@_BakarKata


@_BakarKata: Jadilah pecandu ketika kau menulis. Hingga apapun persoalan yang kau tuangkan ketika menulis akan terasa nikmat. Maka menulislah…

            Dika baru saja me-retwitt sebuah kata-kata motivasi dari teman di twitternya. Ya, Dika memang sedang haus dengan motivasi dalam menulis. Sudah empat hari ini setelah ia mengikuti pelatihan yang diadakan komunitas penulis muda baru di kafe buku daerah Margonda Depok gejolak menulisnya menggebu. Berburu antara pikiran dan ide yang berloncatan di kepalanya. Meskipun bukan yang pertama ia mengikuti acara yang hampir sama, tetapi entah mengapa ia begitu bersemangat untuk menulis setelah pulang dari pelatihan tempo hari itu.

Semangat yak, bro! Terus menulislah!

Mata Dika terbelalak. Ia baru saja mendapatkan balasan dari @_BakarKata. Sebenarnya ia sudah berteman dengan si @_BakarKata dari dua bulan yang lalu. Dan ia juga lupa lupa mendapatkan akun itu dari siapa. Dika juga tak tahu apakah si pemilik akun itu seorang perempuankah, laki-lakikah, ibu-ibukah, anak kecilkah atau siapakah , ia tak tahu. Bahkan sempat ia mengira bahwa si pemilik akun adalah seorang yang sudah memiliki nama besar di dalam industri penerbit. Karyanya telah banyak tersebar di media masa. Sebab setiap kata yang keluar dari akun twitternya begitu memotivasi dirinya.

Dika masih ingat status twitternya tiga hari yang lalu.

@_BakarKata: sering2lah ke toko buku. Tak perlu membeli. Cukup tatap deretan novel2 yg berjajar rapi di rak. Bayangkanlah namamu ada diantara novel yg kau lihat. Maka saat itu juga menulislah…

Dika bergegas melangkah menuju rumahnya. Setiap Sabtu sekolah pulang siang. Jadi ia bisa lebih leluasa menuangkan idenya.

Langkahnya lebih cepat karena ide dikepalanya yang juga semakin deras meluncur memasuki alam pikirannya. Ada sebuah ide yang menurutnya brilian berputar di otaknya. Ide yang didapatkannya dari teman sekelasnya yang baru saja diteror oleh mantannya karena belum membayar utang yang dipinjam dari mantan pacarnya itu. Agar bumbunya lebih sedap, ia sudah merencankan ide segar lainnya. Ia sempat berpikir untuk memberi judul: Cintaku Di Kejar Hutang. Sebenarnya amanat yang mau sampaikan sederhana, hutang ya hutang, pacar ya pacar.  Atau hutang ya hutang, teman ya teman. Karena semakin banyak yang menganggap mudah sebuah hutang. Karena saudara atau teman, ketika jatuh tempo bayar hutang datang, dengan simpel nyeletuk dalam hati, ahhh sama saudara ini… gampanglah…

Setelah menyalakan komputernya jemari yang sudah gatal seolah meminta untuk segera digaruk. Sebuah layar putih terkembang. Judul di sisi atas sudah ditulisnya. Dadanya bergemuruh. Ingin segera meluncurkan kata-kata mujarab untuk memulai tulisannya. Sebuah cerpen yang akan dikirim ke sebuah majalah ibu kota.

Empat detik. Semenit. Jemarinya kaku. Matanya masih menatap layar yang kosong. Hanya sebaris judul yang menggantung di sisi atas kertas. Buntu. Semua ide yang berloncat-loncatan seolah terbang.

Aaaarrrrgggggghhhhhh…

Diacak-acaknya rambutnya. Dika mengulangi lagi kebuntuannya seperti dua hari yang lalu. Saat dia baru memulai cerpennya yang berjudul Tiga Mata Berkaca. Dan sampai sekarang belum selesai. Sebuah cerita yang mengajarkan bagaimana seorang gadis yang memelihara kucing hitam bermata satu. Mata sebelah kucing itu telah buta karena hal yang tidak gadis ketahui. Dari cerita itu gadis begitu mencintai kucing hitam itu. Meskipun ibunya selalu melemparkan kucing kesayangannya ke halaman rumah bila ketahuan berada di dalam rumah. Sampai akhirnya sang gadis menderita sakit karena ia terlalu dekat dengan kucing hitam itu. Disitulah ketiga mata bertemu. Matanya dan mata kecil kucing hitam itu berkaca. Disaat si kucing hitam harus dibuang dan sang gadis tak berdaya sebab tubuhnya yang lemah terbaring di ranjang.

Diraihnya handphonenya. Dibukanya twitter. Dua puluh tiga menit yang lalu akun yang dicarinya baru meng-update status.

@_BakarKata: tulislah hal yang dekat denganmu. Tentang sekelilingmu. Atau tentang dirimu. Bebaskan. Mengalir saja. Sebab sesuatu yg berasal dr hati jauh lebih membuatmu terpuaskan. Menulislah!

