Kurban Terindah


Anwar menatap jeli deretan tanduk kambing yang memenuhi kandang dadakan di depan sekolahnya. Ada seekor kambing yang sejak kemarin ia perhatikan. Sangat menarik hati.

“Wak, yang tanduknya paling panjang ini berapa harganya, Wak?”

Anwar mengelus-elus tanduk kambing berwarna cokelat pekat. Sesekali mulut moncong kambing yang dipegangnya mengambil rumput dan daun-daun hijau segar.

“Yang itu harganya dua juta setengah, tong. Kenapa? Mau kurban ya?” tanya Wak Didin, penjaga hewan kurban spesial lebaran haji.

“Insya allah, Wak.” Jawabnya sambil terus mengelus bulu-bulu lebat yang dimiliki kambing dengan berat duapuluh kilo disampingnya.

Empat hari lagi lebaran haji. Sebenarnya kegelisahan hati Anwar yang sekarang masih duduk di kelas lima esde sudah terjadi sejak sebulan yang lalu. Tepatnya saat Abdi, teman sekelasnya yang memang duduk sebangku dengannya memberitahu bahwa Abdi akan kurban saat idul adha nanti.

“Ayah udah nyiapin kambing paling mahal, War. Katanya sih dihadiahin khusus ulang tahun gue yang tepat jatuh pas lebaran besok.”
Saat itu Anwar sangat antusias mendengar cerita Abdi. Empat hari setelah Abdi menceritakan kegembiraannya, kambing yang disebut-sebut paling mahal itu benar-benar nyata. Anwar orang pertama kali yang diajak ke rumahnya untuk melihat. Dan benar saja, kambing kurban Abdi yang ia lihat persis dengan kambing yang barusan ia tanyakan ke Wa Didin. Bedanya, kambing milik Abdi lebih besar, tinggi dengan bulu yang lebih lebat. Makanya, ia nanya berapa harga kambing yang dijual Wak Didin.

“Ajak bapak lu kemari. Minta beliin!”

Anwar hanya bisa mengangguk.

Kalau saja bapak sudah pulang dari merantau di Malaysia, pasti bapak juga membelikan aku hewan kurban…

***

“Bu, mulai besok sore, Anwar mau nginep di rumah Abdi ya, Bu.”

Ibunya yang sedang menggoreng telur mata sapi menatap anaknya yang sedang bersandar di bibr pintu dapur.

“Tumben kamu mau nginep di rumahnya?” tanya Ibu selidik.

“Besok kan udah libur sekolah, bu. Lagipula, ayahnya Abdi udah ngizinin Anwar buat bantuin jagain kambing kurban Abdi. Boleh ya, Bu?”

Ibunya mengelus kepala anak lelaki satu-satunya itu dengan lembut.

“Iya,boleh, nak.”

Ia tahu perasaan Anwar. Setiap kali ia menceritakan kambing kurban termahal milik Abdi, matanya selalu bersinar.
“Tanduknya itu loh, bu, panjang, mengilat kalau terkena sinar. Belum lagi bulunya lebat dan bersih, warnanya hitam seperti sepatu pak kepala sekolah yang baru disemir. Ibu bisa tebak berapa harganya?” tanya Anwar mencoba bermain tebak.

“Pasti sejuta?” tebak ibu.

“Lebih dari itu, bu!” serunya sambil menggelengkan kepala.

“Dua juta?” tebak ibu lagi sambil mengaduk aronan nasi. Ketika Anwar menanyakan itu bertepatan saat ibunya sedang menanak nasi untuk makan malam.

“Lebih!” katanya lantang. “Empat juta, bu…” sambungnya sebelum sang ibu membuka mulut.

“Subhanallah, pasti Abdi senang sekali ya.” Timpal ibu. Sebenanrya ibu sudah bosan mendengar lagi cerita Anwar yang sudah diceritakan anaknya berulang-ulang. Terhitung sudah empatbelas kali.

“Makanya kamu doain bapak rezekinya lancar agar kamu juga bisa beli kambing seperti Abdi, ya?”

Hanya itu senjata pamungkas yang bisa ibunya katakan. Sebab, setelah anak terkasihnya bercerita, mata anaknya itu mengguratkan keinginan besar untuk berkurban.

“Anwar selalu berdoa agar bapak bisa mengirimkan kambing mahal dari Malaysia ke sini.”

***

“Di, kambing lu nanti mau dipotong dimana?”

Sore baru saja beranjak saat kedua sahabat itu sedang berjalan menuju tanah lapang sambil menuntun si Raja (Abdi menamakannya begitu) untuk memberi makan sore. Dipinggir-pinggir lapangan rumput ataupun tanaman lain subur menghijau. Mereka beberapa kali hampir saja terbawa si Raja. Tenaganya super kuat. Ayahnya Abdi mengikuti dari belakang yang berjarak sekitar sepuluh meter.

