Sedetik Puisi Segenggam Cinta


Sekelebat bayang kelam itu menjadi lekat dengan takdirku
Menunda lagi simpul rindu yang ingin ku genggam erat dalam jiwa
Entah pada detik keberapa aku harus tersenyum lagi
Sebab pilar yang hendak ku bangun
Runtuh pada puisi kata-katamu yang kau hujam ke sukma paling rahasia
Ku pinang lagi sepi, menanjaki jalan ini sendiri…

Mungkin ini yang dinamakan putus cinta. Menyesakkan. Perihnya lebih dahsyat daripada tersayat luka terkena sabetan pedang. Tiga jam setelah Mia, wanita yang aku anggap kelak akan menjadi milikku selama-lamanya, tanpa ada permasalahan apapun sebelumnya atau cekcok pada hari-hari yang lalu memilih putus. Telak aku dihujani kata maaf dan berakhir dengan kalimat itu. Kalimat yang paling aku takuti disepanjang aku bersamanya.

“Aku ingin kita putus, kak…”

Langit seolah-olah berubah pekat. Angin berdesau kencang sampai-sampai tubuhku yang tinggi namun kurus terhuyung. Detik seolah runtuh dan aku terpaku dalam hati kelu. Seakan sayap malaikat samar-samar menghampiriku dan mendekapku hingga aku tak dapat bernapas.
Cintaku terlalu mendalam padamu, Mia…
Aku lumpuh tanpamu…

Diteras ini. Secangkir kopi yang telah dingin tak aku sentuh sejak tadi. Sebab hangatnyapun tak mampu membuat hati ini jauh lebih tenang. Diyo, teman kantorku sudah menelepon berkali-kali. Sejak keluar makan siang aku belum kembali ke meja kantorku di lantai enam. Dia sudah janji akan meng-copy game Angry Bird’s versi terbaru ke laptopku selepas makan siang. Mungkin karena belum berada di meja kerjaku, makanya dia menelepon. Aah sudahlah lupakan Diyo. Hari ini entah sampai jam berapa aku akan menghabiskan waktu untuk sesuatu yang harus aku tangisi. Aahh bahkan air mataku sudah habis sejak dua jam yang lalu. Di café ini. Persis dihadapan aku duduk sekarang, bahkan wajahnya masih lekat ketika ia mengatakan hal yang aku takutkan itu.

“Beri aku penjelasan mengapa kamu begitu terburu-buru mengambil keputusan ini, sayang…” aku bersimpuh persis dilututnya. Jujur baru kali ini aku melakukan tindakan itu. Aku genggam erat jemarinya. Aku tak pedulikan tatapan aneh orang-orang yang juga sedang makan siang. Atau mereka malah senang, menonton adegan sinetron yang jarang mereka temui di alam kenyataan.

“Aku tidak bisa, kak… Sebelum hubungan kita terlampau jauh aku ingin kita putus.”

“Pliss, sayang… jangan ucapkan kata itu…”

Aku rela menjadi pengemis pada bunga cinta yang meski berduri, asalkan luka ini hanya darimu

Mia tetap bergeming. Tatapan matanya sendu.

Dada ini kembali sesak. Keringat dari pelipisku kembali mengalir. Padahal teras ini tak panas. Ada dua buah pohon hias rindang yang menutupi sebagian teras. Mungkin keringat sebiji jagung yang keluar dari tubuhku ini hasil dari gejolak hati yang tak menentu ditambah kata-kata Mia yang masih terngiang jelas semakin membuat tubuh ini tak terkontrol.

Pantas saja sejak semalam Mia begitu susah aku hubungi. Berkali-kali aku ke rumahnya pembantunya bilang tak ada di rumah.

Aku kehilangan arah. Fokusku tiba-tiba samar. Membayangakan hariku tanpa suaranya, senyumannya, genggaman erat jemarinya, dan pelukan mesranya. Ooohhh Tuhan, aku tak kuasa lagi jika yang biasa aku lakukan bersamanya kini hanya ada dalam khayalanku saja, hanya dalam mimpi-mimpi saja.

Sampai lampu-lampu jalanan kota berpendar cahayanya, sorot-sorot lampu dari bintang-bintang gedung pencakar langit satu-satu bersinar, aku masih saja disini. Sedetik kemudian aku menuju parkir mobil. Kan ku kendarai kemanapun. Tanpa arah dan tujuan. Hanya mengikuti kata hati.

