Gumam Cinta Alia


 

“Apa kau akan tetap bertahan dengannya, Lia?”

“Aku mencintainya, Ta.”

“Cinta itu bukan hanya memenangkan ego semata, Lia, kemudian mengabaikan persoalan lain yang menyangkut keharmonisan itu sendiri.”

Lia mengerutkan kening.

“Justru dengan cinta semua keharmonisan itu akan bertahan, sampai kapanpun!”

“Meskipun dia tak bisa menjanjikan masa depan yang cerah untukmu?”

“Ya”

Ini sebuah perayaan kecil. Sebuah momen tujuh tahun Lia mengabdi pada cinta Ali. Sebuah prestasi cinta yang tak pernah dipikirkannya ketika ia, di penghujung sabtu sore selepas latihan mengibar bendera di SMP-nya, mengucapkan janjinya. Ali yang menawarkan, Lia yang menguatkan. Tak perlu kau tahu bagaimana janji itu terucap. Hanya di bawah tiang bendera. Duduk berdua menikmati senja. Angin yang bersahabat, seolah tahu bahwa akan ada sepasang hati yang mengikat kuat cinta mereka.

            Tita, rekan kerja yang sekaligus sahabat dekat di kantornya hanya menarik napas. Lalu menghembuskannya. Tiap tahun seperti ini, persisnya tiga tahun belakangan sejak Tita akrab dengan Lia.

            Seminggu lagi, Tita kan menikah. Lia sungguh bahagia. Dan itu berarti empat sahabat yang dekat dengannya telah semuanya menunaikan janji cinta yang sesungguhnya.

Jika tahun lalu Tita menceritakan bagaimana ia begitu bahagia dapat memiliki Atar, kini ia menceritakan lagi kebahagiaan lain, ketika Atar melamarnya.

Tapi Lia tak pernah berubah. Ia tetap mengulang kebahagiaannya yang sama, yang dulu, sejak tujuh tahun yang lalu. Mengulang awal-awal ia mengikat janji setia pada Ali. Dan Tita, dalam kurun tiga tahun menjadi pendengar yang baik ketika Lia dengan wajah berbinar bercerita.

Dan kini Tita berusaha keras untuk mematahkan, atau lebih tepatnya membuat ragu Lia. Ia tak ingin, di usia Lia yang sebentar lagi seperempat abad, Lia benar-benar tertipu pada perasaannya sendiri.

“Belum bisa disebut lelaki yang benar-benar cinta jika belum sampai pada tahap mengajak menikah, Lia. Semua omong kosong. Kau harus sadar itu.”

            Lia hanya tersenyum. Tita geram pada Lia tentang Ali. Kekasih yang hanya ia tahu dari mulut Lia atau dari foto album kenangan dan diari yang selalu dibawanya.

“Aku masih meyakini kekuatan cinta kita, Ta. Lewat mimpi ia selalu hadir dan menggembirakanku. Meyakinkanku. Bahkan mengatakan mencintaiku”

Kita? Lia masih menganggap bahwa Ali adalah bagian dari perasaan yang sama sepertinya. Tita menggeleng-gelengkan kepalanya, menganggap Lia gila jika sudah membicarakan cinta. Meskipun jika dalam hal lain Lia terlihat matang. Sangat mengikuti perkembangan mode dan tak pernah jauh dari gagjet di tangannya. Entah kenapa dalam hal urusan cinta Lia begitu jadul. Terkesan sok setia.

“Pintaku hanya satu sebagai sahabatmu, bawa Ali-mu kepernikahanku minggu depan, Lia.”

Lia tak menjawab. Tak tersenyum ataupun mengguratkan kilat wajah apapun. Ia sendiri tak tahu dimana Ali sekarang. Bahkan untuk mengetahui keberadaannya sekalipun.

“Empat tahun nanti aku akan terbang ke Perancis, Lia. Mengejar mimpiku menggelar S2 disana. Pegang janjiku.”

