Galeri

review (catatan perjalanan)



Lahir. Lalu tumbuh menjadi anak-anak. Beranjak remaja. Dan sampai juga pada taraf dewasa. Perjalanan itu begitu cepat meninggalkan jejak-jejak peristiwa yang terekam jelas dalam memori. Tak semua. Tapi momen-momen berharga. Karena setiap peristiwa yang dialami akan dating lagi peristiwa lain. Berjejalan di kepala. Menumpuk. Dan sedikit demi sedikit kisah yang telah lama mengendap akan terkikis dengan hadirnya kisah baru. Tapi tak semuanya hilang. Rekaman peristiwa yang pernah dialami akan melekat bila kisah itu memberikan cerita yang unik. Menarik. Yang mendatangkan kesan baik. Juga kesan buruk yang bikin sakit hati. Tapi tak menutup kemungkinan, ada seseorang yang mempunyai ketajaman ingatan. Tapi tak banyak.

Bagi saya yang memang memiliki kelemahan dalam mengingat, mengambil gambar dengan mengabadikannya melalui foto atau video sangatlah membantu. Tapi memang tak semua bisa diambil kalau moment yang kita alami dialami oleh kita sendiri. Tak ada yang mengambil gambarnya. Tak ada yang merekamnya. Misal saja, saat ketahuan nyontek. Disetrap guru. Jatuh dari motor. Melakukan dosa. Bersedekah. Dan perubahan fisik saat bertambahnya usia tiap tahun.

Tapi, sadar atau tidak, kecenderungan kita melakukan dosa sangat takut terekam atau diambil gambarnya oleh siapapun. Ketimbang saat melakukan pahala yang rasanya siapapun harus tahu.

Sejatinya, mana ada orang nyontek mau ketahuan gurunya. Orang nyolong mau kelihatan yang punya barang. Ciuman pun masih banyak yang melakukannya malu-malu. Disemak-semak. Tempat sepi. Tempat gelap. Dan melakukan ‘hubungan diluar nikah’ saja masih dilakukan di ruangan tertutup. Dan anehnya, malah suka. Merasa tertantang. Berani nyoba lagi. Katanya seninya disitu. Deg-degannya. Waspadanya. Celingak-celinguknya. Selagi belum katahuan siapa-siapa. Mumpung belum pernah kepergok. Selagi masih punya nafsu. Ya lanjut terus.

Bandingkan ketika melakukan kebaikan. Perasaan tenang. Hati riang. Tanpa malu-malu. Dimanapun. Kapanpun. Kasih bantuan ke Palestina. Nolong nenek-nenek nyebrang jalan. Bantu Emak beli terasi di warung. Tebar senyuman. Semua dilakukan dengan ikhlas. Tanpa pamrih. Berharap surga. Dapat pahala. Selagi masih punya nafas. Sebelum ajal menjemput. Mumpung punya duit lebih. Tenaga masih kuat. Ya kenapa nggak?

Semangatnya sama. Orientasinya berbeda. Dapetnya juga lain. Rasanya pun beda.
Hidup saja mempunyai teman. Yaitu mati.
Hitam temannya putih.
Senang sahabatnya sedih.
Ada siang ada malam.
Cacat, sempurna.
Kurang, lebih.
Surga, neraka.
Pahala, dosa.

Semua sudah diatur.
Semua berangkat pada pilihan.

Yang pasti, setiap jiwa manusia telah di ciptakan menginginkan hal-hal yang enak. Sesuatu yang mudah. Serba gampang. Bebas. Asik.

Dan tentunya, setiap apa yang diambil ada resiko.
Ngasih pengamen cepek, dapet pahala.
Nyium pipi pacar, dosa.
Makanya Allah telah memberikan satu diantara dua hal.
Benar. Salah.
Itu saja.

(catatan menjelang sebelum tanggal 8 mei tiap tahunnya)
🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s