Tamu Pak Beye


“Pak, ada tamu yang mencari bapak”

Bu An, isteri dari Pak Beye menghampiri suaminya yang sedang asik memilih-milih kepingan kaset dari kumpulan album kaset kesayangannya. Rata-rata lagu yang terdapat di dalam album itu merupakan lagu yang eksis antara tahun 1979 sampai 1990-an. Bila tidak sibuk, seperti pagi menjelang siang ini, pak Beye selalu menyempatkan untuk menyalurkan hobinya. Meskipun kadang bu An cukup kesal karena sebenarnya suara suaminya ketika menyanyi tidak terlalu bagus malah lebih condong cengkok dangdut ketimbang lagu pop yang sering dinyanyikan suaminya.

Pernah bu An adu mulut karena ketika itu pak Beye, saat menghadiri acara pernikahan yang ada hiburan organ tunggalnya, memaksakan diri naik panggung, menyanyikan lagu Ebit G Ade. Padahal bu An jelas-jelas tahu kualitas suara pak Beye ketika menyanyikan lagu milik Ebit G Ade itu. Alamat bu An sepanjang pulang kondangan merengut dan diam seribu bahasa.

“Tamu siapa sih bu? Ganggu bapak aja” seru pak Beye sambil terus memilih lagu yang hendak dicarinya. Ia mencari kaset dari album Edo Gondologit. Kerjanya yang sebagai anggota dewan di ibu kota membuatnya santai di hari sabtu seperti sekarang.

“Ibu juga gak tahu, pak. Temuilah sebentar. Kelihatannya orang tersebut ingin sekali bertemu bapak.”

Pak Beye menatap bu An yang sedang berdiri disampingnya.

“Memang ibu tidak nanya nama dan keperluannya apa?”

Suaminya tampak kesal.

“Dia hanya bilang dia teman bapak waktu kecil dulu sebelum bapak merantau ke kota”

Pak Beye mengerutkan keningnya. Siapa orang yang mengaku-ngaku teman kecilnya?

“Tampangnya seperti apa bu? Kumel? Kucel? Apa berdasi?” tanya pak Beye mencari tahu jawaban atas pertanyaan yang bermain di pikirannya.

“Kelihatannya sebaya dengan bapak. Pakaiannya rapi meskipun tidak berdasi. Tapi sepertinya dari golongan menengah ke bawah. Alas kaki yang dipakainya hanyalah sepatu kulit kusam yang sudah kotor sekali”

Pak Beye makin tak mengerti. Ia benar-benar berpikir keras sebelum benar-benar memastikan kalau yang datang adalah orang yang dikenalnya. Bisa saja orang yang sedang menunggunya diteras depan hanya mengaku-ngaku saja.

“Sekarang ibu temui dulu saja orang itu. Tanya lebih detail dia punya keperluan apa menemui bapak.”

Bu An mengangguk. Pak Beye sudah siap untuk memasukkan sekeping lagu ke dvd. Layar LCD TV 29 inci mulai menyala. Direbahkan tubuhnya di sofa empuk yang baru seminggu lalu diganti. Sofa sebelumnya menurutnya sudah tak layak diduduki bahkan untuk sekedar dipandang mata.

Tiga lagu sudah pak Beye mendendangkan lagu tapi isterinya belum juga kembali menemuinya. Ah mungkin orang yang mengaku-ngaku teman kecilnya sudah pulang. Ketahuan berbohong. Isterinya yang lulusan psikologi pasti pintar untuk mencari tahu gelagat mencurigakan dari orang yang baru dikenalnya.

Saat hendak memutar lagu ke empat isterinya datang. Wajahnya sedikit berbeda. Ada gurat kecemasan yang timbul dari wajah cantiknya.

“Tamunya sudah pulang bu?” tanya pak Beye ketika isterinya sudah duduk persis disampingnya.

“Belum pak. Ibu kasihan dengannya. Tadi ibu baru saja memberinya makan. Dan sekarang orang itu sedang makan diteras depan rumah kita”

“Apa?”