Hanya itu bukti yang bisa ia ketahui dimana keberadaan Ali sekarang. Walau ia tak yakin. Sebab jika empat tahun sejak perkataannya keluar dari mulut lelaki yang dicintainya itu maka sekarang harusnya ia telah lulus S2. Yang harus ia cari adalah dimana kerja Ali-nya sekarang?

“Jika sampai hari pernikahaku kau tak berhasil membawa Ali-mu, kau harus berjanji, Lia. Berjanji padaku, berjanji pada hatimu!”

Lia menatap lekat wajah Tita yang berbalut jilbab biru muda. Sejak delapan bulan lalu, sahabatnya itu memang memutuskan mengenakan kerudung. Didesak oleh keluarga Atar yang memang dari keluarga pesantren. Jujur, Tita tampak jauh lebih cantik.

“Berjanji untuk melupakan Ali dan mencari yang lain, gitu?”

Lia sudah bisa menebak maksud Tita.

“Ya.”

“Maaf, Ta, aku akan tetap bersabar pada cintaku.”

Hidangan di meja makan sejak tadi sudah kosong. Bahkan minuman jus yang mereka pesan juga sudah habis. Yang tertinggal hanya sisa-sisa percakapan yang entah akan selesai di meja makan yang sedang mereka tempati atau tidak.

***

Telepon dari orang tuanya di kampung, pertanyaan dari teman-teman lamanya, teman kerjanya, teman S2-nya. Aaahhh… bahkan Lia menunggu Ali dengan melanjutkan pendidikannya. Meski terlambat. Seharusnya sejak dua tahun yang lalu ia kuliah lagi. Tetapi saat itu, sebelum ia mendapatkan pekerjaan yang sekarang, ia belum bisa membagi waktu untuk melanjutkan S2. Meskipun sebab lain adalah agar ia tetap bisa menjaga hatinya untuk tetap fokus pada Ali.

“Bu, Pak, Lia mau menyelesaikan S2 Lia dulu. Lia janji, Lia akan membawa calon Lia jika Lia sudah lulus.”

            Diseberang telepon orang tuanya hanya bisa bersabar dengan sifat keras kepalanya Lia. Ya keras kepala untuk hal yang satu ini. Tentang perasaannya pada Ali. Tak perlu orang tuanya bertanyapun mereka sudah tahu apa yang menyebabkan anak perempuan satu-satunya itu menunda menikah.

            Ia tak pernah menyesal telah menunggu Ali. Disaat perpisahan itu, ketika tiga bulan mereka duduk di kelas satu SMA, Ali memutuskan pindah ke Medan. Ikut ibunya yang bercerai dengan sang ayah. Genggaman erat yang hingga kini masih dirasakan kekuatannya mampu melebur semua keraguan dan ketidakpercayaan akan sebuah janji dan ikatan hati. Tak ada kata-kata pisah. Tak ada kata-kata selamat tinggal. Hanya sebuah keyakinan hati bahwa suatu saat nanti, kelak hati mereka akan kembali menyatu untuk saling berlabuh.

“Maafkan ibu, nak. Tapi untuk saat ini ibu tidak bisa menuruti semua perkataanmu. Tolong kamu dengarkan permohonan ibu…”

Diujung telepon suara ibu terdengar parau dan tersedu.

“Bulan depan adikmu, Surya akan melamar calon isterinya, nak…”

                        Degh.

            Adiknya, yang dua tahun dibawah usianya akan menikah? Sang adik yang bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi memang sudah lama menjalin hubungan dengan teman dekat wanitanya yang ia tahu bernama Asmi. Persisnya semenjak empat tahun lalu, sejak sang adik baru masuk kuliah.

“Itu berarti semua saudaramu telah menunaikan sebagian agamanya. Seharusnya kamu malu dengan kedua saudaramu, nak. Malu pada Surya dan Andri!”

