Suara-suara Tak Bernyawa


Wajah majikanku belakangan ini jauh lebih kusut dari biasanya. Aku sadar, ia baru saja lulus SMK dan hendak mencari-cari kerja. Tapi bukan berarti ia mengabaikanku begitu saja. Membiarkanku berdebu tanpa sekalipun dilap ataupun dibersihkan dengan kemoceng bulu ayam. Belum lagi buku-buku yang berjejer di sini, memudahkan debu untuk mencari lahan. Alhasil, aku tak ubahnya sebagai pajangan kusam dari rumah tua.

“Aku semakin diabaikan.” Keluh si Ketika Cinta Bertasbih 1 yang semakin tampak tua bertengger di pojok sebelah kiri paling atas. Belum lagi solmetnya yang dibiarkan saja bergeletak disembarang tempat diantara buku-buku lain.

“Kalau aku bisa terbang, mungkin aku tak perlu jauh dari kembaranku.” Ketika Cinta Bertasbih 2 terisak. Ia tak suka diletakkan disebarang tempat karena ia suka dengan kerapihan.

Bayangkan saja, si Hidup Berawal dari Mimpi saja sekarang hampir tak pernah disentuh majikanku itu. Padahal ia dulu yang paling sering dibawa dan dipinjamkan ke teman-teman majikanku. Aku jadi merasa kasihan pada HBDM karena sering melamun.

“Bahkan kita sekarang jarang kedatangan teman baru. Padahal aku dengar si Aku, Kau dan Sepucuk Angpau Merah belum lama launching.”

Bidadari-bidadari Surga tiba-tiba ikut nimbrung. Ia mengeluhkan majikannya sampai saat ini belum juga membeli novel keluaran terbaru. Yang lain mengangguk.

Memang, dibandingkan aku, teman-teman yang menghuniku jauh lebih beruntung karena mereka memiliki peran yang besar bagi manusia untuk menjadi fasilitas mencari ilmu, membuka gerbang peradaban dengan membaca. Aku hanyalah sekedar tempat penampung. Aku ingat setahun yang lalu lelaki berkacamata yang sekarang menjadi majikanku membeliku di swalayan dimana aku dijual. Hatiku berbunga-bunga, karena aku yakin, majikanku itu seorang yang sangat gemar membaca. Sesampainya di rumah, ia langsung menyusun buku-buku baru ataupun lama di tubuhku. Aku semakin kegirangan sebab aku mulai punya teman baru. Dan kesemuanya baik hati. Mungkin karena mereka lahir dari tulisan-tulisan yang baik dan mencerahkan sehingga dalam tutur kata dan perbuatan mereka jauh lebih santun dan bernilai.

Catatan Hati Seorang Isteri dan Birunya Langit Cinta saling berpelukan menahan sedih. Dibandingkan CHSI, BLC hadir di rumah ini jauh sebelum CHSI dan aku ada. Sejak tiga tahun yang lalu. Dan ia masih ingat kalau BLC adalah hadiah dari sahabat majikanku.
Aku semakin sedih menatap Lontara Rindu, seminggu yang lalu ia baru saja jadi tamu di rumah ini, tapi baru dibaca setengah ia sudah diabaikan oleh majikanku. Statusnya hanya tamu, karena manjikanku meminjam dari temannya. Dan sampai sekarang ia belum dibaca lagi.

“Kenapa sih aku gak dipulangkan saja ke majikanku. Kalau memang tidak sempat baca ya kembalikan saja, masih banyak yang sedang membutuhkan aku yang mau membaca dibanding dia. Hiks.”

Itu buku baru, bagaimana dengan buku-buku lama yang juga berjejer di tubuhku ini? Negeri 5 Menara, Perahu Kertas, Ada Rindu Di Mata Peri, Ketika Mas Gagah Pergi, Hafalan Salat Delisa, dan lainnya hanya bisa tertunduk sedih meratapi nasibnya yang semakin diasingkan.
Di sudut ruang tamu, aku juga sahabat-sahabatku terbawa kesunyian. Meratapi nasib menunggu mukjizat agar majikanku kembali memikirkanku juga sahabat-sahabatku. Dulu ia rutin membersihkanku. Dijemur di halaman seminggu sekali. Begitupun buku-buku, mereka begitu bahagia ketika mereka berada di halaman depan rumah saat di jemur matahari jam tujuh pagi. Tapi kini, jangankan menyentuh, melirik kamipun majikanku enggan.

