Guru Karbitan


“Bukan guru seperti kamu yang diinginkan negeri ini, Bu!”

Dengus Bu Sas setelah melihatku yang sedang duduk manis sambil memoles lipstik di meja kebesaranku. Meja guru yang lain tampak kosong. Biasanya, guru bidang studi jam segini memang sedang masuk kelas. Aku ada nanti jam ke tiga. Makanya aku masih asik aja memanjakan diriku di depan cermin bedak. Dan ternyata ada Bu Sas, guru BK. Tumben dia ada di kantor. Biasanya hanya bersemedi di ruangannya.

“Bu Sas yang cantik, tolong ya, guru itu perlu tampil maksimal agar murid yang diajar juga semangat lihat gurunya keren. Kalo tampang guru kayak ibu terus, bisa-bisa pada pindah kali yaaahhh”

Aku meliriknya sekilas. Memang, guru yang satu ini sudah sering usil mulutnya mengomentari setiap apapun yang aku lakukan. Persisnya sejak tiga bulan yang lalu. Dan kemarin saat aku datang ke sekolah memakai sepatu tinggi sepuluh senti dia abis-abisan ngomong di depan rapat mingguan perihal yang aku pakai.

“Bunyinya itu loh, pak, bu, kalo jalan terlalu berisik. Belum lagi gak sedikit murid-murid yang mengomentari sepatunya!” katanya saat itu.

Aku sih mesam-mesem saja. Dianya saja yang gak gaul. Gak ngikutin tren.

“Bu Ris, bukannya saya mau usil dengan apa yang ibu pakai. Ibu mau bergaya seperti apa saya gak peduli ya, tetapi tolong, tolong sekali, siswa disini jangan diajarkan untuk meniru yang ibu lakukan.”

Bu Sas langsung meninggalkanku yang masih menghias pipiku dengan bedak. Aku bangkit, mendekatinya dan menghadang tepat dihadapannya.

“Bu Sas, saya tekankan ya… gak pernah sedetikpun saya mau memberikan contoh yang tidak baik seperti yang ibu tuduhkan, saya melakukan ini agar setiap siswa yang saya ajarkan nyaman ketika berhadapan dengan saya dan tidak menganggap guru sebagai orangtua. Oke?”

Aku kembali melangkahkan kakiku ringan ke kursi tempat aku duduk. Aku melihat wajahnya sedikit menampakkan kemarahan yang tertahan. Ini balasan bagi orang yang mulutnya usil.

***

Tiap hari ada aja yang Bu Sas komentari tentang penampilan aku. Kali ini ia mengomentari rambutku. Dua hari yang lalu aku baru saja mengecat rambutku dengan warna cokelat tua. Dan lagi-lagi ia mengeluarkan hal pedas ketika rapat mingguan.

“Vika, siswi kelas enam C bilang ke saya kalau ia ingin mengikuti gaya rambut salah satu guru yang ada di sekolah ini. Ini bukan prestasi sama sekali bapak dan ibu sekalian. Kalau prestasi akademik boleh diikuti, tetapi ini? prsetasi apa yang bisa di nilai dari rambut yang di cat!”

Jelas pernyataannya itu mengarah padaku. Belum lagi ia sesekali mengarahkan matanya ke arah aku duduk. Sambil menatap sinis.

“Baiklah, masukan dari ibu saya tampung. Kita sebagai pendidik sudah semestinya memberikan contoh yang sebaik mungkin kepada murid. Apalagi kita mengajar SD. Keingintahuan mereka akan sesuatu hal sangat besar. Dan tugas kita adalah membimbing mereka untuk tetap dalam kebaikan. Saya bukan mengarahkan masalah ini pada satu guru saja. Ini berlaku untuk kita sebagai pendidik.”

Aku suka dengan pembawaan Pak Handi, kepala sekolah di tempat aku ngajar ini, ia sama sekali menghormati guru dan karyawan.

Selepas rapat Pak Handi, kepala sekolah , memintaku untuk bertemu dengannya.

“Boleh saya mengganggu ibu sebentar?”

Aku mengikuti pak Handi, sang kapala sekolah dari belakang menuju ruangannya. Ada apa ya, tumben sekali beliau memanggil.

“Sebelumnya saya mohon maaf.”

Aku sudah mengerti arah pembicaraannya.

