Menulis Lukisan Luka


Haruskah ku tuliskan lagi luka-luka yang sudah sejak lama mengendap dalam jiwa?

Masih pantaskah ku lukiskan kembali luka-luka yang semakin hari semakin benar adanya?

 

Dari bagian mana akan ku tulis semua lukisan luka yang setiap hari berdarah, bernanah?

 

Sebab mata terlanjur bercerita

Tentang kota yang semakin padat oleh berjuta manusia serakah penuh ambisi kaya raya

Tentang negeri yang terus maju pesat oleh para petinggi peraup bermilyaran uang panas hasil rekayasa

 

 

Sebab telinga sudah terbiasa mendengar dengan jelas dan nyata

Perihal prasangka yang terus dicekoki oleh berita-berita yang tak jelas asal-usulnya

Perihal umpatan yang tak malu lagi keluar dari mulut orang-orang yang mengaku saling bersaudara

 

 

Oooo… lelah aku menulis semua lukisan luka yang terlanjur mengotori mata, teling dan hati ini

Dan aku memilih duduk saja di depan tivi

Lalu menganggap semua yang nyata hanyalah mimpi belaka. Aamiin…

 

Depok, 28 Mei 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s