888

Tepat dua bulan aku dibiarkannya berdebu. Majikanku benar-benar tega. Aku tahu dia sekarang telah bekerja. Berangkat pagi pulang malam. Tapi kalau dia memiliki perasaan, seharusnya dia mengerti perasaan kami. Toh dia dulu membeli kami juga dengan perasaan.

Aku menangis histeris. Bukan hanya aku, tetapi juga penghuni yang mendiami tubuhku. Mereka berpelukan dengan derai air mata yang semakin membuat hatiku perih mendengarnya. Apa sih yang ada dipikiran majikanku itu sehingga membiarkan kami tak dibaca dan semakin lapuk dimakan waktu?

“Kita harus demo! Hal ini tak bisa dibiarkan! Majikan kita sudah benar-benar keterlaluan! Seharusnya kalau memang kita sudah tak dibaca olehnya, sedekahkan saja kita ke rumah baca yang layak. Itu jauh lebih bermanfaat daripada kita dibiarkannya seperti ini!” Nampaknya buku Palestine Emang Gue Pikirin! begitu emosional. Aku dapat mengerti perasaannya.

“Kau benar!”

“Ya kau benar kawan!”

Teman-teman yang lain saling bersahutan mendukung.

“Tapi apa yang bisa kita lakukan? Kita ini hanya makhluk yang terbatas! Kita tak bisa berteriak untuk menengur majikan kita!”

“Assalamu’alaikum…”

Seketika kami mengatupkan mulut sambil mencari-cari darimana suara berasal. Aku perhatikan majikanku tak memegang buku apapun ditangannya. Begitupun seorang gadis yang masuk dan duduk persis disampingku.

“Hey, aku disini…”

Ya ampun, ternyata suara dari dalam tas gadis teman majikanku. Tasnya memang bukan dari bahan kain tetapi dari anyaman, sehingga masih terlihat lewat celah-celah anyaman tasnya. Aku tersenyum ke arah suara. Karena aku tak tahu persis dimana letak buku berada.

“Aku Sepatu Dahlan!”

Penghuni tubuhku yang mendengar suara Sepatu Dahlan ikut memerhatikan. Mereka berpikir jangan-jangan ia akan jadi penghuni baru. Yaa minimal tamu.

“Haii, salam kenal ya…” seru salah satu suara dari majalah Nida dari pojok bawah. Si Nida edisi lama yang merasa telah kehilangan edisi berikutnya sebab majalahnya sejak dua tahun yang lalu sudah beralih ke majalah online. Aku masih ingat waktu awal-awal majalah Nida beralih ke majalah online. Seminggu lamanya puluhan majalah yang menjadi langganan majikanku itu tak henti-hentinya menangis.

“Ngomong-ngomong, kamu mau ngapain ke sini?” selidik PadaMu Aku Bersimpuh.

Nasibnya sangat kasihan, sebenarnya ia buku pinjaman. Namun, majikanku lupa mengembalikan ke si pemilik buku itu sehingga sampai sekarang, sudah hampir setahun ia masih mendiamiku.

“Aku juga kaget kenapa aku tiba-tiba ada di sini. Dan aku tak mengangka tenyata di rumah ini banyak juga teman-temanku.” Kata Sepatu Dahlan sambil terus mengintip dari celah tas anyaman manjikannya.

“Tapi kau beruntung, kawan. Tak seperti kami. Tiap hari kerja kami hanya melamun. Dan kau lihat sendiri kan, tubuh kami begitu kotor, berdebu. Sangat berbeda denganmu yang pasti masih bersih dan kinclong. Kau novel yang belum lama terbit kan?” Totto Chan si novel terjemahan yang selama ini banyak diam akhirnya mengeluarkan suara juga.

“Dan paling seminggu lagi nasib kau akan sama seperti kami. Ketika sudah bosan, tak ada lagi yang baca, kamu ditinggal dan hanya menghuni rak-rak di rumah majikanmu seperti kami ini.” timpal Ditaksir Ikhwan yang dianggukkan oleh Sejuta Cinta Di Sidney yang mereka sudah berteman akrab sejak dulu. Posisi mereka saling berdempetan sejak awal aku menjadi rumah tinggal bagi mereka.