“Begini, bu. Saya hanyalah menyampaikan keluhan dan masukan dari guru lain terkait sikap ibu dalam penampilan. Saya tidak memiliki hak untuk melarang ibu untuk melakukan ini itu. Tetapi seyogyanya saya yang juga merupakan pendidik di sini hanya ingin memberikan pengarahan yang terbaik demi terjaganya keharmonisan antara guru di sini.”

Pembawaannya yang begitu kebapakkan membuatku sungkan menatap wajahnya. Sedari tadi aku hanya bisa menunduk.

“Iya pak, saya mengerti. Sampai saat ini saya memang masih butuh tuntunan dan bimbingan dalam mengajar.”

“Tapi bu, dalam mengajar ibu tidak ada kesalahan apapun. Dan saya salah satu yang mengagumi cara ibu mengajar dan kedekatan ibu pada siswa disini.”

Pak Handi memotong kalimatku.

“Tapi memang belum lengkap rasanya jika kemahiran ibu dalam mengajar belum diiringi oleh sikap dan perilaku yang baik. Bukan berarti selama ini ibu tidak baik, hanya saja ada hal-hal yang perlu diperhatikan agar kita sebagai pendidik dapat memberikan tauladan yang baik dalam bersikap.”

Aku menelan semua masukan dari pak Handi.  Pasti bu Sas senang dan tertawa puas melihat aku dipanggil pak Handi.

“Terkait dengan rambut yang ibu warnai, saya tidak meminta ibu untuk mengganti lagi atau menghapusnya, jika memang ibu tidak ingin mengubahnya, ibu bisa mengenakan kerudung ataupun jilbab sebagai penutup kepala ibu.”

Mataku melotot. Memakai jilbab? Owalaaaahhh, memakai jilbab seperti bu Sas? Bisa-bisa dia yang kepedean merasa diikuti penampilannya.

“Baik, pak. Terima sakih atas nasihatnya.” Kataku sambil tersenyum.

“Silakan jika ibu ingin pulang. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk berbicara pada saya.”

Lega rasanya jika sudah keluar ruangan kepala sekolah.

“Kayaknya mau pak Handi nasihatin kamu seribu kali juga gak akan mempan. Lihat saja, sepatunya masih setinggi itu. Apalagi harus menghapus cat dirambutnya.”

Benar dugaanku. Bu Sas terlihat tersenyum sinis melihatku keluar dari ruangan pak Handi.

“Udah deh, bu Sas. Aku gak ingin cari ribut dengan meladeni omongan ibu yang cuma buang-buang waktu itu. terima kasih karena sudah repot-repot nasihatin saya. Saya duluan ya, bu… Assalamu’alaikum…”

***

Dari awal masuk di tempat aku ngajar, aku sudah berpikir matang-matang. Usiaku masih dua puluh dua. Aku masih suka jalan-jalan bareng geng-an kampus meski sudah bekerja. Belum lagi Dani, aku sering jalan dengannya tiap malam minggu. Meski statusnya bukan pacar, tetapi ia menaruh perhatian yang lebih padaku (begitupun aku sebaliknya). Sebenarnya sekolahku bukan sekolah islam, tetapi entah kenapa, jika aku melakukan tindakan yang berbeda yang menurut sekolah tak sesuai dengan peraturan yang sebenarnya ridak ada dalam peraturan tertulis, langsung saja nasihat ini itu.

“Kamu mau aku antar kemana sih, dek?”

Libur mengajar seperti hari ini memang paling asik jalan. Dan Dani selalu menjadi orang yang paling antusias untuk menawarkan diri. Ia bukan pekerja kantoran jadi bisa dengan mudah mengatur waktu. Jiwa pengusahanya sudah aku kenal sejak awal aku dekat dengannya di kampus. Dan saat ini ia punya usaha desain grafis sendiri yang sudah dikelolalnya saat masih kuliah.

“Biasa, guru comel komentarin penampilan aku lagi. Aku mau cari kerudung.” Kataku ketus sambil menjatuhkan pantatku di jok motornya.

“Kamu mau pakai jilbab, dek?” seru Dani yang lebih terkesan meremehkan. Ia sangat kenal aku. Jangankan untuk pakai jilbab, di suruh salat saja aku sering nolak.

“Iya aku pakai jilbab, kak. Tapi pas ngajar doang! Udah ah cepet jalan. Keburu panas nih.”

