Fenomena Ar-Rahman


Di sebuah masjid. Di tengah-tengah kampung. Sebut saja masjid Al-Hidayah. Sudah menjadi hal yang rutin membentuk kepanitiaan Semarak Ramadan. Dengan harapan bahwa ramadan yang akan dilaksanakan meriah. Dan itu tak perlu diragukan. Bahkan sebelum pemerintah mengumumkan hasil rukyat yang biasa dilakukan dengan mencari hilal dibeberapa titik di wilayah negeri ini, masyarakat sudah mengambil langkah cepat agar tak memperoleh telur ayam sebab datang telambat ke masjid dan menduduki saf paling akhir.

Dan di malam ke enam, di saat saf makin maju pesat pada lima baris kebelakang, seorang jamaah berdiri sebelum salat tarawih dilangsungkan.

“Maaf pak, kalau bukan ustad muda yang kemarin menjadi imam, saya tidak mau melaksanakan salat tarawih di sini malam ini.”

Seluruh pasang mata jamaah lekat menatap Jufri, bapak berusia sekitar limapuluh tahunan itu dengan tatapan tak percaya. Apa urusannya kami kalau dia tak mau salat tarawih di sini? Toh tarawih ibadah sunah. Tapi pertanyaan yang penting, mengapa Jufri menyebut-nyebut ustad muda segala? Bagi jamaah yang malam kemarin tak ikut salat tarawih mungkin masih harus menerka-nerka siapa ustad muda yang Jufri maksudkan.

Pak Haji Badal, yang hendak menjadi imam pada tarawih malam ini berusaha tenang. Sedangkan jamaah wanita yang berada disamping kanan yang dibatasi oleh gorden mulai terdengar rusuh. Bunyi suara mereka seperti dengungan lebah. Maklum, jamaah wanita memang selalu lebih banyak ketimbang jamaah pria.

“Maaf pak Jufri, kalau bapak memang tak berkenan salat tarawih di sini, silahkan mencari masjid lain yang lebih bapak sukai. Kami tidak pernah memaksa jamaah untuk salat di sini.” Tutur Pak Haji Badal mencoba memberikan solusi terbaik agar suasana lebih tenang.

“Kalau boleh tahu, mengapa bapak tak ingin salat di sini?”

Sebelum Jufri mengambil melangkah untuk keluar masjid, salah satu pengurus DKM, Pak Husni, berdiri dan menghadap Jufri yang berada di saf ke tiga sebelah kiri. Berani benar Jufri berkata seperti tadi dan menjadikan salat tarawih tertunda, begitu kira-kira pikiran Pak Husni yang hanya ditelannya dalam hati.

“Karena ustad muda yang kemarin membaca surat ar-rahman. Bapak perlu ketahui, selama saya salat tarawih dari tahun ke tahun, belum pernah sekalipun ada imam di masjid ini yang ketika tarawih membaca ar-rahman. Dan ini seharusnya dipertahankan.”

Jufri benar-banar nekad. Entah apa yang ada dipikirannya. Baik ustad, haji, serta para petugas (karena tak semua yang menjadi imam adalah seorang ustad, haji, ulama) yang menjadi imam terkejut dan tersinggung dengan ucapannya barusan. Terutama imam hari ke satu sampai lima kemarin.

“Benar apa yang dikatakan Pak Jufri. Pembacaan surat ar-rahman jauh lebih stabil. Tidak terlalu cepat, tidak lambat. Dan terdengar begitu indah. Karena ada ayat-ayat yang diulang-ulang. Saya rasa tak berbeda dengan surat al-ikhlas yang sudah sering dibaca pada rakaat kedua.”

Meskipun tak berdiri, suara Pak Hadi yang menggelegar terdengar bahkan sampai ke jamaah wanita yang ada di pojok belakang. Anak-anak yang tadi berisik dalam sekejap diam tanpa diperintah.