            Lia terdiam lama. Mendengarkan dengan tulus semua wejangan kedua orang tuanya yang seminggu ini lebih sering dari biasanya.

“Tetangga banyak menanyakan kapan kamu akan menikah, Lia. Bapak sedikitpun tidak pernah melarangmu untuk menjalankan semua aktivitasmu karena kami yakin kamu bisa bertanggung jawab. Tapi ucapan-ucapan tetangga yang membuat ibumu sering menangis”

            Ia menatap bingkai foto yang menempel di dinding kamarnya. Foto saat dirinya di wisuda. Foto berlima. Lengkap. Saat ia lulus kuliah, sebulan setelahnya Mas Andri menikah dan Surya baru lulus SMA.

“Besok bapak akan menjemputmu pulang. Besok kamu akan dilamar oleh lelaki pilihan ibu!”

“Tapi, pak… Bu…”

Tut. Tut. Tut.

Tiba-tiba hati Lia perih. Bukan pertama kali orang tua terutama ibunya mencoba mengenalkan pada seorang lelaki yang menurut mereka baik. Terhitung sudah tujuh kali Lia menolak halus permintaan, atau mungkin permohonan kedua orang tuanya kepada dirinya.

Hatinya bergejolak. Dadanya bergemuruh.

“Tuhaaan… aku masih mencinta Ali… Kau tentu tahu itu… dekatkan Ali padaku ya Allah…” gumamnya lirih dengan derai air mata yang entah sudah berapa banyak hanya demi mempertahankan perasaan cinta tulusnya kepada Ali.

Lia terduduk lemas disisi ranjang tidurnya. Kali ini ia merasa sendiri.

Setengah jam ia hanya duduk termangu. Ia benar-benar seperti wanita yang lemah dan hilang ingatan. Selama ini ia hanya berani menunggu Ali. Tak pernah berani bertanya ataupun mencari tahu dimana keberadaan lelaki yang dicintainya. Ia hanya yakin bahwa kelak suatu saat Ali akan menemuinya, menemui orang tuanya dan melamar dirinya.

 Ia jadi teringat perkataan Tita bahwa ia harus membawa Ali saat pernikahan Tita minggu depan.

Jika ia tidak bergerak sekarang maka besok bapaknya akan membawanya pulang dan ia akan dinikahkan paksa oleh orang yang tak dikenalnya.

Dalam semalam semua berubah. Ia menghubungi Martin, teman SMP yang dulu menjadi sahabat Ali. Lewat facebook. Twitter. Mencari nama yang mungkin Ali ada diantara deretan pertemanan SMP dan… Ya hanya SMP-nya saja. Tapi semua nihil. Ali tak banyak teman. Alipun hanya punya friendster dulu ketika SMP.

“Apa yang harus aku lakukan, Ta?”

Sampai akhirnya ia menghubungi Tita dan menceritakan semuanya.

“Aku gak mau dijodohi oleh orang tuaku, Ta…”

Lia menumpahkan semua. Kesedihannya. Keperihan hatinya. Keresahannya.

“Apa dalam kondisi seperti ini kamu masih terus menunggu Ali-mu, Alia Nahda?”

Lia masih mempertahankan keyakinannya. Tujuh tahun bukanlah waktu sebentar. Tapi entah kenapa ucapan Tita di telepon kali ini jauh lebih menusuk hatinya. Membuatnya berpikir keras atas apa yang menjadi kenyataan saat ini.

“Kalau kau masih menganggap bahwa Ali-lah jodohmu itu berarti kau telah mendahului Tuhan, Lia…”

“Tapi… tapi aku mencintai Ali, Ta… aku mencintainya…”

Lagi-lagi Tita mendesah. Kesal atas keras kepalanya Lia bahkan dalam kondisi seperti saat ini.

“Sekarang terserah kamu. Kalau kamu yakin bahwa Ali-mu akan datang kepadamu atau mungkin kamu akan terus menungggunya, aku sebagai sahabatmu hanya bisa mendo’akan yang terbaik bagimu. Hidup adalah pilihan, Lia. Jika kau memilih menunggu, maka tunggulah sampai masa depanmu jelas kau temukan sendiri.”

