Film Baru “MATA TERTUTUP” karya Garin Nugroho



FILM “MATA TERTUTUP”, ADVOKASI VISUAL GARIN NUGROHO

Tayang 15 Maret 2012 di Bioskop-bioskop Kesayangan Anda.

Sutradara Garin Nugroho mengajak banyak
kalangan menonton pemutaran perdana film terbarunya berjudul “Mata
Tertutup”. Film ini bergenre pendidikan, berdurasi 90 menit dan berbasis
hasil riset Maarif Institute tentang maraknya penetrasi paham radikalisme
pada generasi muda, mulai dari tawuran antar pelajar dan mahasiswa,
aksi-aksi kekerasan di masyarakat, pertikaian antar etnis, kasus Negara
Islam Indonesia (NII) hingga sejumlah kasus pemboman di Indonesia.

Maarif Institut menengarai ada yang tercerabut dari pola pendidikan
generasi muda berupa kelangkaan pendidikan budi pekerti. Hal itu kemudian
membuka peluang munculnya persoalan radikalisme dan fundamentalisme yang
lantas menjadi trend baru dan diakomodasi secara hitam putih oleh para
pemuda.

Selain itu, institut yang berada di bawah naungan Yayasan Syafii Maarif
ini juga memprediksi sejumlah masalah kebangsaan di kalangan generasi
muda yakni terjadi intoleransi yang tinggi, budaya kekerasan yang dominan,
segregasi sosial di institusi pendidikan dan rendahnya keterbukaan di
kalangan pelajar. Kondisi yang tidak menyenangkan tersebut menjadikan film
“Mata Tertutup” sebagai film advokasi yang mendorong tumbuhnya ruang-ruang
dialog yang terbuka dan kritis dalam setiap proses pencarian identitas
anak bangsa.

Film “Mata Tertutup” dibuat selama sembilan hari. Mengambil seting
perkampungan di Yogyakarta, film ini memvisualkan kehidupan sehari-hari
tiga orang. Dua perempuan dan satu laki-laki, Aini, Rima dan Jabir. Dua
mahasiswi dari keluarga baik-baik dan mapan serta seorang santri dari
kelompok keluarga kurang mampu. Ibu Jabir adalah buruh angkut pada sebuah
pasar tradisional setempat dan tidak kuat membiayai sekolah Jabir.

Dikisahkan, Aini yang urang Minang dan mahasiswi Fakultas Kedokteran,
tidak lagi terbuka seperti biasanya setelah menjadi anggota suatu
organisasi eksklusif yang mewajibkan donasi dalam jumlah rupiah yang
banyak. Demi taat pada paham organisasi, Aini kerap pulang larut dan
klimaksnya bersitegang dengan ibundanya, Asimah. Terlebih lagi, saat
ditanya kemana lenyapnya uang sebesar Rp20juta. Aini yang tetap bungkam,
keesokan harinya meninggalkan rumah.

Asimah, yang dalam proses perceraian dengan suaminya, pontang-panting
mencari kabar Aini. Konfeksi bordiran sebagai sumber pencarian tak lagi
dihiraukan. Zal, kemenakannya yang setia, kena semprot kemarahannya.
Wanita paruh baya yang ditinggalkan begitu saja oleh suaminya itu kaget
saat Faisal, kerabat yang diutus menyelidiki hilangnya Aini, via telpon
seluler, menyatakan Aini kemungkinan besar menjadi anggota NII. “Apa itu
NII, Sal,” tanya Asimah dengan nada meninggi dan telpon terputus. Tak
puas, Asimah pergi ke kampus Aini dan mendapati fakta bahwa sejumlah
mahasiswa di kampus itu juga menghilang, sama persis dengan lenyapnya
Aini. Cerita kemudian bergulir kepada upaya Asimah mencari si anak hilang
dengan menempelkan selebaran di sejumlah lokasi.