***

Ternyata kalau aku pakai jilbab cantik juga. Hmmm, bu Sas lewat deh. Apalagi dia sudah kepala tiga. Sudah keriputan. Aku yakin aku akan jadi bahan pembicaraan seantero sekolah. Tadi pagi saja orang tuaku dan Dani terkesima melihat aku pakai jilbab. Dan benar saja, siswa yang aku ajar langsung memelukku saat mereka melihatku berjalan ke kelas mereka. Dan yang paling histeris siapa lagi kalau bukan bu Sas. Histeris sinis saat melihatku sedang duduk manis di meja kerjaku.

“Wooow… ulah apa lagi yang akan kamu buat, hah? Semoga saja ini bukan kedok kamu untuk menutupi perilaku kamu buruk. Tetap saja aku gak simpati sedikitpun meski kamu udah menutup rambutmu dengan jilbab. Tapi aku tetap berdoa kok, semoga kamu istiqomah. Ya?”

Rasanya aku ingin menyumpal mulutnya dengan kertas. Sudah syukur aku pakai jilbab. Kalau aku pakai wig baru tahu rasa dia. Huh! Saat ini aku sedang tidak ingin meladeni omongannya. Lagipula sebentar lagi aku ada jam mengajar di kelas lima.

“Senang deh sekarang jadi alim. Drastis sekali perubahan kamu. Pak Handi ternyata mampu menggetarkan hatimu yaa…”

Kalau bukan karena aku harus masuk kelas, sudah aku tarik jilbabnya. Aku bangkit dari duduk tanpa sedikitpun melihatnya.

***

Sesampainya di rumah aku langsung melepas jilbab. Panasss… Gerahhh… Ini baru sehari, gimana seminggu, sebulan, setahun… Oh tidaak… Mana nanti jam dua aku harus mengajar les lagi. Oh iya, tempat kursus dimana aku megajar bimbel tak melarang apapun. Termasuk dalam penampilan. Lagipula, tak ada tuntutan untuk tampil baik di depan murid tempat aku kursus. Yang penting mengajar dan mengajar.

“Loh, dek. Mana jilbab kamu?”

Dani yang melihatku keluar rumah tanpa pakai jilbab heran.

“Aku kan bukan mau ngajar di sekolah, tapi di tempat bimbel. Yaa jadi aku gak pakai jilbab. Sudah ah jangan banyak tanya.”

Kalau aku sudah bicara ketus Dani paling malas untuk menimpali.

“Lagipula kak, aku gak mau kayak Sisi, kamu masih inget kan, teman sekelas kuliah dulu, sekarang kan dia ngajar, tapi lihat aja kelakuannya di facebook, twitter, berani banget posting foto-foto gak pakai jilbab, foto sama pacarnya lagi pelukan. Dan di rumah dia juga gak pakai jilbab. Iya kan? Mending aku kayak gini, gak munafik.”

Dani hanya menggeleng-geleng kepala sambil menstater motornya.

“Tapi benar kan?” tanyaku sengaja membuatnya makin malas menimpali ocehanku.

***

“Bu, bu guru!”

Aku mencari arah suara. Aku sempat menebak siapa siswa yang ada di hadapanku.

“Aku Ayda, bu. Kelas enam A.” Katanya histeris.

Ayda? Tapi kok dia pakai jilbab? Padahal baru tadi pagi ia memintaku untuk mengepang rambutnya ketika jam istirahat sekolah.

“Bu, jilbab ibu mana? Hmmm… dipakai kalau ngajar aja ya bu?” katanya lagi yang semakin membuatku menutup mulut rapat-rapat. Aku sama sekali lupa kalau ada siswa di tempat aku ngajar yang ikut kursus di sini.

“Iiiyaaa nak. Ka… Kaamuu cantik pakai jilbab.” Kataku mencoba mencairkan suasana.

“Aku kan juga ingin seperti ibu yang cantik pakai jilbab.”

Aku hanya bisa tersenyum kecut padanya. Pantas saja tadi pagi ia bertanya dimana aku membeli jilbab. Bagaimana cara memakainya.

“Kata pak Huda kan kalau siswi yang sudah menstruasi wajib berjilbab.”

Pak Huda guru agama islam di tempat aku mengajar. Entah kenapa kata-kata dari anak kecil sepertinya bisa membuatku merasa sesak. Tiba-tiba ada gumpalan malu yang menyerebak di relung hati ini.

“Ternyata menjadi guru itu susah…” bisikku dalam hati.

***

“Bu Ris gak ada berhentinya ya bikin ulah!”

Bu Sas sudah menghadangku di depan ruang guru.