Klik.

Tiga jam berlalu tapi hati Lia masih resah. Diliriknya jam di dinding kamarnya. Detaknya menjelma seperti ucapan yang menakutkan ketika esok semakin dekat menghampirinya.

02.56

Sejam ia mengotak-atik pertemannya di facebook atau twitter. Bahkan ia sempat membuka universitas-universitas di Perancis. Tak hanya itu, ia mencari nama Ali Iskandar Dirgantara melalui google. Tak satupun bukti yang menguatkan. Kalaupun ada nama yang muncul tetapi bukan wajah yang dicarinya

Sampai akhirnya ia terpulas dan dua jam kemudian terbangun oleh sebuah ketukan dari luar pintu kamar kontrakannya.

“Ba….pak…”

Lia menyium tangan bapaknya dengan gemetar. Kedatangan yang di luar perkiraannya. Dadanya berdegup lebih kencang. Bapak tak sendiri. Disebelahnya berdiri Surya, adiknya. Sesaat kemudian seorang lelaki berjalan mendekat tempat mereka berdiri. Tubuhnya tegap. Wajahnya tersamar oleh gelap dan lampu depan teras.

“Bapak diantar siapa?”

Bahkan karena gugupnya Lia belum sempat mengajak masuk atau duduk di kursi yang tersedia di teras.

“Ini Ali, mbak. Calon kakak ipar Surya.” Jawab sang adik.

Sesaat ia terkejut. Ia menatap lelaki yang berdiri disamping adiknya dengan tatapan yang lekat. Ia perhatikan wajahnya. Postur tubuhnya. Dan… dan tahi lalat di samping ujung alis kirinya.

Hufffthhhhhh… bukan Ali-ku, gumamnya lirih.

“Mbak, kok diam?”

Surya membangunkan konsentrasinya. Buru-buru ia mengajak bapak, Surya dan Ali ke kamarnya. Tak lama adzan subuh berkumandang dari musholah yang tak jauh dari kontrakannya.

 “Baiknya kita sholat dulu, lalu istirahat sekitar empat jam di sini. Kasihan Ali yang menyetir terlalu lama tadi. Sambil kamu mempersiapkan diri ya, nak.” Pesan bapaknya sambil meminta izin ke toilet.

Wajah bapak yang begitu tenang membuat Lia tidak nampak panik atau bingung. Setelah sholat dan sarapan ringan Surya dan Ali tidur di musholah. Tidak mungkin tidur di kontrakan yang kecil.  Sementara bapak yang meskipun nampak lelah masih mencoba mengajaknya berbicara. Apalagi kalau bukan tentang perjodohan itu.

“Lia, bapak sangat mengerti akan perasaan kamu selama ini kepada Ali. Bapak sangat paham dan memakluminya, nak. Tapi dalam keadaan seperti ini, kamu tidak bisa terus mempertahankan ego kamu pada orang yang sampai saat ini kamupun tak tahu kabarnya. Kalau saja Ali jelas keberadaannya, kepastiannya, komitmennya, bapak dan ibu tak akan merisaukan karena jelas akan ada yang meminangmu.”

Sesekali bapak menyeruput teh manis hangat dan mengigit gorengan yang ada dihadapannya. Lia yang berada disampingnya mendengarkan sambil melipat tangan ke dada. Jam setengah enam cuaca masih dingin. Ngobrol di teras dengan bapak adalah hal langka.

Semilirnya terasa dan menggoyangkan pohon rambutan yang berdiri rimbun persis di depan mereka.

“Apa sampai saat ini kamu belum tahu kabar Ali?” selidik bapak.

Lia mengangguk cepat. Rambutnya yang panjang sebahu bergoyang. Bapak mendesah. Lia sadar akan seua yang dilakukannya akan menjadi pikiran orang tuanya. Kedua saudaranya yang laki-laki sudah dan segera menikah.