“Kata ayah sih mau di potong di sini saja. Lagipula kan, gue juga pingin lu lihat Raja dipotong. Gue makasih banyak ya lu udah mau bantu gue ngurus si Raja.”

Jatah hidup si Raja tinggal terbilang hari. Lusa kambing kesayangan Abdi (yang diam-diam Anwar juga menyayanginya) akan disembelih. Mengingat dua hari mengurus si Raja membuat Anwar senang. Walaupun ia tidak ikut berkurban tahun ini, tapi paling tidak dengan ia membantu mengurusi Raja, ada andil yang ia berikan untuk lebaran haji sekarang.

“Pasti gue bakal kangen mandiin dan kasih susu si Raja, Di.” Katanya sambil tertawa renyah.

Kebersamaannya dengan Abdi dan si Raja diam-diam membuatnya iri. Iri dalam artian ada keinginan yang semakin membuncah di dalam dadanya. Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa berkurban tahun depan.

Selepas mereka mengembala dan si Raja terikat kuat di badan pohon depan rumah Abdi langkah Anwar terhenti ketika Abdi memanggilnya sambil berlari mengejarnya yang sudah di depan garasi.

“Ini celengan gue kasih buat lu. Ayah yang beliin. Gue juga dapat. Kata ayah, nabung sejak sekarang, niatin tabungannya buat beli kambing tahun depan. Gitu pesan ayah.”

Anwar memeluk celengan kaleng besar bergambar spiderman.

“Makasih ya, Di.” Katanya sambil menahan rasa bahagia. Ia tak menyangka ayah Abdi menghadiahi.

“Seharusnya gue yang kasih hadiah ke lu, Di. Kan lu yang mau ulang tahun.” candanya.

“Ah, dengan lu bantuin gue jaga Raja udah jadi hadiah terbesar buat gue, War.”

Mereka saling melempar senyum. Si Raja mengembik. Sepertinya sudah kenyang.

***

“War, bangun nak, sahur.” Suara ibu membangunka tidurnya sambil mencubit lembut pipinya. Suara pengajian dari corong musholah terdengar samar. Ia menatap jam dinding. Jam setengah empat.

“Iya, bu.” Jawabnya sambil mengerjapkan mata dan duduk di sisi ibunya yang mengenakan mukena.

“Ibu masak apa?”

“Telur mata sapi. Kan itu menu favorit kamu.” Kata ibu sambil menuntun tangan anaknya keluar kamar.

Ibu sudah membiasakan Anwar untuk puasa arafah sejak ia masih kelas tiga. Ibunya selalu menerangkan betapa besar ganjaran pahala bagi yang menjalankan.

“Disaat jamaah haji di Mekkah sedang berjuang menunaikan rukun haji, apa salahnya kita berpuasa untuk menghargai pengorbanan mereka di sana.” Terang ibu setiap tahun, seperti sahur saat ini. Dua telur mata sapi sedang dilahapnya.

“Dan pahalanya diampuni dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Ya kan, bu?” kata Anwar menambahkan.

“Anak jagoan ibu sudah pintar ya… Ya sudah, habiskan makannya ya.”

“Bapak pasti sedang sahur juga ya, bu?” tiba-tiba ia teringat bapak.

“Iya, nanti malam kita telepon bapak ya.”

Ia mengangguk senang. Ia akan bilang ke bapak bahwa mulai saat ini ia akan menabung beli kambing untuk kurban tahun depan.

***

Sebenarnya selepas salat zuhur di musholah, ia mau ke rumah Abdi. Memberi makan kambing mahal milik sahabatnya itu untuk yang terakhir kali. Meskipun sebenarnya besok pagi pun masih bisa sebelum penyembelihan. Tapi entah kenapa ia ingin sekali melihat Raja. Kangen dengan tanduk kerennya. Ia sempat bilang ke Abdi, ia meminta tanduk Raja kalau si kambing mahal itu sudah dipotong.
Langkahnya terhenti beberapa meter sebelum ia sampai rumah Abdi. Mobil bak terbuka keluar dari garasi rumah Abdi yang berisi si Raja. Tak salah lagi, itu Raja. Tanduknya yang terkena cahaya matahari mengilat terang. Lagipula, kambing mana lagi yang keluar dari rumah Abdi kalau bukan si Raja. Ia menatap Raja yang sudah terangkut mobil hendak melintas dihadapannya. Ia melambai-lambaikan tangan ke arah sopir.