Pak Beye terkejut. Ada apa gerangan dengan isterinya? Tapi pak Beye masih belum mau untuk menemui orang yang dikasihani oleh isterinya itu. Apalagi ia selama ini sudah tak pernah bertemu bahkan mengetahui keadaan teman-teman lamanya.

“Apa bapak benar-benar tak mau menemui teman bapak itu?” Bu An masih terus mencoba membujuk suaminya agar mau menemui lelaki yang sedang makan di teras depan rumahnya.

“Suruh orang itu pulang setelah dia selesai makan ya, bu! Bapak mau istirahat”

Pak Beye masuk kamar. Ia rebahkan tubuhnya di kasur. Meskipun ia terus mencoba untuk memejamkan mata, tapi pikirannya masih tertuju pada orang yang mengaku-ngaku teman kecilnya.

“Orangnya sudah pulang bu?” tanya pak Beye setelah melihat bu An masuk kamar.
Wajah bu An terlihat aneh di mata pak Beye. Tak seperti biasanya.

“Bapak tega sekali dengan orang tadi”

Bu An duduk disebelahnya. Tak menjawab pertanyaan suaminya.

“Ibu sudah menanyakan namanya siapa?” Diam-diam pak Beye masih penasaran dengan orang tadi. Hatinya menjadi sedikit terganggu dengan persoalan tamu yang mau bertemu dengannya.

“Beliau tak menjawab, pak. Beliau hanya banyak bercerita tentang bapak. Ketika bapak masih susah, ketika bapak masih sama-sama duduk di bangku SD dengannya, ketika bapak…”

Bu An terdiam. Menangis. Tak mampu melanjutkan cerita. Pak Beye semakin pusing. Ia jadi merasa bersalah tak menemui tamu yang tadi datang.

“Orang itu bercerita apa saja tentang bapak, bu?”

“Dia sahabatmu. Dia yang banyak menolongmu. Ibu tak habis pikir bapak bisa begitu saja melupakan kebaikan dia. Asal bapak tahu, bapak tak akan menjadi seperti sekarang ini tanpa dia, pak…”

Pak Beye semakin gelisah. Sementara bu An masih tersedu. Ia mencoba meminta bu An menjelaskan rupa wajah dan perangai orang tadi. Tapi bu An tak mau menjelaskan. Sementara di luar cuaca makin panas. Matahari siang bulat bersinar.

“Bu, jelaskan bu, dimana tinggal orang itu? Tadi orang itu bilang kan dimana tinggalnya?” desak pak Beye sambil menggunjang-gunjangkan bahu isterinya. Isterinya hanya menggeleng. Tak ingin memberitahu.

“Untuk apa memberitahu kalau bapak saja tak mau bertemu dengannya” jawab isterinya seperti mengujam jantung pak Beye.

Sebenarnya jika saja orang itu mau menjelaskan siapa namanya, dimana tinggalnya mungkin pak Beye bisa menemuinya. Aahhhh… Pak Beye mengacak-acak rambutnya. Ia bolak-baik di depan isterinya yang masih menangis tersedu.

“Dia hanya menitipkan ini padamu, pak…”

“Apa?”

“Sebuah surat. Tadi ia menyempatkan membuatnya sebelum kembali pulang kampung”

Diambilnya selembar surat yang tertutup rapat. Dibukanya dengan sigap. Dadanya bergemuruh. Ia duduk persis disisi isterinya. Tangannya bergetar.

Assalamu’alaikum, sahabatku…

Maaf jikalau kedatangan saya tadi begitu mendadak dan tak sempat mengabarkanmu. Sebenarnya saya sudah dua hari berada di ibu kota mencari alamatmu. Orang tuamu dikampung hanya menyerahkan selembar kertas alamat rumah dan nomor hanphone-mu. Tapi saya mana punya hanphone karena kau tahu kan saya hanya lulus SD yang kemudian hanya menjadi petani mengikuti jejak orang tua saya di kampung. Sedangkan kau yang pintar lulus SMA dan masuk kuliah negeri di ibu kota.

