Mahasis(w)a Kelas Terbang



06.45 pagi
Aku tersentak. Alamaaaak, telat awaak. Aku langsung loncat dari tempat tidur menuju kamar mandi. Semalam sampai larut malam aku mengerjakan tugas individu untuk mata kuliah sosiologi sastra. Dengan bangun tidur kesiangan seperti ini aku sudah membayangkan masuk kerja telat karena jam masuk kerjaku sebagai staf administrasi di sebuah sekolah dasar jam tuhuh pagi. Aku bakal kelaparan karena tak sempat sarapan. Tanggal tua seperti saat ini membuatku mengencangkan ikat pinggang kalau aku mau tetap bisa berangkat ke kampus sore hari. Belum lagi aku akan dicemberutin kepala sekolah. LengkapDsemua. ditambah kemeja kerja yang masih lecek karena semalam lupa di setrika.

Dengan tergesa aku melangkah ke tempat kerjaku yang jaraknya satu kilo dari rumah. Sebelum melangkah keluar rumah aku melihat ibu sedang menjemur pakaian. Aku menyesal karena sebenarnya ibu sudah membangunkanku dari subuh. Aku yang bandel dan terlalu lelah memilih menarik selimut lagi dan akhirnya kebablasan. Aku mencium punggung tangan ibu dan bergegas berangkat. Ibu tak banyak tanya, aku sadar beliau kesal padaku karena aku tak menuturi kata-katanya untuk segera bangun tidur tadi.

“Susah sih dibangunin tidurnya. Jadi keburu-buru kan?” kata ibuku sambil meneruskan menjemur pakaian.

Aku mengangguk merasa bersalah. Tak ada waktu lagi.
“Ram berangkat dulu, Bu. Assalamu’alaikum!”

11.35 siang
Benar saja. Bu Hasanah, kepala sekolah di tempat aku bekerja dari pagi sampai siang mendiamkanku. Aku berkali-kali meminta maaf padanya. Aku jelaskan padanya alasanku datang telat. Meskipun beliau memakluminya, tetapi tetap saja aku sedetikpun tak diajak bicara dari pagi. Kalau diingat-ingat, sebenarnya tugas individu membuat cerpen sosiologi sastra sudah diberikan hari Selasa minggu yang lalu, tetapi aku baru mengerjakannya semalam. Inipun deadline-nya hari jum’at sudah di kirim via grup di fecebook. Tapi aku memohon kepada bapak Ghulam yang baik hati untuk memberi tenggat waktu sampai pagi hari ini. Meskipun aku tahu pak Ghulam lebih cerdas melihat mana mahasiswa yang benar-benar memiliki alasan yang kuat dengan mahasisa yang memang sudah langganan mengeles ketika diminta menyerahkan tugas. Tadi sesampainya di kantor aku langsung mengirim tugas cerpenku lewat grup di facebook. Dan langsung mengabari pak Ghulam bahwa aku sudah mengirikan tugasku padanya.

Meskipun lega perasaan ini, tapi tetap saja, aku merasa telah mengecewakan orang lain. Selain kepada pak Ghulam, karena telat menyelesaikan tugas darinya, juga kepada kepala sekolah sebab aku datang telat ke kantor. Hari ini aku sudah membuat dosa pada dua orang yang sangat memberi arti dalam perjalanan hidupku. Dosen yang memberikan ilmu dan kepala sekolah yang selalu memberiku ruang untuk belajar dan bekerja dengan disiplin. Seharusnya aku bisa mengatasi kemalasanku tadi pagi. Tadi, selepas salat duha, dengan sungguh-sugguh, aku berdoa meluruskan lagi niat sekaligus alasanku kuliah sambil bekerja. Aku sangat yakin dengan pesan petuah dari Imam Syafi’i yang berkata: berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Diam-diam aku lafazkan penuh khusyuk.

