Catatan Kecil dari Novel Ke Film Bidadari-Bidadari Surga


Image

Setelah sukses mengangkat novel Hafalan Salat Delisa (HSD) ke layar lebar, kini novel besutan Tere Liye kembali di angkat ke bioskop yang berjudul Bidadari-bidadari Surga (BBS).

Film yang di sutradari oleh Sony Gaokasak (yang juga merupakan sutradara film HSD) akan rilis di bioskop Indonesia pada 06 Desember 2012 (link: http://www.21cineplex.com/bidadaribidadari-surga-movie,2983,02BBSA.htm )

Seperti karya-karya Tere Liye yang sudah banyak diketahui, cerita yang di angkat dari novel Bidadari-bidadari Surga mengisahkan kehidupan keluarga sederhana yang tinggal di Lembah Lahambay dengan berbagai konflik yang sangat menguras emosi dan menyiratkan pesan yang begitu dalam. BBS mengangkat cerita perjuangan seorang kakak bernama Kak Laisa yang diperankan oleh Nirina Zubir, dengan kondisi fisik tak sempurna. Digambarkan bahwa Laisa bertubuh gempal, pendek, hitam, rambutnya keriting, jarinya tertekuk, tangannya tidak bisa lurus sempurna, jalannya seperti robot. Namun, dibalik keterbatsan fisik, sungguh Laisa hadir menjadi sosok yang sangat berharga bagi keluarganya. Pengorbanan seorang kakak yang setiap hari bangun dini hari, membuat gula aren, menganyam keranjang, masak, mencari kayu bakar, apa saja yang bisa dia kerjakan, demi adik-adiknya sekolah.

Adik-adiknya, Ikanuri, Wibisana, Dalimunte dan Yashinta merasakan betul keberadaan kak Laisa. Kak Laisa yang rela meninggalkan bangku sekolah di kelas tiga demi membantu sang ibu, Mamak Lainuri melanjutkan napas kehidupan di kelurga mereka setelah kehilangan sang ayah. Dengan membangun perkebunan Kak Laisa tidak dalam semalam merubah lembah mereka jadi hamparan kebun strawberry. Dia tangguh dan gigih melakukannya–dan semata2 bukan demi dia, demi adik2nya agar punya cukup uang untuk terus sekolah.

Kak Laisa menjadi guru bagi adik-adiknya. Sosok tangguh yang mengajarkan hidup langsung dari kehidupan itu sendiri. Maka tumbuhlah Yashinta, adik terkecil yg paling disayangnya, yang menamatkan pendidikan tertinggi di bidang konservasi lingkungan. Lalu Dalimunte, yang tumbuh menjadi anak cerdas, ia membangun kincir 5 tingkat agar bisa menarik air hingga ke atas cadas (Itu versi novel, dan setelah konsultasi ke ahli sipil, ternyata mustahil melakukannya (waktu menulis sy tdk berpikir sejauh itu). Maka, dalam versi film, kincir airnya tetap satu, tapi Dalimunte merubahnya menjadi tenaga listrik, kemudian listrik itu jadi sumber tenaga pompa2 air, mendorong air hingga ke cadas atas. Maka, kampung mereka yang sering kekeringan, jauh dari mata air, sekaligus memperoleh air dan listrik) dan Dalimunte dewasa menjelma menjadi professor muda yang diacungi jempol.

Selain itu, ada dua sigung Ikanuri dan Wibisana. Dua jagoan yang sangat kompak dalam segala hal, termasuk menerobos huutan gunung Kendeng yang dikenal dengan cerita harimau buas yang suka memangsa masyarakat sekitar (dan ayah mereka salah satu korban hewan buas tersebut), dan Ikanuri dan Wibisana menjadi mangsa bagi hewan buas tersebut, lalu hadirlah Kak laisa, menjadi penyelamat dua sigung yang nakal tersebut menyelamatkan adik-adiknya yang akan di terkam harimau.

“Kak Laisa tak pernah terlambat bagi adik-adiknya, tak pernah terlambat sekalipun…”

Dalam film ini banyak sekali kaki-kakinya, ada soal sekolah, pengorbanan, konservasi alam, kasih sayang lingkungan, keluarga, anak-anak, termasuk persoalan jodoh bagi Kak Laisa.

Semoga hadirnya film BBS menjadi tontonan alternafif sekali bagi pengamat film maupun pecinta film Indonesia. Tak akan rugi meluangkan waktu dua jam lebih dan menyisihkan uang untuk film dengan tema cerita yang saya sangat menggemari novel Bidadari-bidadari Surga.

Seperti kata bng Tere Liye dalam facebooknya, “posisikan anda menjadi penonton bukan pembaca Bidadari-bidadari Surga ketika memutuskan menonton film BBS di bioskop.” Dan saya sepakat itu. Saya tak pernah menjadikan berhasil atau tidaknya sebuah film yang diangkat dari novel ke film sebagai penilaian secara keseluruhan akan bagus atau tidaknya film tersebut. Yang saya pahami adalah film yang bermoral jauh lebih bermartabat dibanding film yang hanya sekedar menguras air mata hanya karena persoalan cinta antar sepasang remaja. Dalam BBS, kalian akan temukan cinta lain yang lebih suci, murni dan sejati.

Dan saya termasuk penggemar novel Tere Liye sangat menunggu film ini yang akan segera rilis 06 Desember 2012. Pesan saya, “Tandai tanggal tersebut (kalau perlu lingkari dan buat note di hp anda), luangkan waktu, sisihkan uang, jika berjodoh, datanglah ke bioskop terdekat, tonton dan nikmatilah filmnya…”

 

*saya banyak me-repost catatan-catatan di Facebook Darwis Tere Liye (Penulis Novel Bidadari-Bidadari Surga).

 

14 November 2012

 

update terkait film bisa kunjungi:

Twitter: @Bidadari2Surga

FB Film: Bidadari-bidadari Surga The Movie

FB Penulis Novel: Darwis Tere Liye

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s