AIR MATA MPOK MIN Oleh: Danie Bin Sakim


Image

 “ Mpok, mau kemana pagi-pagi dah rapih jali gitu?”

            Sapa Ajuna yang kebetulan melintas di depan Mpok Min yang lagi duduk di pos kamling RW. 8 sambil melukin tiang dan muter-muterin kembang tai lancung di depan hidungnya.

Yang di sapa cengar-cengir. Sebenarnya Ajuna sekedar basa-basi. Karena Ajuna tahu, pakaian yang di kenakan Mpok Min udah empat hari gak diganti-ganti. Boro-boro rapih jali, yang ada baunya bikin pingsan orang yang ada disampingnya Mpok Min.

“Siapa lu?”

Duh mpok Min itu. Mas lupa sih. Kan tiap pagi selalu lewat di depannya.

“Saya Ajuna mpok, anaknya mpok Ipit,” Entah sudah berapa kali ia memperkenalkan namanya pada mpok Min.

“O…”

Ajuna baru setahun di sini. Sebelumnya ia tinggal sama neneknya di kampung. Kelas dua sma ia baru pindah ikut orang tuanya. Makanya ia baru tahu mpok Min disini. Ajuna sebenarnya kasihan sama Mpok Min. Di usianya yang sudah beranjak empat puluhlimatahun tapi hidupnya sungguh tragis. Ajuna gak mau bilang Mpok Min gila atau stress apalagi gak waras. Karena Ajuna tahu bagaimana proses hidup yang dijalaninya. Meski Ajuna baru kenal beberapa bulan belakangan ini, tapi Baba sama Emaknya dirumah sering menceritakan tentang Mpok Min yang semasa mudanya teman bermain Emak yang memang bertetangga dekat waktu itu. Sebenarnya Ajuna agak risih memanggil mpok, pasalnya usia mpok min seusia dengan ibunya. Tapi karena kebanyakan tetangga memanggilnya seperti itu, Ajuna mengikuti saja.

“ Jun, gimana kabar emak lu? Gue kangen banget Jun. Bilang emak lu ya, gue mau maen karet lagi sama emak lu.” Ajuna yang hendak mau mengayuhkan sepedanya meninggalkan Mpok Min jadi berhenti. Ajuna memang selalu menganggap setiap apa yang dibilang mpok Min kepadanaya ditimpalinya seperti layaknya kepada orang lain.

“Alhamdulillah, mpok, sehat. Emak dirumah gak bisa kemana-mana, mpok, kan mpok tahu Emak jaga warung. Ntar kalo ditinggal, siapa yang jagain warungnya?”

Mpok Min manggut-manggut. Ajuna melirik jam ditangan kanannya.Limabelas menit lagi bel sekolah masuk. Untung sekolah Ajuna Cuma membutuhkan sepuluh menit perjalanan. Jadi masih sempat menimpali mpok Min. Tapi kalo gak segera ditinggalkan, mpok Min akan banyak mengeluarkan banyak pertanyaan. Yang sebenarnya pertanyaannya udah pernah ditanyakan ke Ajuna. Tapi Ajuna yang baik hati selalu menjawab layaknya orang tua kepada anak. Makanya mpok Min gak bosen nanya karena Ajuna menjawab dengan sepenuh hati.

Setelah pamitan, Ajuna mengayuh sepedanya dengan semangat. Meskipun ia tiap hari melewati mpok Min yang selalu duduk di pos kamling, tapi Ajuna merasa senang karena berarti ia telah membuat mpok Min tersenyum di pagi hari.