“Kalau begitu lekas kamu rapihkan pakaian secukupnya. Kamu harus pulang hari ini juga.”

Bapak melangkah masuk kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur.

Sampai perjalanan pulang bapak masih diam. Surya yang banyak cerita tentang persiapan pernikahannya. Meskipun Lia bersikap biasa, tetapi tetap saja hati ini terasa nyeri. Nyeri yang dibuatnya sendiri. Yang menjaga cintanya demi Ali…

“Mbak, seingat Surya kalau tidak salah mas Ali pernah pulang menemui orang tuanya. Memang ia hanya dua hari di rumahnya itupun hanya pamit untuk bekerja di Kalimantan.”

Lia terkejut atas perkataan Surya barusan. Bahkan ia tidak pernah tahu kabar itu.

“Kamu tahu dari mana mas Ali pulang, Sur? Kapan” tanya Lia resah.

“Sudah setahun yang lalu seingat Surya. Surya juga tahunya dari Adi, tetangganya yang juga teman kuliah Surya.”

Tiba-tiba saja tubuhnya bergetar. Menahan tangis yang ia tahan. Hatinya teguncang.

“Kok bapak tidak tahu kalau Ali pulang ya?”

Pertanyaan bapak selanjutnya semakain membuat dirinya tersudutkan.

“Kata Adi, mas Ali sampai di rumahnya malam lalu siangnya sudah berangkat lagi.”

Bahkan Ali-nya tak sempat menemuinya barang semenitpun!

Ali calon saudara iparnya yang sedang menyetir sempat melirik ke arahnya yang duduk di depannya. Sementara bapak yang berada disamping memandang lurus ke luar jendela.

Semua kembali terdiam. Bapak dan Surya sudah merebahkan kepalanya di sandaran. Ia memaksakan memejamkan mata tetapi tak bisa.

Sebuah pesan masuk. Dari Tita.

Kamu harus ambil keputusan sekarang, Lia. Dan jangan kamu sesali di kemudian hari. Aku yakin, orang tuamu jauh lebih mengerti akan kondisimu. Kau harus bicara baik-baik dari hati dengan kedua orang tuamu. Doaku selalu yang terbaik untukmu, Lia.

Tita selalu menjadi orang yang selalu memberinya pengertian.  Ia merasa beruntung. Sekeras apapun hati Lia dalam mempertahankan Ali, Tita sekalipun tak pernah mencoba untuk menjauh bahkan meninggalkannya.

Ia dekap hanphone ke dadanya. Lalu terlelap.

***

Hampir delapan bulan ia tidak pulang. Mobil parkir persis di depan halam rumahnya. Suasana yang tetap meninggalkan kerinduan. Meskipun rumah ini juga yang selalu menjelma menjadi kenangan-kenangan disaat ia menuggu kabar Ali dan menanti hadirnya.

Ia masuk dan memeluk ibunya. Erat. Ia terisak kecil. Ibunya tak pernah berubah. Masih suka membelai rambutnya yang hitam dengan lembut. Lalu menuntunnya masuk.

Matahari baru saja masuk keperaduannya. Senja menorehkan seluet yang terpancar di kampungnya yang nampak masih sangat asri. Sahut-sahutan suara pengajian dari pemancar-pemancar toa masjid.

Perasaan ini berbeda. Nuansa ini berbeda. Dan Lia seperti menjejakkan satu waktu yang asing. Ini persaannya yang menjadi lebih sensitif. Terbawa dan terhanyut suasana yang seolah memaksanya bersahabat. Menghadapi kedua orangtuanya seperti menjadi pesakitan di dalam sidang. Ia dipulang paksa dan hendak dijodohkan.

Ia beristirahat dan tepat jam delapan malam mereka bertemu di meja makan.