Diyo meneleponku lagi. Entah mengapa aku semakin takut dengan benda itu. Bunyinya. Layarnya yang menyala. Bentuknya. Deretan-deretan kalimat yang ada di dalam pesan. Gambar dan video yang tersimpan di memorinya. Aku lemparkan begitu saja handpone itu ke kursi belakang. Aku hanya ingin sendiri.

***

Kalau bukan karena Diyo yang menjemputku ke apartemen mungkin aku sudah tak masuk kerja hari ini. Efek dari semua hati yang membuat seluruh reaksi-reaksi negatif tiba-tiba menjadi santapanku. Semalam aku sampai kasur jam dua pagi. Tiga kali keluar masuk pom bensin. Tak sebanding perasaanku yang berdarah. Terhujam.

“Kau ingat, aku terakhir melihatmu seperti ini tiga tahun yang lalu. Wajah berantakan. Senyum belepotan. Dan aku bisa menebak apa yang terjadi padamu, kawan.” Kata Diyo sambil melajukan mobilnya menuju kantor.

Aku hanya tersenyum belepotan seperti katanya. Ya, Tika, yang sekarang sudah jadi mantanku, tiga tahun yang lalu ia melakukan hal yang sama terhadapku. Dan Diyolah orang pertama yang menyaksikan aku menangis sejadi-jadinya tepat setelah aku resmi putus dengan Tika. Dan ia menjadi sangat bersalah sebab dialah yang menjodohkanku dengannya.

Sepanjang perjalanan aku hanya terdiam. Malahan Diyo yang banyak bercerita. Tentang prospek hubungannya dengan Afi, yang justru membuatku semakin perih mendengarnya. Melihat raut mukaku yang semakin berantakan, ia mengganti topik, menceritakan tentang Angry Bird’s versi baru yang seharusnya kemarin ia copy ke laptopku.

“Kawan, kau terlalu serius dalam menghadapi masalah. Seolah kau tak pernah menemukan jalan keluarnya. Buntu. Padahal, jika kau sedikit saja mau berpikir realistis, kau tak akan menghancurkan dirimu lebih parah dari sekedar diputuskan.”

Ia begitu mudah mengatakan itu karena ia tak pernah merasakan bagaimana sakit hati. Hidupnya terlalu lurus dalam hal menjalin hubungan. Lepas dari Wike, ia medekati Vivi, satu gedung tapi berbeda lantai. Lalu Asmi anak bos, dan putus. Kemudian Cika. Semuanya ia yang memutuskan. Dan terakhir Afi, entah bagaimana kelanjutannya nanti. Dalam hitungan tiga tahun ia sudah memacari lima wanita. Sebuah prestasi yang tak akan aku ikuti.

“Apa kau mau aku kenalkan dengan mantan-mantanku? Mungkin dari kelima itu kau ada yang cocok?”

Aku mengepalkan tinju ke arahnya. Najis kalau sampai aku memacari mantan-mantannya. Meskipun aku tak seganteng Diyo, pamali bagiku menjalin hubungan dengan wanita yang pernah jadi milik teman sendiri. Apalagi aku tahu benar model berpacarannya. Aku tahu benar tabiat buruknya. Tak jarang aku mendengarkan ceritanya tentang kelakuan bejatnya dalam memperlakukan seorang wanita yang disayangi. Huh, omong kosong kata-kata sayang yang keluar dari mulutnya jika dalam menghargai dan menghormati wanita saja ia tak bisa. Aku hanya bergidik bila membayangkan kalau salah satu dari mantan-mantannya itu adalah adikku. Sudah aku hajar dan memintanya segera mengawini.

Sehari. Tiga hari sampai tepat seminggu setelah aku putus dengan Mia, perasaanku mulai terkontrol. Segala sesuatu yang kemarin-kemarin aku anggap sangat berat ternyata jauh lebih mudah dari yang dibayangkan. Perih ini masih terasa memang, tapi jika aku terlalu memikirkan. Kalau sedang dalam kondisi fokus bekerja, kumpul dengan rekan-rekan atau menghabiskan waktu di depan game semua mengalir begitu cepat. Sesekali Diyo mengejekku dengan mengingat-ingatkan aku tentang Mia, tetapi aku sudah bisa mematahkan semua ejekannya.

“Gimana kalau lu tiba-tiba ketemu dia di jalan? Dan dia lagi gandengan sama pacar barunya sambil gelendotan mesra?” Diyo masih tak puas dengan terus memanas-manasi.

“Tinggal bilang selamat, terus nanya deh, kapan ngundang-ngundang? Beres!” kataku sambil menatap Diyo puas. Kalau aku sudah mengatakan sesuatu yang membuat dia tak bisa berkata apa-apa lagi tandanya dia ‘kalah’.