Mpok Min memang jarang ada yang mengajak ngobrol. Yang ada, bocah-bocah esde sering mengganggunya. Pernah suatu hari mpok Min yang lagi muter-muterin pohon pisang dikebon milik Wa Aji ditimpukin dengan kulit rambutan. Ajuna yang sedang ada di musholla yang gak jauh dari TKP langsung mengusir bocah-bocah dan mengajak mpok Min ke teras musholla. Ajuna mengelapi kakinya yang kotor dengan  lap basah dan menyuruh mpok Min makan nasi bungkus yang sebenarnya nasi itu buat buka puasa setengah jam lagi. Mpok Min  ketawa-ketiwi sambil melahap habis ketoprak. Yang Ajuna suka dari mpok Min, ia gak pernah makan berantakan disana-sini. Mungkin karena memang saat masih muda(ini kata Emaknya Ajuna), mpok Min gadis yang paling teratur kalo makan. Kalau difikir-fikir aneh, meskipun pakaian sudah bau dan gak terawat, tapi cara makan mpok Min gak berubah. Sebelum makan ia juga minta air kobokan buat cuci tangan. Ajuna hanya senyum bila mengingat ulah sahabat lama Emaknya itu.

****

“Bang toyiib,bang toyiib… kenapa gak pulang-pulang…”

Seperti kebiasaanya kalo gak duduk di pos kamling. Mpok Min akan nyanyi-nyanyi lagu dangdut yang itu-itu aja ke setiap rumah-rumah. Tapi lebih sering ke rumah Ajuna. Entah apa alasannya. Tapi setahu Ajuna, memang hanya keluarga Ajuna yang gak pernah ngusir mpok Min kalo mpok Min mau nyanyi. Meski jam setengah sepuluh malam. Seperti malam ini.

Dari depan teras dengan bermodalkan bunga tai lancung, ia akan berlenggak-lenggok kekiri-kekanan. Pernah mpok Min menirukan artis dangdut dengangayangebor, tapi Ajuna melarangnya.

Ajuna yang sudah siap-siap tidur agak terganggu juga. Maklum, sejak pagi sampai sore ia sibuk di sekolah yang baru saja mengadakan bakti sosial. Ajuna juga telah menyisihkan sekantong plastik yang berisi sembako dan memberikannya ke mpok Min tadi sore sepulang sekolah di pos kamling RW. 8.

Orang tua dan adiknya sudah tidur. Kalaupun masih belum pulas, emak malas menimpalinya karena hampir setiap malam mpok Min nyanyi di depan rumahnya. Dengan langkah gontai Ajuna melangkah ke depan rumahnya. Setelah ia buka pintu, apa yang ia lihat di depannya. Mpok Min nyanyi dengan mengenakan kerudung panjang warna hijau terang. Itukan kerudung yang pernah Ajuna berikan ke mpok Min.

Ajuna tak henti-hentinya mengucapkan tasbih. Ajuna takjub. Mpok Min tampak cantik meskipun wajah tirusnya gak bisa ditutupi. Meskipun lagunya masih dangdut dan ia masih berlenggak-lenggok,  tapi  itu lebih baik dari pada ia hanya mengenakan daster saja.

“Subhanallah mpok, mpok cantik banget.”

Emak yang memang belum tidur dan mendengar Ajuna histeris seperti itu mengintip dari jendela kamar yang memang berhadapan langsung ke teras rumahnya. Emak buru-buru meraih jilbab kaosnya dan keluar setelah melihat apa yang terjadi.

“Bang toyiib,bang toyiib… kenapa gak pulang-pulang…”

Mpok Min masih saja menyanyi. Dan berhenti setelah Emak sampai di teras rumah.

“Pit, gua cantikkanpake nih jilbab? Jilbab ini dari anak lu tuh, Ajuna. Gua seneeeng banget Pit. Makasih ya Jun…”

Belum sempat Ajuna ngasih uang seribu yang sudah ia siapkan ditangan, mpok Min langsung berlari girang seperti anak kecil baru mendapatkan hadiah di acara ulang tahun.

”Jun, mpok Min dulu pernah pake jilbab. Sama kayak Emak. Makanya waktu muda emak dekat dengan mpok Min karena emak sama-sama pake jilbab dan ikut tim rebanaan.”

Ajuna dan Emak sudah duduk di meja makan. Dan Ajuna paling senang mendengarkan kisah tentang mpok Min dari mulut Emaknya. Ajuna manggut-manggut.

