Nyanyian Patah


I

Surau ini kelabu
Hanya dentang jam lusuh kecokelatan yang detiknya semakin lambat bergerak.

Disisinya cicak tua sedang menggoda cicak perawan yang sejak tadi termenung dibalik jam dinding. Hanya ujung mulutnya saja yang menyembul keluar sedikit, dan diam-diam cicak tua hendak menghampirinya, mencoba menghibur cicak perawan yang kesepian.

Surau ini hening
Dengan dinding yang retak-retak serta putih yang semakin kusam.

Belum lagi sarang laba-laba yang membuat jaring di sudut-sudut dinding. Sepertinya mereka menemukan istana baru untuk membuat sarang yang lebih luas. Bentangan karpet polos warna merah yang bulu-bulunya semakin tipis menjadi tempat yang paling nyaman untuk kucing kampung belang-belang melepas lelah. Perutnya buncit karena kalau tidak meleset minggu depan ia akan lahiran. Tadi pagi ia sudah mencari-cari ruang untuk melahirkan, di pojok ruang sekretariat terdapat kardus bekas minuman gelas yang telah berubah fungsi menjadi tempat mukena yang tak terurus.

II
Surau ini kelabu
Lampu bohlam lima watt menjadi barang mahal karena ia satu-satunya yang masih bisa menjalankan kodratnya.

Cahayanya semakin redup sebab sudah tiga bulan dibiarkannya tetap menyala sepanjang hari. Pagi bertemu malam. Malam menjemput pagi.

Surau ini hening
Kitab suci yang berjumlah tak lebih dari empat malu dengan lampu bohlam yang memantulkan cahaya diatasnya.

Tangisnya membuat lembar demi lembarnya semakin saja mengeriput. Ia tak sanggup menahan beban karena ia harus menanggung dosa sebab fungsinya diambil alih oleh bolham lima watt. Ia yang seharusnya memberikan cahaya. Bukan bolham buatan manusia itu. Hatinya semakin perih dengan perasaan malu yang berlipat-lipat, derajatnya sebagai pemberi cahaya terkoyak oleh seonggok bolham yang bahkan jatah hidupnya tinggal menghitung jam.

III
Surau ini patah
Sebilah kayu yang menyanggah tubuh bagian atas teras mulai lapuk termakan rayap-rayap usia.

Nasibnya akan sama seperti bohlam lima watt itu, bahkan jauh lebih nelangsa hidupnya batang kayu tua ini ketimbang yang lain. Jika tak segera diganti maka seluruh teras yang biasa dipakai anak-anak mengaji akan runtuh dalam sekejap. Dan ia akan menjadi makhluk yang tak berguna lalu mati termakan hujan, angin, waktu…

Surau ini patah
Kecerian lelaki berkoko putih dan selalu memakai sarung kotak-kotak hijau tak akan sampai di mata mereka lagi.

Jam tua, dinding retak, karpet tipis, bohlam lima watt dan alquran keriput sudah sejak empat puluh hari yang lalu berduka, menangis sejadi-jadinya ketika toa pengeras suara yang berada di ujung surau menyebut nama lelaki berkaca mata itu dalam barisan doa alfatihah. Sejak saat itu mereka kesakitan. Menjerit kehilangan, meronta berteriak-teriak memanggil lelaki berkumis putih dan bertongkat kayu jati. yang usia tongkatnya lebih panjang ketimbang tubuh rentanya.

IV
Surau ini patah
Ketika suara-suara bising warga yang hendak memperebutkan surau ini tanpa rasa bersalah. Yang hendak membelinya untuk dijadikan rumah tinggal, ruko sembako, pabrik roti, dan tempat berjudi.

Dan jam tua, dinding retak, karpet tipis, bohlam lima watt dan alquran keriput saling berpelukan sambil bergumam lirih dengan air mata yang membajiri semen-semen pecah dibalik karpet tipis yang sejak tadi sudah memejamkan matanya, tak bernapas.

“Kami akan segera menyusulmu pak tua, menjadi penghias bagi suraumu di pelukanNya.”

Tiba-tiba kucing belang-belang sedang meringis kesakitan. Perutnya mengejang. Sekejap kemudian ia melompat dari atas karpet yang terdiam mencari tempat lain di luar surau yang lebih aman demi masa depan buah hati dikandungannya. Agar ia dapat melahirkan dengan selamat. Laba-laba tanpa sadar terus membuat rumah untuk masa depannya. Sedangkan cicak tua yang telah mempersunting cicak perawan saling berpelukan menatap haru kepedihan mereka, sambil berpikir kemana mereka akan melanjutkan bulan madunya.

hujan di penghujung Mei 2012
13.36 wib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s