Mata-mata yang Telanjang


Seperti mataku, matamu menyayat-nyayat geletar napas yang mendekam dalam bisu
Pucuk-pucuk sajakmu menepi dan buru-buru merapihkan bait-bait yang tercecer di udara

Cuap-cuap pagi menguap ketika mentari kembali bersembunyi dibalik bukit tanah tak bertuan
Kau menyembunyikan matamu dengan senyum bersimpul dalam bayang
Sementara aku kau sibak ke langit menghitam itu lalu terpental ke jurang khayalan

Kau paksa aku tuk bertahan dalam terang kala debu-debu jalan tersapu angin siang
Sedangkan kau bebas bermimpi atas cahaya temaram itu disudut mataku yang membiru

Ooooh… bukan hanya mataku, tapi juga matanya, mata mereka…

Kau biarkan aku mengintip dengan dada bergemuruh pilu-pilu
Menyaksikan potongan-potongan mayat berjalan dipelataran gedung berdasi
Yang menjilat leher dan lambung kami dengan tawa yang membahana, pecah seketika

Kau diamkan aku menatap puing-puing hati yang terhunus mi-mi bengkak meranggas di perut kami
Menyibak menangisi nasib kami yang kau jerat dengan lilitan kertas berangka yang kau kantongi
Memaksa kami tuk bungkam atas kenaifan, dibalik bibir-bibir kami yang semakin kering oleh senyuman

Dan kau manjakan kami dengan lenggak-lenggok wajah bidadari berpoles kosmetik tebal, memamerkan kulit mengilat bak susu, mempertontonkan keperawanan, percumbuan sepasang merpati dihingar-bingar hotel, diskotik, cafe, bangku taman kota, trotoar-trotoar jalan, dan sudut remang-remang bawah pohon beringin tua yang hampir saja terenggut nyawanya, dinaungi topeng sorot-sorot kamera yang menghipnotis hingga membuat kami berjam-jam termangu di layar tabung bersuara, semuanya terpampang jelas di sorot mataku, matanya, mata mereka

Lagi-lagi kau hanya mengulum senyum
Kau pikir, aku, dia dan mereka adalah manusia tak punya otak tak bermoral lantas kau bebas membodoh-bodohi kami?

Dan ketika aku terbelalak atas skenario-skenario palsu dari rumah hijau itu
Aku semakin mengerti, bahwa rumah itu telah terbakar sejak lama
Hanya tinggal menunggu sisa-sisa bongkahan keangkuhan yang menghitam

Aku, dia dan mereka tetap akan menjadi penonton yang menatap nanar
Jerih
Perih
Sebab setelah runtuh, akankah ada yang bisa mengembalikan semua mata kami yang telanjur telanjang namun berkabut ini?
Agar kembali jelas
Dan terang benderang
Tak lagi terkecoh mana manusia
Mana serigala…

06.09
Senin, 28 Mei 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s