“Emak juga sebenarnya kasihan sama mpok Min. Tapi mau gimana lagi, Jun. Yang emak bisa sekarang Cuma ngedoain dia.”

“Dulu, mpok Min tuh cantik. Ibaratnya dia itu kembang desa lah. Tapi, saat ia kuliah dan ingin menikah, ia ditinggal pacarnya nikah dengan wanita lain. Saat itu mpok Min lebih banyak murung dikamar. Rencana nikahnya memang sudah terdengar keseluruh kampung. Dan ia malu karena gagal menikah. Emak yang waktu itu memang dekat sama dia, udah sering nasehatin dia. Tapi yang ada ia malah bertindak kasar. Dan sampai sekarang seperti itu.”

Ajuna makin asyik mendengarkan cerita emaknya.

“Keluarganya yang kaya gak mau mengurusi setelah orang tuanya meninggal. Mpok Min Cuma dikasih rumah yang sekarang jadi tempat tinggalnya dan uang bulanan yang dipegang sama mak Minik. Udah ah, Jun, udah malem, besok lu kan sekolah”

Ajuna masuk kamar. Ia merebahkan tubuhnya. Mengingat lagi kejadian yang tadi baru saja dialaminya.

Ternyata kerudung yang aku kasih tempo hari menambah satu cerita lagi tentang mpok Min.

Alhamdulillah… Ajuna menutup matanya.

****

Mpok Min ngamuk.

“Kenapa lu nyuci jilbab gua. Jangan macem-macem lu ama gua. Keluar lu, keluar!!”

Barang-barang dirumahnya di lemparkan keluar halaman. Di halaman rumah tipe  45 semua tampak berantakan.

Emak membisikkan ke telinga Ajuna apa yang terjadi dirumah mpok Min. Ajuna yang lagi serus dengerin radio sontak kaget. Ia yang sedang santai memaki celana pendek buru-buru ia ambil celana panjang dari lemari dan bergegas kerumah mpok Min yang jarak rumahnya hanya dua blok.

“Mak, kenapa mpok bisa ngamuk kayak gitu sih mak?”

Ajuna mendekati mak Minik yang duduk lemas di depan garasi. Matanya basah. Bibirnya mengucapkan istighfar dan Allah berkali-kali. Sedangkan, tanpa menunggu disuruh, para tetangga yang mendengar teriakan mpok Min berduyun-duyun mengerumuni rumah mpok Min. Entah apa yang dilakukan mpok Min di dalam. Meskipun sudah tidak kedengaran teriakan lagi, tapi sepertinya Jun mengurungkan niat untuk melihat mpok Min ke dalam rumahnya. Ia tahu, dalam kondisi seperti ini, mpok Min belum bisa diganggu, meskipun ia sudah sering ngobrol dengannya, tapi tetap saja tidak bisa gegabah. Yang ada, Jun bisa-bisa dilemparin mangkuk.

“Tadi tuh Mak bilang ke Min, jilbabnya biar Mak cuci dulu. Udah dua minggu gak di cuci. Awalnya Min ngasih jilbabnya buat dicuci dan ditaruh ke pakaian kotor. Tapi waktu Mak masukin mesin cuci, tiba-tiba Min datang dan berteriak mencari jilbabnya. Dan … hiks… hiks…”

Ya Allah, Ajuna mencoba menenangkan mak Minik. Diam-diam Ajuna salut pada mak Minik. Kata Emak, mak Minik sudah kerja di tempat mpok Min sepuluh tahun. Sebelumnya ada empat perawat yang di tugaskan untuk merawat mpok Min, tapi kebanyakan gak sanggup. Akhirnya satu-satunya perawat yang masih bisa bertahan cuma mak Minik. Perawat rumah sakit jiwa yang memang di tugaskan untuk merawat mpok Min secara pribadi.