Ibu keluar kamar dengan membawa plastik putih. Tubuhnya semakin ringkih. Ia menjatuhkan pantatnya di kursi persis dihadapannya. Di susul Surya dan Mas Andri. Ba’da Isya tadi mas Andri datang. Sendiri. Sengaja tak mengajak isterinya yang sedang ngidam anak ketiga. Bapak muncul dari pintu depan. Sepertinya baru selesai merokok. Sebab asap dari tadi masuk terbawa angin dan tercium hidungnya.

Semua lengkap. Dan Lia siap di sidang.

“Nak, maafkan ibu jika ibu tega memaksamu pulang secepatnya. ibu hanya ingin membicarakan masa depanmu, nak. Ini masih kewajiban ibu dan bapak untuk mencarikanmu pendamping. Mengantarkanmu sampai kamu bertemu dengan jodohmu, nak.”

Bahkan sidang S1-nya tidak mencekam saat ini. Berlebihan dan seolah dibuat-buat. Penuh skenario.

“Bapak menceritakan obrolan kamu dengan bapakmu saat masih di kontrakanmu. Dan ibu, bapak serta dua saudaramu sepakat untuk menjodohkanmu. Memaksamu untuk mau menerima lelaki calon suamimu kelak, nak.” Suara ibu terdengar seperti hakim yang hendak membacakan sidang terdakwa.

Tiba-tiba tubuhnya menggigil. Surya menuangkan teh manis ke gelas yang ada di tengah meja. Mas Andri membagikannya sampai semua menerima segelas teh dihadapan masing-masing.

“Perkara Ali bapak anggap selesai, nak. Mulai saat ini kamu buang jauh-jauh perasaan cinta kamu padanya dan…”

“Tapi Lia mencintainya, Bu… Pak… Mas… Sur…” gumamnya bergetar dan membuat delapan pasang mata menatapnya lekat.

“Ini bukan lagi soal cinta, nak. Cukup kamu mengatakan itu pada orang yang jelas-jelas tak pernah mencintaimu.” Suara ibu meninggi mendengar ucapannya. Hatinya menciut. Sekalipun ia belum pernah dibentak ibu sekeras barusan.

            Ia ingin mematahkan ucapan ibu. Ibu tak pernah tahu bagaiamana perasaan Ali terhadapnya. Janji yang pernah mereka ucapkan. Ahh.. ia tak ingin mengeruhkan suasana.

            “Sekarang mas mau tanya, Dek. Sampai kapan kamu mau menunggu Ali? Sampai kamu tua? Samapai kamu keriput? Sampai kamu…”

            Mas Andri tak melanjutkan ucapannya. Wajahnya nampak memerah menahan emosinya.

            “Nak…” bapak mengambil alih suara. Begitu berwibawa. “Bapak dan Ibu tak ingin berpanjang lebar atau membuatmu semakin tersudutkan. Ini tawaran kami yang kedelapan. Bapak susah payah mencari alasan untuk menjelaskan kepada pemuda yang ingin meminangmu tentang perasaanmu terhadap Ali. Tapi lelaki ini dengan senang hati mendengarkan ceritamu, mengunjungi kami setiap seminggu sekali. Ah… bapak rasa kamu cocok dengannya, nak…”

            Lia mengerutkan kening.

“Kamu sudah sangat mengenalnya. Sangat kenal. Rumah yang berjarak hanya selemparan batu.” Surya menimpali.

Tiba-tiba semua suasana menjadi cair. Tak ada lagi ketegangan di empat pasang mata dihadapannya.

“Dian, nak. Dian teman main kecilmu dulu.” Seru mas Andri.

“Apa?” teriak Lia histeris.

Lia menutup wajahnya.

“Nak, sudah lima bulan ia kembali dari tugasnya di luar negeri. Entah kenapa ia sering datang dan menanyakanmu. Dan ibu sudah tahu gelagat Dian yang sepertinya menyukaimu, nak. bahkan sejak kamu dan Dian menjadi teman waktu kecil dulu.”

