Negeri Tak Bernama



05.12 pagi
Satu. Dua. Langkahnya semakin deras mengikuti detik jam hitam di pergelangan tangan kirinya. Demin seharusnya tidak bangun kesiangan. Baginya bangun tidur melewati jadwal rutin jam empat pagi merupakan telat besar untuknya. Ia telat dua puluh menit. Ia kehilangan banyak hal. Mandi menjadi terburu-buru. Sarapan harus dijadikan bekal. Shalat subuh di masjid tertinggal satu rakaat. Bila mengingat itu semua, ia akan merutuki dirinya sendiri sepanjang hari.

Kalau Han tidak mengajaknya ke party Silla semalam, mungkin aku tak akan telat seperti ini.

Ia menyalahkan temannya. Tetapi ia sadar, ia tetap saja tidak bisa membalikkan waktu kembali seperti hari sebelumnya.

Dua puluh menit ia melintasi kota menuju sekolahnya di sepertiga ujung terminal. Lagi-lagi ia tidak melihat pemandangan seperti kemarin. Danau hijau Kota yang biasanya begitu sepi dan tenang kini sudah ramai melintas perahu-perahu kayu yang terisi para penjual sayuran yang baru pulang dari pasar. Kemarin, dari dalam bus, matanya masih menatap perahu yang terikat erat di pinggir danau. Para pedagang juga masih baru saja berdatangan dari pasar sambil membawa berkarung atau berpengki hasil pembelian yang selanjutnya akan diperjualbelikan.

Kini ia hanya menarik napas dalam. Ia telah menyia-nyiakan pemandangan paling indah yang selalu disukainya, jembatan Sadatena berwarna merah kuning yang berhias lampu taman. Jembatan penghubung bagi pejalan kaki yang hendak ke stasiun kota Subehoga. Jam lima pagi jembatan itu baru mematikan lampunya yang indah. Matanya tiba-tiba basah untuk penyesalan yang kesekian kalinya.

Dan Demin memilih memejamkan matanya. Padahal di luar kaca jendela bus angin lembut masih menggoyangkan helai demi helai daun dari batang pohon besar di sisi kiri dan kanan jalan. Pagi ini hembusan angin jauh lebih kencang dari kemarin. Danau dekat kantor pemerintahan beriak. Daun kering jatuh satu-satu ke atas air berwarna hijau itu. Tapi jangan salah, lima menit danau akan kembali bersih karena tiga petugas kebersihan taman yang selalu mengenakan seragam hijau putih selalu sigap membersihkan danau dengan perahu kecil yang dikayuhnya.

Sesaat ia mengambil telepon genggam dari kantong depan tas cangklong hitamnya. Seketika kirimannya melesat ke layar telepon genggam sahabatnya, Hedos. Lelaki berperawakan kecil dan berkacamata itulah yang telah banyak membantunya.

Dos, maafkan aku telah merepotkanmu. Terima kasih sebelumnya.

Seperempat jam lagi akan sampai. Sebuah sekolah kejuruan pencetak pengusaha muda. Di depan sekolah terpampang slogan besar bertuliskan:

SEKOLAH BERKARYA UNTUK DUNIA
BERJUANG DENGAN TANGAN SENDIRI UNTUK KEBERHASILAN DI MASA DEPAN

Setiap kota telah mencetak pengusaha muda dari lulusan SBUD. Penanaman nilai-nilai kemandirian dilakukan sejak sekolah dasar. Tak ada sekolah negeri dan swasta. Jenjang kelas satu sampai dua belas semua mengacu pada kemandirian. Dengan kemandirian karakter akan terbangun. Dan kepala sekolah dalam setiap kesempatan selalu mendengungakn hal tersebut. Dan Demin beruntung berada di kota terbaik dengan julukan kota wawasan dari dinas pendidikan nasional. Karena selain mencetak pengusaha, kota ini menjadi kota yang memiliki tingkat pertumbuhan pendidikan yang jauh lebih tinggi dari kota lain. Dan memang, setiap kota memiliki ke ciri khasan tersendiri.

Kota Pregsal dengan julukan Kota Sejuta Air Terjun, Kota Akreba dengan julukan Kota Pengikat Hati. Ah, Demin pernah ke sana. Dua hari setelah ia sampai di kota ini. Hedos mengajaknya karena Hedos ingin membuktikan bahwa Demin tak akan mau meninggalkan negeri ini. Meskipun baru beberapa bulan, Demin mulai merasakannya. Apalagi ketika ke kota Pengikat hati ia melihat sebuah kota yang tak ada satupun tak taat beribadah. Toleransi beragama begitu kental terasa. Nilai-nilai ketuhanan di junjung tinggi. Dari kota itulah mencetak para penggerak keimanan menyebarkan indahnya agama. Menyebar ke seluruh kota. Bahkan kota Fusobalor yang berada di negeri ujung sebelah barat telah tersentuh oleh para ulama keagamaan.