“Tapi kan tidak semua petugas imam tarawih di sini hafal dengan surat ar-rahman.” kata Pak Husni mewakili hati para imam yang tidak hafal surat ar-rahman.

“Itulah pak pentingnya mencari imam yang tidak hanya fasih dan hafal pada surat-surat pendek di dalam juz tiga puluh saja, tetapi juga hafal dan fasih pada surat lain di dalam al-qur’an. Seratus empat belas surat Allah menurunkan untuk kita. Kalau perlu, surat Yaasin pun bisa dijadikan bacaan salat tarwih kan?”

Antara percaya dan tidak percaya, para jamaah hanya menelan ludah mereka. Ini bukan persoalan siapa yang benar siapa yang salah, tapi ini soal pemahaman yang selama ini hanya terpaku pada surat-surat pendek di dalam juz tiga puluh. Selama ini, setiap ramadan, Jufri sudah menahan untuk mengatakan hal itu, tetapi tak pernah ada waktu yang tepat.

“Baiklah, pak Jufri. Terima kasih atas masukan bapak. Sekarang kita mulai saja salat tarawihnya pak haji…”

Jufri keluar masjid dengan dada yang plong. Beban yang ada dipikirannya sudah terlepaskan. Sebenarnya ia tahu bahwa imam malam yang lalu adalah imam badal. Pak Ahmadi, yang seharusnya menjadi imam tak bisa memenuhi tanggung jawabnya dan ia meminta, ustad muda itu untuk menggantikan yang tak lain adalah anak dari kakaknya pak Ahmadi. Ustad muda itu bernama Syukur, saat ini masih pesantren di daerah Subang. Dan malam inipun ia sudah kembali ke pesantren. Jufri tahu banyak info tentang Syukur kemarin, selepas salat tarawih ia sempat mengobrol dengan Syukur.

“Menyiarkan ayat-ayat Allah bukan hanya dalam ceramah ataupun tausiyah yang sering kita dengar saat pengajian ataupun acara di televisi, tetapi juga saat salat, pak. Bukankah dalam keadaan salat posisi kita jauh lebih khusyu ketimbang saat kita amendengarkan dalam posisi yang lain?” terang Syukur pada pembicaraan malam kemarin. Dan Jufri sangat menerima penjelasan dari Syukur itu.

“Ayat dalam al-qur’an begitu melimpah. Begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Sekalipun jamaah tak mengerti, dengan dibacakannya ayat-ayat yang lebih bervariasi, mereka akan semakin familiar dengan ayat al-qur’an.”

Dan perkataan Syukur tak meleset. Pada malam ke lima itu, para ibu bertanya-tanya siapa yang menjadi imam. Mencari tahu surat apa yang dibacakan sang imam. Bahkan, para abege, disaat yang lain sedang salat tarawih, mereka malah asik update status di wall-wall fecebook.

“Subhanallah yaa… bacaan al-qurannya bagus nih imam. Dan ayat yang dibacanya juga keren. Dengernya bikin tenang”

“Kayaknya gue belum pernah denger deh nih surat yang dibacain si imam.”

“Salat tarawih malam ini mantap. Bacaan ayat al-qur’annya yang biasa diganti pake ayat al-qur’an yang lain.”

“Ya ampuun, kenapa si rahman dipanggil sih barusan.”

“Besok gue mau cari ah arti fabiayyi’alaairabbikumaatukadzibaan yang berkali-kali dibacaain pas tarawih tadi.”

Sampai di rumah, Jufri mengambil sajadah dan salat tarawih sendiri.

888

“Pak, kenapa bapak berani sekali sih tadi mengatakan itu ditengah-tengah jamaah?”

Isterinya Jufri menghampiri suaminya yang sudah berbaring di tempat tidur sambil menggenggam tasbih. Sepanjang di masjid isterinya jadi tidak konsen salat tarawih karena ingin segera bertemu suaminya dan menanyakan kejadian tadi.

“Bu, bapak mengatakan ini atas dasar yang kuat. Dan bapak rasa ibu setuju kan dengan apa yang bapak katakan tadi?” Jufri memandang isterinya dengan lembut.

