Hari Terakhir Baba


Mengingat sosok ayah, berarti membuka kisah cerita terakhirku bersama Baba tercinta. Tanpa sengaja aku membuka file lama yang sempat tersimpan.
Sehari sebelum kepergian Baba…
Dari pagi aku sudah bilang sama Emak akan bermalam di RS nemenin Baba. Biar Emak pulang untuk istirahat. Baba memang sudah empat hari berada di RS Tugu Ibu. Dibawa ke Rumah Sakit karena paru-paru dan sesak nafas. Kalo soal sakit paru-parunya aku gak kaget, karena baba emang perokok. Tapi kalau sakit sesak nafas aku gak tahu karena Baba gak pernah terlihat tanda-tanda sakit sesak nafas.
Keluar gerbang MTs. Muhammadiyah aku langsung menuju RS. Awalnya aku sempat takut. Pasalnya aku belum pernah pergi sendiri jauh. Apalagi aku masih kelas 2 SMP. Paling jauh ya di daerah Margonda. Tapi dengan keyakinan yang udah dibulatkan sejak pagi aku berangkat juga.
Setelah sampai RS, kakak pulang kerumah.
“Alhamdulillah Baba udah sehat. Tadi aja udah ketawa-tawa. Mukanya juga udah gak pucat.” gitu kata Kakak saat aku tanya kondisi Baba yang saat itu sedang tidur terlelap.

Wajah Emak juga begitu senang. Aku dan Abang yang giliran menunggu Baba. Emak dan Kakak pulang ba’da Isya. Semua tugas menemani Baba emang berjalan lancar. Bahkan Baba juga banyak ngobrol ini itu bareng-bareng. Kelihatan segar. Masuk tengah malam, aku gantian jaga sama Abang. Aku tidur duluan. Tengah malam aku bangun gantiin Abang.

“Dan, Baba mau kencing.”

Aku langsung mengambil pispot yang ada dikolong tempat tidur dan meletakkannya dibalik sarung yang dipakai baba. Aku menunggu panggilan Baba sambil makan biskuit.

“Udah, Dan…”

Bergegas aku mengangkat pispot yang sudah terisi air seni. Mungkin karena saking semangatnya, pispot yang aku angkat menyenggol dengkul Baba. Saat itu juga air seni yang berada di dalam pispot tumpah. Aku kaget. Baba juga.

“Ya Allah Dan, gimana sih ngangkatnya.”
Saat itu aku gak berani melihat wajah Baba. Bukan karena Baba melototiku atau akan berkata kasar. Bukan. Karena itu bukan Baba. Bahkan Baba gak pernah ngebentak. Baba yang selalu mijit-mijit kepala anak-anaknya. Baba yang rajin ke kebon ngurusin tanah orang untuk dimanfaatkan hasilnya. Meskipun sakit kencing manis telah menggerogoti kedua kakinya, tapi tetap saja Baba gak meninggalkan pekerjaaannya itu. Aku paling senang kalau Baba pulang dari kebun, ada saja yang dibawa. Entah itu pisang, pepaya, kacang tanah, ubi, singkong. Pokoknya halis kebun yang bisa dimakan dirumah bareng-bareng.

Mengingat itu semua terasa indah meskipun pada kenyataannya Baba berat karena harus membesarkan anak-anaknya yang 12. Tapi Baba tetap jagoan. Gak pernah ngeluh atau bermalas-malasan.

Setelah memanggil suster, aku jadi banyak diam. Rasanya gak enak sama Baba. Baba langsung di pindahkan ke bangsal sebalah. kebetulan ada yang kosong. Baru pertama jaga udah bikin Baba repot. Akhirnya Abang gak meneruskan tidurnya setelah aku bangunin.
Paginya kau minta maaf sama Baba. Baba nanyain aku berangkat sekolah apa gak. Aku jawab iya.

“Tapi ntar Dani nginep lagi Ba,”

Setelah salaman aku pamit pergi. Perasaan merasa bersalah masih menggelayuti samapai disekolah.

Di RS udah ada Emak, Mpok Nia dan Abang Entong dan Bang Adit teman bang Entong yang lagi jenguk Baba. Sedangkan Mpok2 yang lain udah pulang saat aku samapi Rs lagi.
Semua berjalan lancar. Gak ada yang aneh2.

Tapi semua tiba2 berubah. Sekitar jam 5 sore, sesak nafas Baba kembali datang. Kami jelas panik. Dokter dan rekan2nya langsung datang. memasang alat2 yang diperlukan ketubuh Baba. Abang langsung menelpon Kakak2 lain lewat wartel. Itulah saat2 krisis Baba. Aku gak tega ngeliat Baba. Aku memeluk Emak yang juga berada gak jauh dari BAba yang sedang ditangani dokter. Aku merasa ada sesuatu yang lain. Fikiran2 buruk menggelayuti kepala. Waktu hampir saja maghrib. Mpok Nia terus berada disamping Baba sambil terus mengumandangkan istighfar dan tasbih dan do’a-do’a kesamping telinga Baba. Emak menyuruh aku untuk sholat. Aku langsung menuju mushola yang ada dilantai bawah.

“Ya Allah, sembuhkanlah Baba. Berikan yang terbaik untuknya. Kalau memang ajalnya datang padanya, mudahkan ya Allah…”

Tiba-tiba do’a itu datang begitu saja. Saat itu di mushola aku memang sendiri. Entah mengapa aku berdo’a kepada Allah seperti itu. Mungkin karena aku tadi melihat Baba kasihan. Dan setelah aku berdo’a seperti itu, hati ini begitu tenang.

Aku langsung menuju ke kamar Baba lagi. Aku bertemu Nia yang mau ke musholla. Wajahnya tegang tapi gak menangis. Di tangga aku bertemu bang Adit. Wajahnya begitu tegang. Pucat.

“Dan cepat naik ke atas. Nemuin baba…”

Dan saat itu jantung ini kembali bergejolak. Memasuki pintu utama ruang dada ini semakin berdebar kencang. Dan saat memasuki pintu kamar, Emak sudah berdiri sambil memeluk seorang ibu yang juga sedang menjaga di bangsal sebelah.

“Emak…”

aku langsung memeluk Emak setelah melihat tubuh Baba sudah tertutup kain hijau. Aku memeluk tubuh Emak lebih erat. Seorang ibu terus menguatkan kami dengan mengucapkan sabar. aku mendekati Baba dan membuka kain yang menutupi wajahnya.

Aku kembali menangis. Lebih keras. Terbayang semalam saat aku menjaga beliau. Maafkan Dani yang gak benar2 jaga Baba dengan maksimal. dan do’a terkhir maghrib tadi, “Apakah saat itu do’anya berbarengan dengan ajal beliau?
Aku terus menangis.Mpok Nia datang dan langsung memeluk Baba. Tangisnya pecah. Aku terus saja meyakinkan diri sendiri bahwa baba benar2 telah pergi.
Dan benar. Baba telah terangkat ruhnya. Bertemu Sang Pemilik ruh.
Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…

Teruntuk Baba…
do’aku selalu menyertaimu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s