17.10 sore
Aku memutuskan pulang kerja lebih sore sebagai tebusan karena aku datang telat ke kantor tadi. Karena biasanya aku sudah bisa pulang selepas salat asar. Beruntung karena tadi ketika kepala sekolah hendak pulang, beliau melemparkan senyum kepadaku. Dan tak bosan-bosannya menyemangatiku untuk segera menyelesaikan kuliah strata satu. Saat ini statusku di semester enam. Resiko menjadi mahasiswa kelas terbang ya seperti ini. Aku menyelesaikan sisa mata kuliah di semester empat (yang didalamnya ada mata kuliah Sosiologi Sastra) dan mengambil sisa SKS ke semester enam. Di semester genap ini masih tersisa dua mata kuliah di semester enam. Bu Hasanah adalah salah satu motivator terbesar dalam keberlangsungan kuliahku. Agar aku bisa segera naik pangkat dari staf menjadi guru. Kalau ibu Hasanah sudah memberikan wejangan seperti itu, seolah-olah seluruh energi positif dari beliau masuk ke dalam tubuhku dan memacuku untuk kembali bersemangat menjalankan kedua aktivitasku saat ini. Dan beliau sangat mengapresiasiku akan hal itu. Karena tak semua orang mau menjalankannya, setelah lelah bekerja, masih harus menambah energi untuk melanjutkan kuliah di malam hari.

Langkahku tenang menuju kampus. Aku juga sudah menyiapkan sebuah buku yang aku beli di toko buku Gramedia. Kebetulan tadi siang aku ke kantor diknas kecamatan yang berdekatan dengan Gramedia, tanpa berpikir panjang aku segera mencari novel, sebagai hadiah untuk menebus rasa bersalahku pada pak Ghulam karena telat mengumpulkan tugas.

Angkot melesat cepat melintasi jalan Margonda. Beberapa mahasiswa naik ketika angkot 19 berhenti di depan kampus Gunadarma. Dulu, tiga tahun yang lalu, aku mengimpikan bisa kuliah seperti mereka. Berangkat ke kampus pagi dan pulang menjelang sore. Bisa mengikuti berbagai macam ekskul ataupun kegiatan kampus lainnya. Masuk senat. BEM. Ataupun ikut menjadi bagian dari komunitas yang ada di kampus. Tapi apalah daya, ibuku tak bisa memenuhi permintaanku. Pesan beliau kala itu yang tak pernah aku lupa,

“Kamu boleh sekolah tinggi-tinggi, Ram. Ibu dan bapak juga bukan tak mau membiayaimu kuliah, tapi kamu kan tahu pekerjaan bapak hanya kuli bangunan. Jadi kamu harus mengumpulkan uang dari hasil keringatmu sendiri.”

Kadang, keterbatasan membuat orang putus asa, seperti saat ibu mengatakan hal itu tiga tahun yang lalu padaku. Tapi semakin kesini, aku mengerti bahwa seharusnya dengan keterbatasan menjadikan seseorang harus melakukan lebih dari pada orang lain yang memiliki banyak kesempatan. Keterbatasan harta hanyalah sebagian kecil dari masalah, tetapi bukan jadi halangan jika kemauan dan tekad lebih besar dari masalah yang dihadapi.

17.45 sore
Memasuki Lenteng Agung angkot jalan merayap. Jalur ini memang menjadi biang langganan macet. Bisa setengah jam mobil merayap. Kemacetan utama disebabkan sisi kiri jalan banyak angkot menuju ke arah pasar Lenteng Agung yang mengetem mencari ataupun menurunkan penumpang. Seorang bapak masuk angkot yang aku naiki dari depan Universitas Pancasila. Beliau duduk di kursi dekat pintu. Angkot 19 memang menjadi primadona. Karena bisa dibilang angkot berwarna merah dengan rute Depok-TMII-Kp. Rambutan ini tak banyak. Bahkan aku saja yang naik dari Depok bisa menunggu paling lama limabelas sampai tigapuluh menit. Begitupun pulang usai kuliah. Aku sering menggelantung di pintu angkot karena biasanya dari Terminal Kampung Rambutan ataupun wilayah Pasar Rebo, angkot selalu penuh. Dan baru mulai lengang ketika banyak penumpang yang turun di stasiun Tanjung Barat.