“Bang, kambing ini mau di bawa kemana?” tanya Anwar penuh rasa ingin tahu. Matanya tak henti-henti menatap Raja yang sedang duduk terkantuk-kantuk.

“Mau dibawa ke kota, dek.” Kata sang supir sambil terus melanjutkan kendaraan yang dibawanya.

Tubuh Anwar lemas. Ia berjalan gontai ke rumah Abdi. Pikirannya kalut.

“Eh nak Anwar, belum lama Abdi ke kota.” Kata Mak Inah, pembantu rumah Abdi.

“Ngapain Mak dia ke kota?” tanyanya dengan hati resah.

“Mak juga kurang tahu, nak. Soalnya tadi agak terburu-buru. Orang tuanya hanya bilang mau ke kota membawa si Raja.”
Harapannya pupus. Janji Abdi yang selalu ia ingat musnah. Ia tak bisa melihat Raja di sembelih. Ia tak bisa meminta tanduk si Raja. Apalagi Abdi berjanji akan berfoto bertiga sebelum Raja di sembelih. Jalan ke kota lumayan jauh. Dan ia juga tak tahu si Raja akan di sembelih dimana.

Padahal ditangannya sudah membawa sekarung kecil berisi rumput yang dicarinya tadi pagi untuk makanan Raja. ia ingin memberikan hadiah rumput untuk Raja. Langkahnya semakin surut. Yang lebih membuatnya semakin sedih, Abdi tak menyampaikan apapun kalau Raja akan di bawa dan dipotong di kota.

Hembusan angin membawa aroma kotoran hewan kurban menyerebak dihidungnya dari kandang kambing yang terdapat di warung Wak Didin. Ia mencari-cari sosok kambing yang memikat hatinya. Daripada rumput tak ada yang makan, ia hendak memberikannya pada kambing bertanduk cokelat pekat itu. Tapi nihil.

“Lu telat datang sih, kambingnya udah di beli, tong.”

Ia terkejut Wak Didin tiba-tiba sudah berada disampingnya.

“Padahal saya mau ngasih makanan rumput ini buat tuh kambing, Wak.” Katanya bersedih.

***

“Kamu kenapa, War?”

Ibu melihat anaknya yang sedang duduk di teras rumah dengan wajah sendu.

“Si Raja di sembelih di kota, bu.”

Matanya berkaca. Ibu mendekat dan duduk persis disebelahnya.

“Memang Abdi gak bilang dari awal kalau kambingnya akan disembelih di kota?” tanya ibu sembil merangkul punggung Anwar.

“Gak, bu. Padahal ia janji akan mengajak Anwar melihat si Raja disembelih…”

Anwar menarik napas. Sang ibu yang menatapnya hanya bisa tersenyum getir. Ia mengerti perasaan anaknya.

“Sudah, sudah, sekarang kamu istirahat sana. Kamu kan lagi puasa. Semoga Abdi gak lupa bawain kamu tanduk pesanan kamu ya.”
Ibu mencoba melapangkan hatinya. Anwar hanya bisa terdiam. Ia bangun dari duduk dan melangkah menuju kamarnya.

***

Allaaahu akbar. Allaaahu akbar. Allaaahu akbar… laa ilaaaha illallaaahu allaahu akbar. Allaahu akbar walillahil hamd…
Gema takbir sudah terdengar ke penjuru masjid selepas ashar. Anwar menjatuhkan pantatnya di kursi tamu. Ibunya sedang merebus ketupat. Letupan suara air panas yang mendidih berisi ketupat terdengar sampai ruang tamu.

Meskipun tinggal hanya berdua, ibu selalu memasak ketupat lebih. Karena biasanya banyak tetangga yang membeli ketupat matang buatan ibunya. Dan para tetangga sudah tahu kualitasnya. Padat, legit, dan selalu beraroma pandan. Karena ibu memasukan air rebusan bersamaan dengan beberapa helai pandan. Tugas Anwar mengantar ketupat pesanan tetangga. Dan ia selalu mendapatkan tip dari antarannya. Dan kali ini, tip antarannya bisa masuk celengan kurban.

“War, kamu mau buka puasa pakai apa?”

Ibunya yang keluar dari dapur masuk membawa ketupat matang di dalam baskom.

“Anwar mau es sari kepala, bu.”

Tadi siang ia melihat ada ibu-ibu membawa keranjang belanjaannya yang berisi sari kelapa. Dan itu membuatnya tergiur.

“Kamu antar ini ke Bu Ipun ya, pulangnya kamu beli sari kepala dan es batu. Ya?”

Ia mengangguk.

