menurutku sangat buruk. Pernah aku memintanya untuk mengganti sayap yang lebih keren, teman-ku bukan berpikir atas saran baikku, dia malah memarahiku habis-habisan.

“Kau tak pernah tahu, tugasku mulia, mengingatkan orang-orang seperti kita untuk kembali. SATU tak pernah sedikitpun mengerti jiwa-jiwa yang telah diabaikan olehnya. Yang sengaja dengan kehendaknya, membuat kita menjadi begini.”

Bagi kami, yang hatinya telah sengaja dibuang, SATU hanyalah sekedar nama. Meski sedetikpun namanya tak pernah hilang. Aku sendiri, ketika aku sedang nikmat bercinta, dengan satu atau dua orang yang sama, namanya melintas walau hanya sedetik.

Surat rahasia yang sejak tadi aku genggam, menyiratkan bahwa ada SATU di surat rahasia itu. Petunjuk, mungkin. Tiba-tiba suara teman-ku kembali terngiang di telinga. Kata-kata yang terlontar darinya tadi, sesaat setelah aku menunjukkan kertas berisi rahasia.

“Kau ingat teman kita yang pernah kita jumpai di mall waktu itu, dia juga mendapatkan surat rahasia itu, tapi dia tetap bersama barisan, bedanya, sekarang ia pakai cara aman, setia dan lebih sering ingat SATU. Kau bisa melakukan sama seperti yang teman kita lakukan tanpa harus kembali, teman.”

Teman-ku tak terkejut saat aku sodorkan surat itu, toh ia sudah sering menerima dan membaca, tapi banyak si pemilik surat itu lebih memilih bertahan.

“ Kau jangan memandang sama aku dengan dia. Karena aku berpikir, ini saatnya.”

“Kita lihat saja, siapa yang bisa bertahan. Kau, atau separuh hati kau yang telah hilang itu.” katanya dengan nada menjengkelkan.

Aku sudah lama berteman dengannya. Hampir lima tahun. Tak perlu aku benci atau sakit hati atas ucapanya itu. Dia memang begitu, spontan dan terkadang meremehkan hal-hal yang dianggap dia tak penting.

Aku rasa, ia telah salah keyakinan. Menganggap kita sudah tak bisa lagi melawan takdir SATU. Sampai-sampai, temannya sendiri dianggap berbelok, salah jalan. Meskipun kita sendiri berada di jalan yang belok itu. Dan aku ingin meluruskan.

Ku lipat surat rahasia itu. Lalu melangkah ringan menuju rumah. Pulang.

 

Hari itu, ketika surat rahasia baru saja aku terima. Tiga bulan sebelum aku bertemu.

“Bunda, bunda siap memiliki anak lelaki yang separuh hatinya telah pergi?”

“Bunda, bunda siap menerima separuh hati anak lelakimu yang ingin kembali?”

“Bunda, bunda rela merawat anak lelakimu yang sakit ini untuk sembuh?”

Dalam peluh, ketika bunda yang saat itu sedang merapikan seprai kamarku, aku melangkah mendekatinya. Gemetar aku menyerahkan surat rahasia itu. Surat yang menjadi permintaan bunda. Yang menjadi titik balik untukku, kembali.

“Ya, nak. Apapun jawaban dari surat rahasia itu, kau tetap anak bunda. Sedikitpun bunda tak akan meninggalkanmu.”

Aku peluk erat tubuh bunda, lama, meski telepon masuk dari handphone-ku dan sebuah lagu mengalun.

hari ini aku di sini
berjuang untuk bertahan
padamkan luka dan beban yang ada
yang tlah membakar seluruh jiwa
kucoba resapi kucoba selami
segala yang tlah terjadi
ku ambil hikmahnya
rasakan nikmatnya
dan kucoba untuk hadapi

I will survive, I will revive
I won’t surrender and stay alive
kau berikan kekuatan
untuk lewati semua ini

hari ini kan kupastikan
aku masih ada disini
mencoba lepaskan, coba bebaskan
segala rasa perih di hati
kucoba resapiku, coba hayati
segala yang tlah terjadi
ku ambil hikmahnya, rasakan nikmatnya
dan kucoba untuk hadapi
and I will survive, I will revive
I won’t surrender and stay alive
kauberikan kekuatan
‘tuk lewati semua ini

Engkau slalu ada
di saat jiwaku rapuh, di kalaku jatuh
and I want you to know
that I will fight to survive,
I will not give up, I will not give in,
I’ll stay alive for you… for you… for You…

I will survive, I will revive
I won’t surrender and stay alive
I will survive, I will revive
getting stronger to stay alive
kau berikan aku kekuatan
‘tuk lewati semua ini

I will survive, I will revive
getting BIGGER… bigger than life
Engkau Yang Esa, Yang Perkasa
You give me reason to survive

Sebuah nama tertera di layar: Teman-ku

01 Desember 2013
Kamar1253
Hari AIDS Se-Dunia

kunjugi: http://inspirasi.co/forum/post/1430/kembali_bertahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s