Setelah hampir sepuluh menit terkantuk-kantuk diangkot selama macet dari depan kampus UP sampai depan stasiun Lenteng Agung, akhirnya aku bisa bernapas lega karena angkot kembali meluncur dengan kecepatan antara 60-70 km/jam. Magrib tak lama lagi akan menjemput malam. Wajah-wajah lelah para penumpang (termasuk aku) dan sopir yang bersemangat karena kursi angkotnya penuh menjadi pemandangan yang selalu menjadi gambaran betapa kadang aku harus terus merasa bersyukur. Bahwa hidup harus dijalani dengan sungguh-sungguh. Aku sering menyebut diriku mahasisa ketimbang mahasiswa. Karena memang, datang ke kampus saat sisa-sisa nyawa setelah lelah bekerja dari pagi hingga sore. Hanya sayap-sayap malaikat yang bisa mengantarkan orang-orang yang mau benar-benar belajar dan memperoleh surga. Ibu Hasanah pernah menyampaikan padaku tentang pesan Nabi bahwa “Barangsiapa yang berjalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkannya jalan untuk menuju surga.” Dan pak Ghulam juga dalam beberapa kesempatan selalu mendengungkan semangat kuliah melalui sabda Nabi: “Barangsiapa yang meninggal ketika sedang menuntut ilmu, maka orang tersebut mati dalam keadaan syahid.”

18.15 malam
Setengah jam lebih duduk di kursi angkot membawa efek pegal dipinggang. Sambil berjalan menuju musala kampus aku meregangkan otot. Aku melihat Iza, teman seperjuanganku di kelas terbang tetapi beda kelas sedang memarkir motornya. Aku salut dengannya juga dengan teman-teman sekelasku yang perempuan. Banyak dari mereka yang ketika pagi hari mereka bekerja, lalu malam kuliah. Baik yang usianya masih muda, sampai Bu Qodrati yang sudah mempunyai anak yang sekolah di SMA. Belum lagi Gina, ia kuat menempuh perjalanan ke kampus selama hampir satu jam dengan motornya. Padahal aku tahu ia bekerja sebagai cleaning service di salah satu bank di wilayah Bekasi. Kalau melihat mereka, selalu ada perasaan malu. Semangat mereka jauh lebih besar dari pada diri ini.

Selepas menunaikan salat magrib aku bergegas menuju lantai dua. Iza memanggilku dari teras atas.

“Ram, sini!” serunya sambil melambaikan tangan yang membuat beberapa mahasiswa yang kebetulan sedang parkir motor ikut mendongak melihat kearahnya.

“Kenapa sih, Za?” tanyaku setelah persis sampai disebelahnya. Napasku sedikit memburu usai menaiki enampuluh anak tangga. Lalu mataku memutar mengelilingi koridor kelas. Sejak tadi aku tak melihat satupun batang hidung teman sekelasku. Padahal jam sudah menunjukan setengah tujuh lewat.

“Kok tumben malam ini masuk?” katanya sambil merapikan jilbab hitamnya yang miring-miring.

Aku mengerutkan kening. Aku menghitung-hitung hari. Memainkan jemariku.

“Karena selama ini aku gak pernah lihat kamu masuk di malam ini deh, Ram!” katanya lagi menambah kebingunganku.

“Memang ini malam apa, Za?” tanyaku masih dengan rasa penuh tanda tanya di kepala.

“Ini teh malam Selasa, Raaam…” jawabnya dengan nada sedikit menekan tapi dengan wajah yang tak kalah bingung.

“Jaaa… jaaaadiii…”

Tubuhku lemas. Iza tanpa banyak tanya menyodorkan botol air minum.

“Huh, sifat lupanya masih aja belum hilang-hilang kamu, Ram.”

Aku hanya bisa nyengir kuda.

Depok, 01 Sya’ban 1433 Hijriyah
17 Juni 2012
22.55 malam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s