Sebenarnya mpok Min belum pernah mengamuk seperti ini. Biasanya kalau sedang marah, mak Minik langsung memberikan obat penenang. Mak Minik juga kaget dengan kejadian ini. Karena sebelum mpok Min mengamuk, dia minta dipilihkan  jilbab dilemari pakaian milik mpok min. Dan saat itu mpok Min gak menunjukkan keanehan apapun.

“Ya udah Mak, sekarang kita masuk yuk. Lihat mpok…”

Ajuna menuntun mak Minik. Pak RT dan Emaknya Ajuna mengikuti dari belakang. Nampak Emaknya Ajuna dan Pak RT agak ragu buat masuk. Tapi karena banyak warga yang melihat, gak mungkin bisa menghindar.

“Semalam aku mimpi…

Mimpi buruk sekali…

Semalam aku mimpi…

Mimpi buruk sekali…”

Dari luar kamar mpok Min, mereka mendengar mpok Min bernyanyi. Masing-masing mengucapkan hamdalah bahwa mpok Min gak bertindak apa-apa.

“Ya sudah kalau gitu, kita bantu mak Minik merapihkan ini semua.” Pak RT memberikan instruksi. Ajuna menyuruh mak Minik untuk beristirahat di kamar dan menggantikan mak Minik melanjutkan menyuci pakaian yang tadi sempat berhenti.

***

Entah kenapa akhir-akhir ini, setiap kali ia bertemu dengan mpok Min yang dinyanyikannya lagu itu terus. Dan Ajuna pertama kali mendengarkan lagu itu waktu mpok Min habis mengamuk tempo hari.

“Semalam aku mimpi…

Mimpi buruk sekali…

Semalam aku mimpi…

Mimpi buruk sekali…”

“Mpok, apa gak ada lagu yang lain selain nyanyiin lagu itu?”

Kali ini Ajuna yang mau ke toko buku ketemu mpok Min di depan rumahnya. Mpok Min terus saja menyanyikan lagu itu.

“Emang mpok mimpi buruk apa semalam?” Tanya Ajuna iseng.

“Jun, lu ada-ada aja, ngomong sama orang yang gak waras.” Timpal mak Minik yang lagi jemur pakaian.

Ajuna gak peduli apa yang mak Minik bilang. Meskipun agak tersinggung dengan apa yang mak Minik katakan tadi, tapi Ajuna memakluminya. Menghadapi dan memperlakukan orang seperti mpok Min seharusnya diperlakukan seperti layaknya orang biasa. Karena sebenarnya orang seperti mpok Min yang harus banyak diperhatikan.  Sekarang Ajuna udah berdiri tepat di samping mpok Min.

“Gini deh mpok, Jun punya lagu bagus buat mpok. Dengerin ya:

Satu-satu aku sayang Allah

Dua-dua sayang Rasulullah

Tiga-tiga sayang ibu ayah

Satu dua tiga sayang semuanya…

Gimana, bisakan?”

Mpok Min menyimak dendangan lagu Ajuna yang di ulanginya berkali-kali sampai mpok Min bisa dan hafal. Ia manggut-manggut. Kalau sedang serius seperti itu, mpok Min sangat terlihat sosok wanita yang cerdas.

“Satu-satu aku sayang Allah

Dua-dua sayang Rasulullah

Tiga-tiga sayang ibu ayah

Satu dua tiga sayang semuanya…”

Ajuna mengiringinya sambil tangan kanannya terus menginstruksikan satu dua tiga. Ajuna merasa seperti guru TPA yang mengajarkan muridnya tiap sore di musholla.

“Nah gitu donk, sekarang lagunya yang ini aja ya?”

Mpok Min tampak senang dan matanya berbinar keceriaan. Mpok Min kembali bernyanyi. Tapi kali ini ia mendendangkan lagu yang baru saja ia hafal dari Ajuna. Ajuna meninggalkannya dan bergegas ke toko buku. Ada yang mau dicarinya untuk tugas sekolah.

***

Mpok Min belakangan ini terlihat lebih rapih. Apalagi ia juga sering ngerapihin jilbabnya. Mesam-mesem sendirian. Ketawa-ketiwi sendirian. Nyanyi ngalor-ngidul(bukannya ini emang kebiasaan mpok Min?) Tapi yang jelas, mpok Min lebih cantik. Jujur lho!!