Retwitt digulirkan. Ia mengangguk-ngangguk sendiri membaca tulisan itu. Ia kembali melayangkan pandangan di halaman satu tulisannya yang belum ada satu katapun ditulis.

Tetap tak ada ide. Ia mengambil handphone-nya. Tak lama, @_BakarKata update status lagi, kali ini ia benar-benar terkejut,

@_BakarKata: @dika_takan bermimpilah kau memiliki 1 buku sebelum kau mati, teman. Lalu ikhitiarkan dengan baik hingga kau benar-benar mampu mewujudkannya. Ku tunggu karyamu berjejer di toko buku. Selamat menulis. J

Dika sudah sekuat tenaga memfokuskan diri untuk menulis. Tapi yang ada kepalanya sakit. Perut lapar. Mata ngantuk. Dan dalam sepuluh menit ia terpulas dengan kipas angin yang meyala tepat disampingnya.

***

“Lu kenapa sih, Dik? Gua perhatiin tiap hari bengooong terus? Gak di kelas, gak di kantin, gak di rumah. Gak sekalian bengong di kuburan?”

Dika menatap sekilat wajah Taro, teman sekelas yang masih sepupuan. Bapaknya Taro merupakan adik dari ibunya. Selain akrab di sekolah, ia juga teman baik di rumah.

“Tau nih, Tar. Gue juga pusing.” Keluh Dika sambil menyeruput es teh didepannya.

“Gue tahu lu mau jadi pujangga, jadi bawaannya ngehayaaal mulu. Tapi kalo kebanyakan ngehayal tanpa eksyen, nol besar.”

Dika sedikit tersinggung dengan ucapan Taro. Taro gak tahu kalau selama ini ia susah payah menyelesaikan satu cerpen. Perjuangannya memang gak pernah dilihat oleh orang lain. Tapi akan dibuktikan dengan terbitnya cerpen di sebuah majalah ibu kota.

Di satu sisi ia senang karena Taro tipikal orang yang to the point. Apa yang menurutnya ia gak suak ataupun mengganjal pikirannya, ia tanpa malu ataupun berpikir panjang, langsung ngomong. Tapi adakalanya, perkataanya kalau diucapkan pada moment yang gak tepat jadi terdengar sangat menjengkelkan.

“Entar malem gue ke rumah lu ya. Kan gue udah janji mau bantuin lu ngelukis.”

Dika mengangguk. Sebenarnya nanti malam ia ingin mengurung diri di kamar. Gak akan keluar kamar sampai pagi demi menyelesaikan sebuah cerpen. Tapi tugas lukis harus di kumpulkan besok. Ia menyerah soal gambar. Taro sudah sangat mengenal Dika sejak SD kalau ia paling malas berhadapan dengan buku gambar dan pensil warna.

“Eh lihat, Tar. Si bakar kata mention gue!”

Taro terkaget dengan histerisnya Dika. Ia menatap layar hp Dika dengan penasaran.

“Dia bilang, moment itu bukan ditunggu, tapi diciptakan. Seperti dalam menulis, ide itu bukan ditunggu, tapi ciptakanlah ide. Maka tulisan akan mengalir dengan derasnya.”

Wajah Dika begitu terpukau.

“Gue aneh sama lu, Dik. Tiap hari lu sering baca motivasi dalam nulis, tapi kenapa sampe sekarang satupun cerpen gak lu ciptain? Udah ah, yuk balik.”

Sekejap mendengar ucapan Taro ia bungkam. Ia tahu ngobrol dengan Taro tentang tulis menulis sama halnya dengan siap diludahi oleh Taro. Sebenarnya Dika bukan tidak pernah menghasilkan tulisan. Ia sering menulis puisi, curcol di note facebook. Tapi untuk mengasilkan satu cerpen ia sangat mengalami kesulitan. Dan omongan dari Taro barusan adalah kejutan motivasi terbesar bagi Dika untuk bisa menghasilkan tulisan. Sebuah cerpen.

***

Selepas magrib ia kembali menekuri layar hp-nya. Mencari jejak @_BakarKata berada. Pasalnya sejak sore Dika tak melihat ada kicauan dari si pemilik akun itu. Setelah layar monitor laptopnya menyala, ia kembali menyusuri layar kosong dihadapannya. Menatap dua puluh enam huruf di keybord. Hanya dua puluh enam huruf tetapi untuk menghasilkan satu cerpen sangat sulit.

@_BakarKata: bukan karena tak bisa, tapi tak pernah mencoba. Sebaris kata yang bermakna jauh lebih hidup daripada berjuta kata hanya menghasilkan kesia-siaan.

Dika menarik napas dalam-dalam. Sebuah twitt yang sangat menginspirasi menuut Dika. Suara lantunan ayat suci terdengar dari kamar orang tuanya. Sang ibu tiap maghrib memang rutin mengaji. Suaranya meskipun tidak merdu tetapi bagi Dika sangat menenteramkan. Ayah belum pulang dari kantor. Biasanya jam delapan. Atau paling cepat selepas isya. Sedangkan adiknya yang berusia delapan tahun, Zulfa, sedang sibuk mengerjakan PR di meja makan.