“Kamu jangan salah pikir dulu, kawan,” Sepatu Dahlan mencoba meluruskan pemikiran kami yang keliru. “Aku ini baru saja dipinjam olehnya. Aku sendiri berasal dari taman baca masyarakat di daerahku. Aku disewakan. Dan dia yang menyewaku.”

Kami ber ‘o’ ria. Dan meminta maaf karena telah berpikir negatif terhadapnya.

“Tapi kau sungguh beruntung, meskipun kau buku sewaan, kau berada di tempat yang tepat. Rumah baca kan selalu dihadiri oleh orang setiap hari. Ada kemunginan untuk dibaca. Sedangkan kami? Di rumah ini hanya menjadi pajangan.” Melukis Cinta memelas.

“Jadi kapan kira-kira tim kamu mau datang ke sini, Lis?”

Obrolan kami terputus saat majikanku membuka pembicaraan dengan temannya. Aku masih menebak-nebak arah pembicaraanya.

“Insya Allah dalam dua hari kedepan. Karena saat ini mereka sedang mencari donatur. Insya Allah kalau uang sudah terkumpul, mereka segera kabari untuk membeli dan sekaligus membawa seluruh buku-buku ini ke tempat kami.”

Apa? Mau di beli? Untuk apa? Seruku dalam hati? Kalau semua buku-buku yang ada ditubuhku dibeli, bagaimana nasibku? Apa aku akan dijual lagi? Atau malah dibiarkan kosong dan semakin tak bermanfaat apa-apa?

“Ya saya tunggu kabarnya. Karena saat ini saya sudah sangat keteteran mengurusi buku-buku di rak ini. Belum lagi orang tua saya yang sering menegur untuk segera menjualnya.”

Setelah pembicaraan itu, kami tak banyak bicara. Diantara senang dan sedih kami mendengar pembicaraan tadi. Senang karena meskipun dijual, paling tidak itu jauh lebih bermanfaat karena uang yang dipakai bisa dimanfaatkan majikanku untuk keperluan yang lain. Sedih karena nasibku tak jelas setelah kepergian buku-buku dari tubuhku ini.

“Mengapa majikan kita tak menyumbangkan kita saja yaa…? Ke TBM tempat Sepatu Dahlan, misalnya.”

“Kita dijual saja sudah beruntung. Paling tidak, siapa tahu di luar sana nasib kita lebih baik dan berada di tangan yang benar-benar bisa memanfaatkan kita.”

“Semoga saja harapan kita benar-benar terjadi. Bahkan aku sendiri ragu apakah nasibku lebih baik dibandingkan disini atau tidak.”
Aku hanya mendengarkan obrolan-obrolan mereka dengan gejolak hati yang tak menentu. Mereka yang sudah pasti akan di jual saja masih memikirkan bagaimana nasibnya nanti. Nah kalau aku? Rasanya aku takut untuk menghadapi nasibku dua hari kedepan.

888

“Rak lu mau dijual berapa nih?”

Aku tersentak mendengar suara yang cukup menggelegar. Sudah tiga hari ini aku tak bisa tidur. Setelah berpisah dengan seluruh penghuni yang ada di tubuhku, aku semakin kesepian. Baru semalam aku bisa tertidur nyenyak. Dan sepagi ini teman majikanku sudah membangunkanku.

“Gua kan beli tiga ratus nih. Setengahnya aja deh. Gimana?”

“Ah barang lu udah setahun, lihat nih sudah banyak yang lecet dan agak lapuk.”

“Yaudah, gua lepas cepek dah, deal?”

Bahkan aku tak tahu akan dijadikan apa oleh teman manjikanku itu. Wajah sangar, mata merah dan bau alkohol tercium dari napas yang keluar dari mulutnya.

“Semoga botol-botol minuman gua makin cantik setelah dipajang di rak ini ya. Dan warung gua juga makin ramai”

Mereka tertawa bersamaan. Sementara hatiku perih. Dan tiba-tiba aku kangen buku-buku berdebu yang berjejalan ditubuhku sehari yang lalu meninggalkanku…

Depok, 22 Juli 2012
22.15

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s