Rima, mahasiswi dari keluarga Jawa, digambarkan sebagai wanita cerdas.
Gemar membaca buku, termasuk karya feminis “Perempuan di Titik Nol”-nya
Nawal el Saddali dan sastrawan sekaliber Goenawan Mohamad. Rima rajin
meriset dan menuliskan gagasan-gagasan keadilan dan kesetaraan gender ke
dalam buku catatan yang menjadi kawan setianya. Sampai tiba pada suatu
saat, Rima berkenalan dengan Mukhlis, pria yang kemudian menjadi
tandemnya dalam berdiskusi mengenai eksistensi negara ideal. Berbasis
kitab suci Alquran, Mukhlis mengupas ayat-ayat pembentukan negara dan
pentingnya hijrah dari Negara Kesatuan RI ke Negara Islam Indonesia
(NII), yang kini menjadi negaranya Mukhlis. Namun pria itu menyiratkan,
sebagai negara baru, NII perlu dana yang banyak agar dapat mewujud.
Rima terpesona dan mengerahkan segenap daya merekrut sebanyak-banyaknya
pemuda-pemudi untuk berhijrah. Tak peduli latar belakang calon anggota
baru NII, di dalam kendaraan yang membawa mereka ke markas NII, Rima
selalu memerintahkan “tutup mata” dan ucapkan “Bismillah, sekarang kita
akan hijrah”. Rima menjadi pengumpul dana yang tangkas. Mukhlis sang
Panglima, takjub dibuatnya. Namun Rima mendapati kenyataan lain, bahwa
tiada sedikitpun perhatian Mukhlis akan kesehatan dan kesejahteraan
keluarganya. Isteri Mukhlis dengan sendu mengatakan tidak punya uang
sepeserpun untuk mengobati anak-anaknya yang sakit. Rima juga mendapati,
di negeri Mukhlis, tidak mungkin perempuan menjadi pemimpin. Rima marah,
kecewa dan sadar itu tidak semestinya terjadi.

Lain cerita soal Jabir. Pemuda pendiam ini dikeluarkan dari pondok
pesantren karena tidak mampu membayar biaya sekolah. Dalam perjalanan
pulang, ditemani Husni, sahabatnya, Jabir asyik menyerut bambu menjadi
kalam (serutan bambu atau kayu penunjuk Alquran). Jabir kemudian ditandai
oleh seorang pria berstelan tunik, dengan ujung celana komprang di atas
mata kaki, berkopiah bulat dan berjenggot, saat menyerahkan kalam
buatannya sebagai kenang-kenangan. “Kalam ini, akan mempertemukan kita
lagi,” kata pria tersebut.

Ibu Jabir yang kuli angkut sayuran di sebuah pasar dan bapaknya yang
pengangguran, tidak tahu bahwa Jabir tak lagi bersekolah. Jabir hanya
dianggap sedang liburan saat muncul di rumah. Jabir juga tidak tega
menceritakan apa yang sebetulnya terjadi. Jabir iba pada ibu yang
dikasihinya itu. Ditemani Husni, Jabir mengurai kemiskinan dengan kerja
apa saja yang mungkin, termasuk menjadi kenek mobil angkutan. Syahdan,
Jabir dan Husni bertemu kembali dengan pria berjenggot yang kemudian
mengajak mereka ikut kelompok pengajian. Jabir yang sangat menyayangi
ibunya tertarik pada ayat-ayat jihad yang dapat menjadi jalan tol menuju
surga. Jabir yang polos kemudian setuju menjadi pembom bunuh diri. Dia
memastikan menjadi “pengantin” surga bahkan saat Husni memintanya
merenungkan kembali niat tersebut.

Akhir cerita film ini mengisahkan Aini dan Rima segera sadar akan sepak
terjang negatif organisasi yang mereka ikuti dan kembali pulang ke orang
tua masing-masing, sedang Jabir keburu ditembak aparat keamanan sebelum
menjadi “pengantin” surga.

Film terbaru Garin ini memberi peluang terbuka kepada pegiat teater untuk
adu peran di layar lebar. Karena itu banyak wajah baru di film “Tutup
Mata”. Hanya Jajang C. Noer, pemeran Asimah yang sudah banyak dikenal
publik. Dua di antara tiga karakter utama, yaitu karakter Rima dan Jabir,
diperankan oleh Eka Nusa Pertiwi dan M. Dinu Imansyah. Eka aslinya adalah
mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) jurusan teater sedang Dinu adalah
mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) jurusan Pengkajian Seni dan Seni
Rupa. Sementara Husni (Kukuh Riyadi) dan Aini (Andriyani Isna), masing-masing
adalah mahasiswa ISI jurusan penyutradaraan teater dan mahasiswi
Universitas Pebangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, jurusan
akuntansi.