“Maksud bu Sas apa ya?”

Pagi-pagi sudah bikin hati orang panas saja. Kalau bukan karena aku pengajar di sini, sudah dari kemarin-kemarin aku melabraknya. Bahkan aku bisa nekad melakukan tindakan yang akan memalukannya.

“Sudahlah, bu. Gak usah mencoba menutup-nutupi kelakuan buruk ibu. Saya sudah tahu penampilan ibu di luar mengajar. Pesan saya ya, jangan mengotori citra jilbab dengan melapas pakai seperti yang ibu lakukan. Apalagi ibu yang jelas-jelas seorang pendidik.”

“Heh, bu guru sok suci. Jangan sekali menilai penampilan orang dari luarnya aja ya, ibu ngaca dong, sudah benar belum!”

Emosiku benar-benar memuncak. Kalau bu Nin tak segera melerai sudah habis aku hajar guru BK  dihadapanku. Diantara guru perempuan yang ada di sini, bu Nin meski usianya sepantar denganku, ia cukup dewasa dan tenang.

Setelah kejadian itu siangnya sebelum aku pulang aku menghadap pak Handi. Ingin menyelesaikan perkaraku dengan bu Sas.

“Mulai besok saya mengundurkan diri sebagai pengajar di sini pak.”

Betapa terkejutnya pak Handi mendengar penuturanku. Sudah dari semalam aku memikirkannya. Ibu, bapak dan Dani hanya menyerahkan semua keputusan padaku. Toh aku juga masih mengajar di bimbel dan privat sambil mencari kerja lain.

“Apa tidak dipikirkan lagi bu? Ini terlalu terburu—buru menurut saya. Kan masih bisa dibicarakan baik-baik. Tenaga pengajar bahasa inggris seperti ibu masih sangat dibutuhkan di sekolah ini.”

Tatapan mata pak Handi menyiratkan penyesalan atas keputusanku.

“Mohon maaf pak. Ini keputusan yang menurut saya jauh lebih baik. Demi kebaikan siswa-siswi di sekolah ini juga, pak. Terima kasih telah banyak mengajarkan arti seorang pendidik buat saya. Saya sungguh beruntung bisa mengenal bapak. Seorang kepala sekolah yang sangat saya kagumi. Terima kasih, pak. Ini surat pengunduran diri saya. Mohon maaf jika selama saya mengajar di sini membuat banyak kesalahan.”

Aku pamit undur dan melangkah ke pintu keluar.

“Saya pribadi tetap membuka kesempatan ibu untuk kembali ke sekolah ini, kapanpun.”

Langkahku terhenti. Tapi aku tak membalikkan badan setelah pak Handi mengelurakan kalimatnya. Kalimat pengharapan agar aku tetap bisa mengajar di tempatnya.

Sebenarnya saya juga berat pak meninggalkan sekolah ini…  lirihku tanpa terasa bening air mata jatuh kepipiku.

“Bu Ris…

Bu Nin mengejar langkahku.

“Bu Nin… maafin saya ya kalau selama ini saya banyak salah sama kamu. Terima kasih juga kamu sudah baik sama aku selama aku ngajar di sini.” Kataku sambil memeluknya. Bu Nin nampak sedih. Ada seguk yang terdengar darinya.

Bu Nin melepaskan pelukannya.

“Apa gak bisa kamu bertahan dulu seminggu atau sebulan. Aku yakin semua akan menjadi lebih baik, bu.”

Guru kelas lima dihadapanku memang sangat baik padaku. Meski ia berjilbab, tetapi peringainya sangat sopan. Sejuk. Dan santun. Tidak seperti bu Sas yang selalu mengusik penampilan orang lain.

Aku kembali memeluknya. Kepuusanku sudah bulat. Aku mengundurkan diri.

“Doakan saya ya, bu Nin…” kataku menutup pembicaraan dan melangkah meninggalkannya yang masih terisak.

***

Aku kembali pada aktivitasku seperti tiga bulan yang lalu. Mengajar bimbel dan privat sambil terus melamar kerja. Meski tiba—tiba saja aku bisa kangen ke sekolah dan mengenakan kerudung. Karena sampai saat ini aku belum berani mengajar di bimbel dengan mengenakan jilbab.

“Dek, kamu kenapa sih sekarang mulai jarang mau aku ajak jalan? Begitupun ketika geng kamu minta nongkrong. Fani mengeluh karena kamu sekarang mulai jarang ngumpul dengan mereka. “

Dani yang tiap hari masih sering mengantar jemput aku ke tempat bimbel mulai melihat perubahan sikapku.