Tiga menit ia menunggu Hedos di lorong kelas. Ia mengarahkan pandangan ke seluruh sisi lorong. Tak ada Pak Ges, penjaga sekolah beruban yang biasa sedang mengepel lantai. Mungkin Pak Ges sudah melakukan tugas yang lain. Dan sekali lagi ia menyesal. Ia tidak bisa menyapa Pak ges seperti hari kemarin. Membantu merapihkan rak-rak sepatu di depan kelas atau sekedar mengangangkut ember air bilasan lap pel dan menggantinya dengan air baru.

“Aku sudah tahu mengapa kau mau menemuiku”

Hedos duduk di sisi kirinya. Membuka sebuah majalah baru yang tadi di belinya di depan sekolah.

“Aku sudah sering mengatakan kepadamu jangan dekati Han. Kalau kau tidak siap tercemar olehnya, tinggalkan saja.” tegas Hedos menatap lurus-lurus wajah Demin.

“Tapi aku juga butuh teman, Dos. Aku juga ingin sesekali menghibur diri dengan berpesta dengan teman-temanku. Apalagi Mirefa datang.”

Opss. Demin terlalu emosional sehingga kata-kata yang seharusnya tak terucap terlepas juga. Dan itu kepada Hedos.

Mata Hedos beralih ke depan kelas dihadapannya yang sudah jauh lebih ramai dari 5 menit yang lalu.

“Aku minta maaf jadi tidak bisa mengantarkan susu perah ke rumah Pak Sagel. Terima kasih telah membantuku.”

“Jangan kau kecewakan langganaanmu, Dem. Jika tadi aku tidak berinisiatif mengantarkan ke rumahnya, pasti ia kan kecewa dan pindah ke orang lain.”

Demin mengangguk. Wajahnya menampakkan kesedihan yang teramat dalam. Ia tidak bisa membayangkan jika Pak Sagel berhenti menjadi pelanggan susu sapi perahnya. Pak Sagel menjadi salah satu pelanggan setianya setiap pagi. Seorang pengusaha muda di bidang periklanan. Seharusnya, ia tadi mampir dulu ke peternakan sapi perah di pasar tradisional untuk mengantarkan sembilan pesanan susu sapi kepadanya. Hedos-lah yang mengajaknya untuk mengambil kesempatan menambah uang saku dengan menjual susu sapi perah. Hedos membagi dua langganannya untuk Demin. Dan tadi, karena kesiangan akhirnya Hedos yang mengantarkannya. Ah, ia menjadi semakin bersalah termasuk kepada Hedos, sahabatnya.

***

“Aku mau di ajak kemana, Dos?”

Hedos mengayuh sepeda dari teminal sepeda Blok Desmilpo di timur kota. Ini hari libur. Setiap pekan sekali Hedos membawa Demin ke penjuru kota. Mengenalkan pada wilayah lain yang belum pernah Demin ketahui. Dan Demin selalu takjub ketika ia ditunjukkan setiap kota yang ia datangi. Dan kali ini Hedos hanya berkata,

“Kita akan mengunjungi kota penuh cinta” Perjalanan tiga puluh menit tak membuat mereka lelah mengayuh. Hedos berteriak sambil terus mengayuh.

Demin mengerutkan dahi. Kota penuh cinta? Tapi ia yakin bahwa ia akan dibawa kesebuah kota yang jauh lebih menakjubkan dari pekan kemarin. Libur pekan lalu saja, Demin diperlihatkan sebuah kota berjuluk Kota Wisata Buku. Bisa dibayangkan bahwa di setiap sudut kota buku-buku bacaan berjejer dan terpampang di etalase dan tembok toko, bank, teras rumah, taman bermain anak, halte bus, terminal sepeda, stasiun lokal, angkutan umum seperti bus, angkot, ketera api, pesawat terbang, bahkan, toilet umum menyediakan buku bacaan. Demin puas seharian menikmatinya.

“Ini dia kota yang aku masksud, Dem!” seru Hedos sambil turun dari jok sepeda lalu menuntunnya. Denim mencoba menyejajarkan sepeda Hedos dengan tatapan tetap ke depan menunggu sesuatu yang baru yang akan dilihatnya.

“Aku lihat tak ada yang beda dengan kota tempat kita tinggal, Dos”

Mataku masih memutari kawasan bukit hijau. Di sekitarnya terdapat tanaman-tanaman berbunga. Sejenis melati atau bunga soka merah. Terlihat indah memang. Tapi menurutnya ia sudah sering melihat taman seperti ini.

“Aku akan mengenalkan kau dengan ibuku!” tegas suara Hedos. Demin tak percaya dengan ucapan sahabatnya. Pasalnya, ibunya sudah lama tak ada.

“Assalamu’alaikum, bunda…”

Setelah mengetuk tiga kali pintu kayu dihadapannya terbuka. Demin memperhatikan wajah, yang menurutnya tak begitu pantas dipanggil bunda. Karena ia melihat seperti neneknya saja.

“Wa’alaikumsalam, masuklah anakku…” mereka menyalami dan menyium punggung tangan wanita yang dipanggil bunda oleh Hedos.