“Iya ibu setuju, pak. Tapi tadi cara bapak kurang tepat.” Kata isterinya menatap lekat wajah suami tercintanya.

“Kalau tidak dengan cara tadi, bapak tak yakin pengurus DKM akan memikirkan dengan serius. Bapak kan cuma jamaah, jadi bapak hanya menyampaikan keinginan dan harapan sebagai jamaah di masjid.”

Isterinya tersenyum. Jufri menutup perkataannya dengan menyium kening isterinya penuh cinta. Walau bagaimanapun, isterinya tahu betul maksud suami tercintanya. Tak bermaksud menyinggung hati orang lain, hanya caranya saja yang terkadang kurang tepat.

888

Akibat perkataan Jufri semalam, malam ketujuh ini, imam tarawih, Pak Tris menjalankan tugasnya dengan perasaannya seperti ada beban. Perkataan Jufri tenyata mampu membuatnya sadar bahwa terlalu sedikit ayat al-qur’an yang dihafalnya. Pak Tris memang hanya menjadi imam saat salat tarawih saja. Kemampuan menghafalnya hanya sampai surat yang dipakai saat salat tarawih. Satu-satunya surat panjang yang dihafalnya hanya An-naba. Alhasil, saat tarawih malam ke tujuh ini ia hanya membaca surat An-naba sampai rakaat ke sepuluh, selebihnya kembali ke surat pendek.

“Ente salat di sini lagi, Juf?” tanya Dudung disamping Jufri selepas salat sunah ba’diyah Isya. Dudung teman ngobrolnya di warung nasi uduk tiap minggu pagi di luar ramadan.

“Iyalah, Dung. Mau salat di masjid mana lagi yang paling dekat, coba? Lagipula kan waktu itu ane cuma bilang gak mau salat pada malam itu saja. Jadi ya sekarang ane salat lagi disini. Salat tarawih di masjid pahalanya gede, Dung. Setahun sekali lagi. Sayang kalau dilewatin.”

888

Suami isteri itu bertemu lagi di ranjang. Kedua anaknya sudah menikah maka mereka hanya tinggal berdua di rumah.

“Bu, ibu dengar kan tadi Pak Tris waktu jadi imam, ia baca An-naba?”

“Iya, pak. Ternyata perkataan bapak dahsyat ya sampai membuat Pak Tris membaca An-naba” Isterinya menyandarkan kepalanya dibahu suami tercintanya

“Allah selalu bisa membolak-balikkan hati hambaNya, bu. Bapak bersyukur karena itu berarti meskipun mereka tersinggung, tetapi mereka menjadi punya keinginan besar untuk menghafal. Menjadi imam salat untuk isteri saja sudah berat, apalagi untuk jamaah yang jumlahnya jauh lebih banyak, bu…”

888

“Hebat panitia ramadan sekarang ya, memanggil imam tarawih dari luar setiap dua hari sekali. Yang ngajinya bagus. Hafalannya banyak. Jadi gak bosen ke masjid buat tarawih kalau begini terus nih.”

Para jamaah baru saja selesai salat tarawih. Sepanjang perjalanan pulang mereka membicarakan imam tarawih. Ini sudah malam ke tujuh belas. Saf lelaki yang lima baris tak berkurang sampai pertengahan ramadan ini.

“Gue jadi kangen ngajinya ustad Syukur. Surat ar-rahman yang dibacainnya waktu itu kayak terus kedengeran di kuping gue.”

“Kalau Pak Jufri gak ngomong mungkin imam kita tetap aja baca surat alhakumut sampai annas doang.”

“Sssttt, jangan ngomong gitu. Kita syukuri saja perubahan sekarang. Kita ambil positifnya aja.”

888

“Pak ada tamu” kata isteri Jufri sambil membuka pintu kamar.