Kalau bukan karena ibu yang selalu mendesak aku untuk segera menikah, mungkin aku lebih menikmati keadaanku seperti saat ini. ibu memang belum tahu bahwa aku telah putus, atau lebih tepatnya batal melamar Mia. Entah aku harus menyampaikan dengan cara apa untuk hal yang satu ini. keberanian itu muncul setelah ibu berkali-kali memintaku mengajak Mia untuk bertemu dengannya. Ini bukan perkara yang mudah bagiku, sebab ibu sudah sangat merestui hubunganku dengan Mia. Bahkan sejak aku belum resmi memacari Mia kala itu.

Aku melajukan mobilku menuju sebuah kota yang pernah aku habiskan untuk belajar, bermain dan merasakan detik-detik yang mendebarkan ketika aku menembak seorang wanita, gadis kecil berambut sebahu dengan mata sipit dan berlesung pipit. Duh, kenapa aku malah memikirkan hal itu diantara banyak kenangan indah lainnya di kota ini? Memasuki gerbang kota kenangan saat bermain bersama Sita berkelebatan di depan mata. Hujan-hujanan di lapangan voli bertanah cokelat, membocengnya dibelakang pedal sepedaku saat sekolah, menghadiahinya boneka hello kitty saat ia genap sepuluh tahun.

Tak banyak orang-orang yang berhasil menyempunakan perasaannya pada seseorang yang dulu menjadi orang pertama yang ditaksirnya. Membawa mimpi mereka melewati masa-masa kecil, remaja, dewasa dengan perasaan yang tetap terjaga sampai memasuki jenjang yang lebih serius menuju ikatan suci pernikahan. Mungkin bisa dihitung orang yang seperti itu.

Aku mencium takzim punggung ibu yang sudah menungguku di beranda. Wajah yang selalu ku rindu, wajah yang memberikan energi luar biasa padaku di kala tubuh ini melemah, wajah yang mengajarkan aku cara bersyukur atas rasa memiliki dan kehilangan pada hal apapun.

Pada detik-detik ini, matamu ibu, bagai cinta yang tak pernah habis menggengamku penuh rindu

Menyeduhkanku teh hangat, menyiapakan makanan kesukaan dan cerita-cerita yang sudah ditahannya berminggu-minggu dan akan meletus saat aku duduk bersamanya ketika malam menjelang. Aku akan menjadi pendengar yang paling terbaik baginya.

Tapi saat ini, wajah itu nampak penuh tanda tanya. Memikirkan hal yang sudah bisa aku tebak. Membaca gerak tubuhnya yang ditopang tongkat yang sudah menjadi teman sejatinya sejak lima tahun yang lalu.

“Mana Mia, Gus? Kenapa kau tak membawanya kesini? Ibu kangen dia, Gus. Ibu ingin memeluknya…”

Dan mengalirlah cerita tentang Mia. Saat ibu bertemu dengannya dua tahun yang lalu.

“Ia pintar sekali memijit-mijit ibu.”

“Buatan tehnya pas. Hangatnya ibu suka.”

“Beberapa kali dia menghadiahi ibu selendang batik, katanya titipan dari ibunya yang dikampung.”

“Ibu selalu kangen sop ayam bikinannya.”

“Ibu tak pernah malu untuk diajarkan olehnya bagaimana mengeja huruf-huruf hijaiyah. Bahkan sekarang ibu sudah iqro lima.”

“Ibu sudah menganggapnya sebagai anak. Bahkan adikmu saja tak sebaik dan sesopan dirinya.”

Seperti juga denganmu ibu, tak ada cela pada dirinya yang ku temui.

Selepas itu, dua hari setelah aku bercerita pada ibu, perih ini makin terasa, sesak ini makin menghimpit, dan raga ini kembali rapuh.
Secarik undangan sudah tergeletak di meja kantorku.

Ku lekatkan tatapan pada nama bertuliskan nama itu, Mia dan Diyo!

Tiba-tiba gelap.

Puisi ini berakhir pada detik cinta yang telah ku genggam erat-erat. Kini retak, pecah dan terbang ke udara.
Yang tak kan lekang hanya kau Ibu… detik cintamu, kan menjadi puisi yang ku genggam tanpa lelah, selama-lamanya…

DEPOK, 07.31 PAGI
02 JUNI 2012
*kadang, cinta itu bagaikan permainan angry bird’s kawan, ketika ketapel kau tarik lalu kau lepaskan, kau harus siap untuk terhujam bahkan ‘hilang’, meskipun amunisi telah kau siapkan dengan matang*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s