“Tapi mbak, kami tetap menanyakan bagaimana perasaan mbak terhadap mas Dian?” Surya mengembalikan suasana hening seketika.

“Walau bagaimanapun, keputusan tetap ada di tangamu. Tapi kami yakin untuk yang sekarang pilihan ibu tepat dan tak salah.”

Mas Andri menambahkan dengan kerlingan mata genitnya.

Lia terdiam sejenak. Mengatur napasnya. Mencoba mengulang kembali pertemanan yang pernah terjalin antara dirinya dan Dian. Tak ada yang istimewa. Perasaannya pun tak lebih dari seorang teman biasa. Bahkan beranjak SMP mereka sudah jarang ngobrol. Lebih sering bertemu di jalan atau sesekali bertemu di angkot saat berangkat ke sekolah.

“Dia sudah menyukaimu sejak esde, nak. Kamu saja yang tak pernah menyadarinya.” Ucapan ibu seolah menjawab keraguan yang ada di dalam hatinya.

“Bu, Pak, Mas, Sur, Lia rasa ini konyol. Lia sedikitpun tak punya rasa yang lebih terhadap Dian. Perasaan cinta Lia terlalu besar kepada Ali, Bu… Pak…”

Bukan terkejut mereka malah tersenyum.

“Jika perasaan cintamu kepada Ali terlalu besar, apa susahnya membaginya kepada seorang lagi yang sebenarnya lebih butuh dan jauh lebih mencintaimu.” Ibu kembali bersuara.

“Ibu tahu dari mana bahwa Dian menyukai dan mencintai Lia?” selidiknya.

“Ini.” ibu menyerahkan sebuah kantong plastik putih yang sedari tadi memang tergeletak dihadapan ibunya.

“Ia melamarmu, nak.” lanjut ibu menegaskan.

Degh.

Dibukanya kantong plastik kecil putih yang baru saja disodorkan di hadapannya.

Sebuah kotak kecil berbentuk hati berwarna merah.

“Ibu sempat bergurau ke Dian mengapa tidak sejak dari dulu ia mengatakan bahwa ia menunggumu, nak.”

Apa?

Lia menggaruk kepalanya sambil menatap ibu yang baru saja mengatakan hal yang mengejutkannya.

“Sekarang bawalah cincin itu ke kamar. Sholatlah meminta keteguhan untuk menerima lamarannya. Bapak rasa nanti malam waktu yang cukup untuk kamu curahkan perasaan cintamu kepada Dian. Ibu sudah menaruh beberapa fotonya dan beberapa foto kalian ketika masih kecil. Itu semua dari Dian, nak.”

Lia diam tak bisa mengucapkan apapun. Masuk kamar dan segera mengambil tumpukan foto di meja samping tempat tidur.

Ah tiba-tiba saja cerita tentang dirinya bersama Dian terbentang. Memang tak ada yang spesial. Tapi tatapan Dian yang tajam dan nada suaranya yang santun begitu menarik. Meksipun sampai sekarang ia tak pernah memikirkan lebih.

Ia segera meraih handpone-nya. Ia akan segera menelepon Tita. Ia orang pertama yang harus tahu.

“Halo, Ta”

“Ya, Lia sayaaang.”

“Minggu besok aku akan membawa Ali-ku kepernikahamu!”

“Apa? Kamu berhasil bertemu dengannya?”

“Pokoknya aku akan membuktikannya padamu!”

“Tapi Lia, bagaiaman ceritanya? Tolong jelaskan, Lia… Liaa…..”

Tut tut tut.

Ia merebahkan tubuhnya. Besok ia akan mengumpulkan semua anggota keluarganya. Di meja makan seperti barusan.

Ya Tuhan… Pindahkan rasa cinta ini kepadanya, Dian-ku. Sampai penuh dan tak tersisa lagi untuk Ali…

Seketika ia terlelap.

 

01 mei 2012

17.15

 

 

*gambar google.Image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s