Jufri yang sedang tilawah di kamar langsung menutup al-qur’annya dan menemui tamunya. Jam lima sore seperti ini Jufri biasa tilawah sampai menjelang berbuka.

“Ohh, bapak-bapak… Masya Allah… saya sampai terkejut didatangi bapak sekalian.”

Jufri menyuruh duduk lima pengurus DKM.

“Begini, Pak Jufri. Besok malam kan masuk malam ganjil. Sepuluh malam terakhir ramadan. Kami sengaja menemui bapak untuk mendiskusikan beberapa hal terkait kegiatan i’tikaf di masjid Al-Hidayah.”

Jufri mengangguk. Tapi ia masih belum mengerti ujung pembicaraan para pengurus yang ada dihadapannya. Jarang sekali ia diikut sertakan dalam kegiatan kepanitiaan ramadan. Lagipula, ramadan sudah masuk pertengahan.

“Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu kegiatan i’tikaf? Insya Allah saya pasti ikut seperti tahun-tahun sebelumnya.”

Mereka saling senyum.

“Mengingat perihal surat ar-rahman yang tempo hari dibacakan oleh ustad Syukur, maka pada kesempatan i’tikaf nanti, kami meminta bapak untuk menjadi…”

Jufri menatap bingung. Arah pembicaraannya masih belum fokus.

“Mohon maaf, bapak-bapak, saya ini masih belajar mengaji. Bacaan saya masih buruk. Apalagi untuk mengahafal al-qur’an. Saya rasa saya kurang pas untuk menjadi imam salat tahajud yang bapak maksudkan.”

Pengurus DKM saling tatap.

“Oh begini, pak. Maksud kami, untuk acara i’tikaf nanti, ada pengkajian surat ar-rahman selama sepuluh hari terakhir ramadan. Dan saya meminta bapak untuk…”

“Apalagi harus mengkaji, owalaaa saya tak bisa. Saya masih belum mampu, bapak-bapak sekalian.” Potong Jufri untuk yang kedua kalinya.

Kini giliran pengurus DKM yang bingung arah pembicaraan Jufri.

“Tunggu dulu, tunggu dulu. Ini harus diperjelas. Kedatangan kami ke sini bukanlah untuk membicarakan hal-hal yang bapak sampaikan tadi. Kami ke sini hanya ingin meminta bapak untuk menjadi koordinator kajian Surat Ar-Rahman setiap ba’da salat tarawih. Itu saja, bukan hal yang lain.”

Jufri tertunduk malu. Peci hitamnya beberapa kali dilepas pakai.

“Insya Allah yang akan mengkaji ustad Syukur, pak. Pemahaman beliau tentang agama tentu jauh lebih mumpuni dibanding ustad yang kita miliki di lingkungan ini.”

Jufri mulai tersnyum. Para pengurus DKM melemparkan balik senyuman ke arah Jufri.

“Dan insya Allah juga, setiap sebelum buka puasa selama sepuluh hari terakhir masjid akan menyetel pembacaan surat Ar-Rahman sampai azan magrib tiba.”

“Alhamdulillah… insya Allah, insya Allah saya siap menjadi koordinator kajian tersebut, bapak-bapak sekalian. Dan oya, saya minta bapak-bapak berbuka puasa di sini ya, sekalian kita ngobrol-ngobrol. Dari pada ngabuburit seperti anak muda sekarang. Bagaimana?”

Dengan sedikit malu dan sungkan, kelima pengurus mengangguk. Jufri masuk ke dapur meminta isterinya menyediakan menu berbuka untuk ke lima pengurus DKM.

“Semoga dengan memberi menu berbuka bagi yang berpuasa, menjadi bagian dari tanda syukur kepada Allah, dan bukan malah mendustakan nikmat yang Allah berikan. Aamiin.”

Fabiayyii’aalaa irabbikumaa tukadzibaan… Maka nikmat Tuhan-mu manakah yang kamu dustakan?

Depok, Kamis, 26 Juli 2012
00.13

3 thoughts on “Fenomena Ar-Rahman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s