“Gak apa-apa, kak. Emang lagi malas aja.” Jawabku asal.

“Malas kok tiap hari.” Katanya sambil menyeruput teh yang aku buat. Sore hari di depan rumah memang enak. Sejuk.

“Kak, kakak kan tahu selama ini aku gak pernah berbuat yang aneh-aneh. Macam-macam yang bikin aku merasa berdosa dan menyesal, tapi kenapa hati aku masih aja gak tenang ya, kak?”

Aku mulai membuka obrolan. Dani teman yang asik untuk diajak bicara. Curhat.

“Contoh gak tenangnya?” tanya Dani mencoba mencari tahu.

“Tiap hari. Tiap kali aku berangkat ke tempat bimbel. Atau ketika kamu mau mengajak aku jalan.”

            Bahkan berdua denganmu saja aku mejadi gak tenang, kak…

“Kamu harus bertanya sendiri pada hati kamu, Dek. Kamu yang paling tahu perasaan yang membuat kamu gelisah.”

Aku memajukan bibirku beberapa centi. Kali ini curhat sama Dani tak asik. Mau minta saran malah dia suruh aku tanya balik ke hati aku sendiri.

“Antar aku ke rumah bu Nin yuk, kak.”

Dani melongo mendengar aku yang tiba-tiba mengalihkan pembicaraan dan minta antar ke rumah bu Nin. Sesampainya di rumah Nina, aku meminta Dani menunggu di ruang tamu sedangkan aku ngobrol dengan Nina di kamar.

“Saat ini bahasa inggris masih dipegang pak Handi. Beliau masih belum bisa mencari pengganti yang cocok sesuai kriteria beliau. Dan dia juga masih sering menanyakan kamu kok.”

Aku hanya terdiam. Bu Nin sepertinya melihat perbedaan dari wajahku. Ia mengenalku periang. Banyak ngomong, tampil rapi dan menarik. Tapi kali ini aku tak bisa menutupi persaaan yang mengganggku belakangan ini.

“Ya Nin, aku juga kangen mengajar di sana. Aku juga sering ketemu Ayda di bimbel. Banyak ngobrol dengannya. Ia makin cantik saja pakai jilbab. Padahal masih SD. Hehe.”

Nina tersenyum.

“Kan karena kamu juga ia akhirnya tertarik mengenakan jilbab.”

“Tapi aku sendiri yang lepas jilbab. Hiks…”

Aku tertunduk. Ada perasaan malu yang tiba-tiba kembali menjalar ke relung batinku.

“Ris, setiap kita kan memang diciptakan Allah mempunyai hati. Ketika Allah sudah menyentuh hati seseorang untuk mengenakan jilbab, tak ada yang bisa mencegahnya. Aku yakin sebenarnya sejak kamu pakai jilbab ke sekolah, Allah sudah menyentuh hatimu untuk mengenakannya. Tapi memang terkadang ada orang-orang yang dengan mudah merasakan nikmat berjilbab, tetapi tak sedikit yang harus berjuang untuk tetap mengenakan jilbab meski harus melewati lepas jilbab dulu, sampai akhirnya istiqomah berjilbab.”

Aku memeluk Nina. Aku menangis dipeluknya. Ada perasaan tenang yang selama ini aku cari. Kalimat Nina begitu teduh. Aku merasakan kedamaian yang tak tergambarkan.

“Mungkin dengan cara ini Allah menyentuh hati aku, Nin. Belakangan ini aku tak tenang keluar rumah. Entah perasaan apa yang aku alami. Ada malu yang membuatku berat melangkah keluar rumah.”

Aku menatap Nina. Ada bulir air mata yang jatuh di pipinya. Aku beruntung bertemu dengan Nina.

“Kalau besok aku menyampaikan ke pak Handi bahwa kamu akan mengajar bahasa inggris lagi di sekolah, kamu bersedia kan?”

“Tapi, Nin…”

“Sudahlah, aku yakin, semua akan menjadi lebih baik setelah ini. Pelajaran terbaik adalah belajar dari kesalahan masa lalu dan mencoab memperbaiki dan tak mengulangi lagi.”

Aku memeluknya lagi. Ada haru yang begitu dalam.

“Tapi bagaimana dengan bu Sas, Nin?”