“Senyum dong, nak. Nanti kalau Bu Ipun melihat kamu dengan wajah asam seperti itu, ia bisa gak jadi ngasih kamu tip lho…”

Dipaksanya tersenyum. Dan ucapan ibunya memaksanya untuk berwajah manis. Sebab celengan kurban sudah menanti untuk di isi.

***

“Iya, Pak, Annwar sekarang sudah punya celengan kurban. Anwar isi tiap hari. Anwar mau berkurban tahun depan, Pak.”

Diujung telepon bapaknya mengangguk-angguk dan tersenyum mendengar keinginan besar anak satu-satunya itu.
Lantunan takbir menyeruak malam ini. Tak terkecuali di tempat bapaknya bekerja. Samar Anwar mendengar suara takbir dari telepon.

“Kalau uang celengan kurban Anwar cukup untuk beli tiga ekor kambing, Anwar akan belikan untuk Bapak dan Ibu juga!”

Kesedihannya terobati mendengar suara bapaknya. Tahun ini bapaknya kemungkinan tidak pulang. Bisanya selain dua hari raya, di akhir Desember menjelang tahun baru bapak pulang, tapi tahun ini tidak. Dan telepon menjadi pelepas rindu yang sangat berarti. Meskipun baru tahun ini bapak tidak kembali ke Indonesia, tapi tetap saja, lebaran idul fitri dan idul adha menjadi sangat berbeda.

“Iya, Bapak akan beli celengan juga di sini, buat nambahin beli kambing ya.”

Ibu yang duduk bersebelahan dengan Anwar mendengarkan sambil berkomentar ini itu. Dan menceritakan juga kesedihan yang dialami oleh anak semata wayangnya.

“Tahun depan kita beli kambing mahal seperti Abdi ya, nak.”

Bapak menutup obrolan dengan harapan baru bagi Anwar. Dan itu berarti keinginan besarnya kelak akan terwujud.

***

“Assalamu’alaikum. Anwaaar… Anwaar…”

Ia tahu benar suara salam itu. Abdi. Anwar berjalan ke teras rumah. Ia sudah bersiap ke masjid untuk salat id. Baju koko dan peci haji. Ibunya keluar kamar sudah rapi mengenakan mukena dengan sajadah di tangan.

Abdi menjemputnya untuk berangkat ke masjid bersama. Kalau ke masjid ia pasti melewati rumahnya. Dan tidak hanya saat salat id, ke sekolah, pengajian atapun ke masjid untuk salat magrib Abdi selalu menjemputnya. Ia yang sedikit kecewa atas kejadian kemarin membuka pintu rumah dengan perasaan sedikit mengganjal pada sahabatnya itu.

“Wa’alaikumussalaam…” jawabnya tak bersemangat.

“Ayo cepat, War. Kita ke tempat penyembelihan sekarang. Sebelum salat id. Kan kita mau foto bareng.” Seru Abdi menarik tangan Anwar.

“Di, tunggu sebentar. Bukannya si Raja sudah di bawa ke kota dan lu mau sembelih di sana?”

Belum sempat dijawab Abdi sudah menarik tangannya lagi.

“Si Raja gak jadi di bawa ke kota, Di?” tanya Anwar berkali-kali yang hanya dijawab Abadi dengan kata: “Cerewet lu”

“Ini dia raja kita!”

Abdi bersemangat memperlihatkan kambing… si tanduk cokelat pekat, kambing jualan Wak Didin!

“Yang bertanduk cokelat pekat kambing kurban lu, yang tanduk krem ini kambing kurban gue, War!”

Abdi masih berseru senang. Sementara Anwar tak bisa berkata apa-apa. Ia terkejut bukan main atas perkataan Abdi barusan.

“Iya, yang ini buat lu, yang ini buat gue!” kata Abdi menegaskan.

“Jadi… lu serius, Di? Ya Allaah… Alhamdulillaaah… Terus si Raja?”

Anwar langsung memeluk si tanduk cokelat pekat yang mengembik. Tapi ia masih mencari tahu keberadaan si Raja.

“Ini, raja sekarang jadi kambing kurban kita, War!”

Anwar beringsut memeluk Abdi. Ia tak menyangka sahabatnya melakukan hal yang tak ia pikirkan sama sekali.

“Makasih, Di. Entah gue harus balas apa.”

Anwar benar-benar terharu.

“Iya, War. Sama-sama.”

Anwar melepas pelukannya.

“Ya udah yuk kita foto.”

Anwar menyalami orang tua Abdi berkali-kali. Mengucapkan terima kasih berkali-kali. Ayahnya sudah siap dengan kamera digital ditangannya.

“Satu… Dua… Tigaa… Ciiiisssss…”

 

***

Idul Adha 1433 Hijriah.
26 Oktober 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s