Jelas saya yang baru pertama kali ke ibu kota dibuat pusing dengan alamat rumahmu. Tapi sungguh, saya beruntung akhirnya bisa sampai kerumahmu. Satpam rumahmu juga begitu baik sehingga saya bisa masuk dan disambut hangat oleh isterimu. Meskipun sebenarnya saya ingin sekali berjumpa denganmu. Memelukmu.

Yek, apa kau masih ingat sebutan itu? sampai kapanpun saya tak akan lupa. Bahkan sampai kau lulus SMA saya selalu memanggilmu dengan nama itu bukan?

Kau semakin sibuk sekarang. Jarang pulang. Dua tahun sekali. Saya ingat betul. Meskipun kata orang tuamu, gajimu selalu datang tiap bulan. Dan dua tahun lalu, kau pulang juga hanya sebentar tak sampai menginap. Bahkan aku tak sempat bertemu denganmu.

Dulu, ketika kita masih sama-sama SD, kau ingatkah saat itu kita pernah berbicara dengan serius? Tentang masa depan. Kau memang begitu semangat membicarakan impian kita masing-masing. Aku akan mengajakmu mengingat kembali dialog kita di teras mushola dulu.

“Yek, mungkin aku gak akan nerusin sekolah ke SMP kayak kamu. Tadi pagi bapakku bilang aku hanya sekolah sampai SD. Berarti aku gak bisa menggapai cita-citaku untuk membuat panti asuhan ” kataku padamu dengan sangat sedih kala itu.

Kau menatapku dalam. Menyiratkan kesedihan atas keadaanku.

“Don, pegang janjiku, aku yang akan membuat panti asuhan untukmu. Aku yang akan mewujudkan cita-citamu. Kau percaya kan?”

“Kau serius, Yek?”

“Iya, aku akan sukses di ibu kota. Aku akan mengumpulkan uang untuk membangun panti asuhan di kampung kita ini.”

Dan saya masih memegang janji kita dulu, Yek. Di depan mushola. Dan saya juga masih mengingat lekat wajahmu yang begitu kuat menggoreskan harapan atas keinginanku membangun panti asuhan.

Mungkin kau lupa. Karena memang, setelah percakapan itu kau semakin sibuk masuk SMP dan SMA negeri. Belajar sungguh-sungguh sampai kau masuk kuliah di ibu kota. Dan ketika kau pamit belajar di ibu kota, aku hanya bisa mendoakanmu. Berharap sekembalinya kau meraih gelar sarjana kau kembali membawa impianku melaluimu.

Di surat ini, saya bukanlah ingin menagih atas semua janji kita dulu. Sungguh. Saya ingin bertemu denganmu karena saya ingin mengabarkan berita bahagia. Berita tentang cita-cita kita berdua. Saya hanya ingin mengundangmu datang. Ada peresmian panti asuhan di kampung kita. Bukan, bukan saya yang membangun panti asuhan itu, tetapi ada pengusaha ibu kota yang bersedia membangun panti asuhan di kampung kita. Karena mungkin kau juga tahu, kampung kita masih tetap saja sama. Miskin harta yang masih butuh banyak bantuan. Saya sengaja mengundangmu karena saya berpikir mungkin kau bisa menyumbangkan sebagian mimpiku di mimpi panti asuhan itu.

Terima kasih sahabat sudi membaca surat dari saya. saya tunggu kau di kampung kita. Karena nanti saya kan jadi pembawa acara di peresmian panti asuhan itu. 

Salam kangen dan horamat saya,
Dondon.

Pak Beye terkulai lemas. Memori masa lalunya kembali terbuka. Sementara bu An membiarkan pak Beye di kamar sendirian. Berharap pak Beye mau mengajaknya ke kampung untuk peresmian panti asuhan minggu depan.

***

13.51
Sabtu, 14 april 2012.

2 thoughts on “Tamu Pak Beye

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s