“Assalamu’alaikum…”

Taro yang masih bersaudara dengannya sudah menganggap rumah Dika merupakan bagian dari rumahnya. Ia langsung masuk ke kamar Dika.

“Nih lu udah terima beres dari gue.”

Dika menatap selembar kertas gambar yang sudah terdapat sebuah lukisan.

“Loh kan kita mau bikin bareng, kenapa jadi lu yang buat sendiri sih, Tar?” Dika menatap lekat lukisan dari Taro. Dan ia selalu kagum dengan hasil lukisan Taro.

“Udahlah, santai aja. Anggep aja ini traktiran ultah gue.”

“Apa? Lu ulang tahun, Tar? Oh my God, kenapa gue sampe lupa yaaaaa…”

Dika memukul-mukul keningnya. Saking sibuk dengan dunia tulis menulis, bahkan untuk mengingat ultah sahabat yang juga saudaranya sendiri ia lupa. Lalu ia memeluk Taro erat. Persahabatan yang telah dijalankannya sejak SD kini begitu terasa cepat.

“Dulu kayaknya kita masih pake merah putih ya, Tar. Sekarang lu udah tujuh belas tahun.”

Dika kembali memeluk Taro.

“Selamat ulang tahun ya, Sob. Sori gue belum beli kado buat lu.”

“Iya, bro. Gue harap kita tetap bersahabat sampai kapanpun ya.”

Dan di teras mereka menghabiskan malam dengan membuka kenangan masa lalu. Ditemani sekoteng yang kebetulan melintas di depan teras rumah.

“Ingat Dik, setiap hal apapun kalau kita sungguh-sungguh, inspirasi itu selalu datang tanpa menunggu mood dulu. Kalau gue gak sungguh-sungguh apalagi sampai nunggu mood, mungkin gue gak bisa ngelarin lukisan buat lu itu. Gue cabut yak. Besok kan kita sekolah lagi. Jangan sampe lupa gak di bawa tuh lukisan”

“Makasih ya, Sob. Sukses ya.”

Hampir jam sebelas malam mereka baru mengakhiri obrolannya. Dan Dika bisa tidak tidur malam ini. Ia ingin membuktikan omongan Taro yang baru didengarnya tadi.

* **

@_BakarKata: bahkan hujan, debu dan angin banyak menginspirasi. Tak ada alasan untuk tidak menulis. Buat tulisamu bak model perempuan kelas dunia yang banyak mengikat mata lelaki yang menatapnya. Selamat menjadi model…

Hanya satu keinginan terbesar Dika malam ini, ia ingin memberikan kado terbaik untuk Taro. Sebuah cerpen tentang sahabat. Cerpen yang sebenarnya merupakan kisah mereka selama bersahabat. Ia meminta @_BakarKata untuk memaknai sebuah persahabatan. Dan Dika mendapatkan sebuah balasan.

@_BakarKata: Sahabat itu misteri. Bersiap-siaplah dengan kejutan yang kau dapatkan dari sahabat. Baik itu kejutan bahagia ataupun goresan luka. Dan tak akan habis sahabat memberikan warna dalam ceriamu, maka ceritakanlah…

Enam belas lembar dalam empat jam. Sebuah perjuangan. Dan ia merasakan bahwa benar yang dikatakan @_BakarKata bahwa menulislah yang dekat denganmu. Dan Dika tersenyum bahagia tiada terkira ketika ia berhasil menyelesaikan sebuah cerpen sampai titik akhir cerpen yang dibuatnya. Seperti seorang ibu yang baru saja berjuang melahirkan, lelah, tetapi indah.

***

Sepulang sekolah. Selepas mereka menghabiskan waktu sore sambil main basket, Dika mengeluarkan tumpukkan kertas yang berisi cerpen yang dibuatnya semalaman.

“Tar, makasih banyak ya atas semua yang pernah kita jalanin. Dan lu tahu gak, semalam gue nyelesein ini buat lu. Tolong lu baca ya.”

Dengan wajah berbinar Dika membuka obrolan.

“Serius, Dik?”

“Iya.”

“Waaah selamat ya, Dik. Pasti gue baca. Bakal gue kritik abis-abisan. Semoga lu semakin sukses ya. Makasih nih ya…”

“Iya, gue juga makasih banyak ya…”

“Sekarang keinginan terbesar lu apa, Dik?”

“Nulis.”

“Terus?”

“Nulis lagi.”

“Hmm, yang lain?”

“Gue mau ketemu si bakar kata.”

“Owalaa…  yang terpenting bukan siapa yang nulis, Dik, tetapi apa yang ditulis…”

“Setiap kata-kata dari lu membakar semangat gue buat nulis, bro.”

Maghrib setengah menit lagi. Dan mereka sangat menikmati kebersamaan mereka. Dika kembali menatap lekat layar hanphone-nya.

@_BakarKata: hal yang terindah tak sulit, bahkan sangat sederhana. Menulislah dari hal yang sederhana. Karena dari situ kedalaman makna kan terasa indah.

 

 

12 September 2012

Lepas malam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s