Aku melepaskan pelukan dan bertanya ragu.

“Seiring berjalannya waktu pasti akan berubah. Ya?”

Aku mengangguk. Dan sebelum pulang aku meminjam jilbab Nina. Aku tak akan menunda lagi untuk memakainya.

“Jilbab yang dipakai dari dalam hati akan menampakkan aura yang menenangkan, Ris…” kata Nina setelah ia yang memakaikan jilbab ke kepalaku. Setelah rapi kami keluar kamar. Aku melihat Dani tertidur pulas di kursi tamu Nina.

“Ris, sepertinya Dani begitu perhatian sama kamu ya. Memangnya dia belum pernah menyatakan perasaan akan melamarmu?”

Wajahku bersemu merah.

“Kamu apa-apaan sih, Nin. Rese!”

Aku menyubit pinggangnya. Mendengar kami ribut Dani terbangun. Salting. Dan bingung melihat aku sudah mengenakan jilbab.

***

Dua hari kemudian aku mendapat kabar dari pak Handi. Ia yang langsung menelepon ke hp aku. Memintaku untuk ke sekolah siang ini.

Langkahku ragu menuju gerbang sekolah. Sebulan tak menginjakkan kaki ke sekolah sedikit banyak membuatku aneh. Sekolah sudah sepi. Hanya beberapa siswa kelas bawah yang masih menunggu jemputannya. Dan beberapa siswa laki-laki yang aku ajar datang menyalamiku.

“Assalamu’alaikum, bu Sis…”

Aku bersitatap dengan bu Sis ketika ia keluar ruang kantor dan aku hendak masuk. Aku beryukur ia menerima salamku dan mau menjabat huluran tanganku. Aku sebisa mungkin tersenyum paling indah padanya. Semoga ini awal yang baik untuk hubungan aku dengannya. Dan ia juga tak banyak bicara seperti yang sudah-sudah.

Aku langkahkan kaki ke ruang pak Handi. Ia menyambutku dengan histeris. Berkali-kali ia mengucapkan terima kasih.

“Saya harap bapak tetap membimbing dan menasihati saya untuk terus belajar menjadi lebih baik. Saya sadar tugas guru bukan hanya mengajar, tetapi mendidik. Dan itu butuh pengorbanan lebih. Terima kasih bapak masih memercayai saya untuk mengajar di sini.”

“Saya dari awal sudah yakin kalau ibu akan kembali lagi mengajar di sini. Jujur, anak-anak yang ibu ajari sering membandingkan cara mengajar saya dengan cara mengajar ibu. Dan itu membuat saya merasa bahwa ibu pantas mengajari mereka.”

Tak henti-hentinya aku bersyukur. Seperti kata-kata Nina yang sering disampaikannya padaku,

“Kesungguhan hati akan membuka jalan lebar untuk sebuah kesuksesan. Dan kegelisahan sumber bahaya jika tak segera dicari obat penawarnya. Teguhkan hati, Ris. Kita belajar bersama untuk terus bersungguh-sungguh dalam mendidik. Agar apa yang kita tanam, menuaikan kebaikan bagi murid-murid yang kita ajarkan.”

Aku keluar ruang pak Handi dan langsung memeluk Nina yang menungguku di ruang tamu kantor.

“Terima kasih, Nin… eh bu Nin. Saya akan bergabung lagi di sekolah ini.”

Tak henti-hentinya Nina bertasbih.

Aku mengarahkan pandangan ke arah luar pintu. Bu Sis sedang berdiri menatap aku yang sedang memeluk Nina.

“Semoga kita dapat bekerja sama ya, bu…”

“Bu Sis…”

Aku berlari memeluknya.

“Maafkan saya ya, bu… Ajari saya untuk menjadi guru yang baik.”

“Maafkan saya juga, bu. Selama ini mungkin cara saya yang salah dalam menasihati ibu.”

Langit cerah. Nikmat hari ini begitu terasa luar biasa. Di luar kelas, Dani sudah menungguku.

“Ris, dihadapan Nina dan bu Sis, izinkan aku untuk melamarmu. Aku menyangimu. Kamu mau kan menikah denganku?”

Belum sempat aku menjawab, aku sudah terbang tinggi. Allah sepertinya sedang menyentuh hatiku. Begitu lembut. Sampai-sampai aku terbuai. Dan aku yakin ini bukan mimpi. Ya, bukan mimpi.

16.24 sore

Ahad, 05 Agustus 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s