Terhadap jalannya pengambilan gambar, Garin membebaskan para pemeran ”Mata
Tertutup” untuk berimprovisasi dan menyetel diri, hanya beberapa menit
sebelum pengambilan gambar. ”Kami sempat terkaget-kaget dengan model kerja
Mas Garin. Skenario cuma dibawa pada hari pertama, sisanya pikir sendiri.
Ini film paling membingungkan buat saya,” kata Kukuh yang meyakini sekecil
apapun peran yang diperoleh, harus dilakukan dengan sepenuh hati.

Radikalisme dan fundamentalisme

Film produksi ketiga Maarif Institut bersama SET Film Workshop ini
berangkat dari kekhawatiran kian tergerusnya toleransi dan maraknya
radikalisme di kalangan pemuda. Perkelahian antar kampung, aksi saling
pukul antar anggota kelompok atau geng motor, selalu melibatkan pemuda.
Pun demikian dengan paham fundamentalisme yang berujung pada pencucian
otak dan tindakan teror.

Garin Nugroho menegaskan setiap anak muda, tidak peduli miskin atau kaya,
berpendidikan atau tidak, dalam pencarian perannya, memungkinkan mereka
berhadapan dengan fundamentalisme dalam agama apapun. Di Indonesia, sebut
saja Aceh dan Papua yang kaya akan sumber daya alam, sangat dekat dengan
aksi kekerasan. Ada kesan pemerintah berdiam diri. Namun Garin menegaskan
masyarakat harus berjuang dan tidak menggantungkan kondisi pada pemerintah
semata. ”Bagi saya, fundamentalisme, sekiranya dibiarkan tumbuh adalah
bunuh diri massal masa depan anak-anak muda,” kata Garin.

Pendiri Yayasan Maarif, Buya Syafii Maarif sejak dekade lalu bahkan sudah
melontarkan kekhawatiran soal fundamentalisme dan radikalisme di Indonesia
yang mayoritas muslim. Wajah umat santri sempat tercoreng oleh berbagai
tindakan kekerasan. Sebut saja kasus Bom Bali I dan II, ledakan bom di
kantor Kedubes Australia dan Hotel JW Marriot Jakarta, menjadi potret
buram citra muslim Indonesia. “Wajah Islam yang cinta damai harus
tertutupi oleh perilaku segelintir penganutnya yang menyimpang,” kata Buya
dalam suatu kesempatan khutbah Jumat beberapa tahun lalu.

“Anak muda sekarang saya rasa harus semakin cerdas, tidak mudah terpancing
oleh doktrin hitam putih, yang diberikan oleh orang-orang, yang dengan
tema hijrah dan segala macam. Dunia ini tidak hitam putih, kalau anak muda
terpancing dan terjebak oleh itu, anak muda tersebut sebetulnya, menggali
kubur masa depannya,” kata Buya.

Guna membentengi generasi muda dari penetrasi kekerasan dan radikalisme,
Maarif Institut menggagas program unggulan bernama Generasi Tolak! Sebagai
upaya kontra radikalisme dan fundamentalisme di kalangan anak muda.
”Kampanye generasi Tolak! Diterjemahkan melalui produksi dan roadshow film
”Mata Tertutup” dan program pendidikan Karakter mengarusutamakan
Nilai-nilai Toleransi, Inklusivitas dan Anti Kekerasan. Pilot project
kegiatan Generasi Tolak! adalah di SMAN di Pandeglang, Cianjur, Solo dan
Yogyakarta,” kata Direktur Eksekutif Maarif Institut, Fajar Riza Ul Haq.
Sasaran utama pendidikan karakter ini adalah Pendidikan Agama Islam dan
Pendidikan Kewarganegaraan. Sosialisasi dan workshop untuk pendidikan ini
akan berlangsung selama setahun (Mei 2011-April 2012). Maarif Institut
bermitra dengan Direktorat Pendidikan Menengah Kemendikbud dan Dinas
Pendidikan Kabupaten dan Kota. (Primayanti dan Gusti Nur C. Aryani – Kantor Berita ANTARA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s