“Mpok, selama tiga hari Juna gak bakal ketemu mpok. Dari sekolah ngadain kemping ke gunung gede, mpok,”

Mpok Min sedih. Ia manggut-manggut. Senandung yang diajari Ajuna juga dihentikannya.

“Tapi mpok Min jangan khawatir. Jun udah bilang Emak buat ngirimin susu ke mpok Min tiap pagi.Kantiga hari ini Jun gak bisa ngirimin sendiri. Oke?”

Tiba-tiba saja mpok Min menatap Ajuna.

“Satu-satu aku sayang Allah

Dua-dua sayang Rasulullah

Tiga-tiga sayang ibu ayah

Satu dua tiga sayang semuanya…”

Mpok Min meninggalkan Ajuna. Ia melangkah gontai sambil berdendang. Tangan kanannya yang memegang kembang tai lancung di ayun-ayunkannya. Ajuna hanya tersenyum perih.

“Sembuhkan mpok Min ya Allah…”

***

Emak Ajuna menepati permintaaan anaknya untuk memberikan susu tiap pagi ke mpok Min. Awalnya mpok Min gak mau minum.

“Mana anak lu, Pit? Gua mau di minumin sama anak lu. Mana Pit?”

Emak susah payah menyuruh sahabat waktu kecilnya itu untuk minum tapi mpok Min tetap gak mau.

“Kansama aja Min, gua emaknya. Lu mah Min, ayo minum,”

Mpok Min tetap menolak.

“Lu tahu gak Pit,“ matanya menyiratkan kerinduan . Tidak kosong. “kalo anak lu yang minumin. Si Jun nuangin susunya ke piring kecil sambil bilang, kalu minum yang panas gak boleh di tiup.” Mpok Min menirukan apa yang dikatakan Ajuna.

“Abis itu, anak lu nyuruh gua baca bismillah. Baru dah anak lu minumin gua pake piring kecil”

Emak menarik nafas berat. Ditatapnya sahabat semasa kecilnya.

“Ajuna, Ajuna, emak gak habis fakir sama  lu,”

***

Warga RW 8 berkabung. Di depan jalan menuju rumah mpok Min terpasang bendera kuning. Satu-satu sampai yang bergerombolan tetangga berjalan menuju rumah duka.

“Satu-satu aku sayang Allah

Dua-dua sayang Rasulullah

Tiga-tiga sayang ibu ayah

Satu dua tiga sayang semuanya…”

Kemarin sore nyanyian itu masih terdengar dari suara mpok Min. Lirih. Dengan setangkai bunga tai lancung ia berdendang. Tapi tidak untuk hari ini.

Semua berduka. Hujan rintik mengawali pagi yang dingin. Tak ada dendangan lagu yang keluar dari mpok Min.

Ia duduk di depan teras rumahnya. Matanya basah. Ia telah kehilangan orang yang begitu perhatian padanya. Yang mengajaknya ngobrol. Yang memberikannya segelas susu dan meminumkannya dengan piring kecil. Yang mengajarinya bernyanyi,

“Satu-satu aku sayang Allah

Dua-dua sayang Rasulullah

Tiga-tiga sayang ibu ayah

Satu dua tiga sayang semuanya…”

Matanya tidak kosong.Adagurat kehilangan disana. Mata yang berkaca seolah mengguratkan kesedihan yang mendalam. Air mata yang masih butuh perhatian. Samar-samar ia dengar warga yang bilang kalau anaknya Ipit, meninggal karena jatuh dari tebing saat kemping.

Kini air mata mpok Min jatuh. Ia kembali berdendang lagu yang diajarkan Ajuna sementara iringan jenazah lewat di depan rumah mpok Min.

“Satu-satu aku sayang Allah

Dua-dua sayang Rasulullah

Tiga-tiga sayang ibu ayah

Satu dua tiga sayang semuanya…”

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s