Dengan sigap bunda menuntunnya ke ruang tamu sederhana tetapi begitu terasa sejuk. Nuansa kayu begitu terasa. Dari hiasan dinding dan lemari. Tembok dan kusen semua berwarna cokelat. Khas rumah kayu.

Dua cangkir teh panas disajikan bersamaan dengan dua toples kue.

“Teh ini teh kesukaan ayah ketika ayah masih ada.”

Bunda seolah sedang berbicara dengan anaknya sendiri. Wajahnya begitu teduh berbalut selendang berbunga yang menutup rambutnya. Tapi Demin masih bisa melihat rambut depannya yang menyembul keluar. Hitam.

“Dan ini cobalah. Bunda baru saja membuat resep kue baru. Awalnya bunda hanya mencoba berkreasi antara rasa jeruk dan alpukat, setelah pelanggan mencoba banyak yang berminat. Akhirnya bunda memutuskan memproduksinya. Ya untuk saat ini masih memproduksi tiga ratus toples dulu. Khusus pelanggan bunda. Jika terus disukai akan bunda lempar ke pasaran yang lebih luas”
Demin dan Hedos menyimak perkataan bunda. Sampai hampir lupa untuk meperkenalkan diri. Demin menyeruput teh dan mengambil satu kue dari toples berkaca.

Matanya berbinar. Rasa yang belum pernah di kecap selama ia menyicipi kue. Hedos bahkan berkali-kali memasukkan kue ke dalam mulutnya sambil memuji rasa kue buatan bunda.

“Ayolah, Nak Demin, jangan sungkan.”

Selepas dari rumah bunda Hedos mengajaknya ke sebuah rumah bertingkat.

Seorang ibu setengah baya sedang membaca sebuah buku di beranda rumahnya. Kacamatanya dinaikkan setelah menatap kami. Hidungnya yang mangir tak kuat menahan kacamata tebalnya.

“Hedos, kemana saja kau dua pekan tak nampak?”

“Iya, ibu. Waktu itu saya mengurusi kedatangan sahabat saya. ini dia namanya Demin”

Demin menghulurkan tangannya. Menyalaminya sambil tersenyum. Yang dipanggil ibu balas tersenyum.

“Sudah seminggu ini ibu sedang menyelesaikan novel terbaru ibu yang akan segera terbit bulan depan”

Demin terkejut. Usianya empat kali lipat dari usianya, tetapi ia tak menyangka bahwa ibu sedang menyelesaikan sebuah novel. Ia makin terkejut saat ibu menunjukan rak-rak berisi kumpulan tulisannya. Novel, cerpen, karya tulis, waaaaahhhh… demin ber-ckckck ria.

Sebelum pamit pulang, Demin dihadiahi sebuah buku novel ibu yang baru tiga bulan terbit. Berkali-kali Demin berterima kasih dan tak lupa meminta tanda tangan ibu di lembar kedua buku.

“Dua pekan lagi aku akan mengajakmu lagi ke sini” kata Hedos yang mengayuh pedal lebih kuat menuju perbatasan kota. Demin sempat mengabadikan tempat pertamanya dengan telepon genggamnya. Dibelakangnya terdapat gapura besar tertulis: Kota Ibu

“Meskipun ibu tak bersama, dengan datang ke tempat ini paling tidak dapat melepas kerinduan yang tiba-tiba datang”

Demin tersentak. Ya… kota ini akan menjadi kota yang akan selalu ku kunjungi. Patrinya dalam hati.

***

Hedos panik. Sepulang dari kota ibu badan Demin panas. Ia menelpon rumah sakit Sehat Cassrofa. Dengan sigap mobil jemputan menuju rumah sakit datang. Memang, tiap satu wilayah terdapat tiga mobil yang khusus membawa warga yang sakit ke rumah sakit.

Tak ada pungutan sepeserpun untuk biaya perawatan dan obat. Semua ditanggung pemerintah pusat.

“Baiklah. Anda bisa menunggu sebentar disini. Biar kami yang akan menanganinya.”

Senyum seorang perawat wanita mengarah ke Hedos lalu sejurus kemudian membawa Demin dengan kursi roda ke ruang pemeriksaan. Pelayanan RSC pernah mendapatkan predikat Pelayanan Terpuji RS tingkat nasional. Dari pelayanan yang ramah, administrasi yang tertib, dokter-dokter yang ahli, kebersihan, pelayanan umum yang berkualitas. Dan gratis. Semua pelayanan RS memang gratis untuk semua masyarakat. Tak ada yang dinomorduakan sedikitpun.

“Hanya kelelahan biasa. Namun memang, harus di waspadai cuaca yang terik dapat membuat saudara Demin cepat merasa lelah dan sakit kepala. Ya semoga lekas sembuh. Doa kami menyertai anda”

Hedos menggandeng lengan Demin ke mobil RS yang siap mengantarkannya kembali ke rumahnya.

“Terima kasih, Dos. Aku begitu banyak berhutang budi padamu”

***

Ada pagelaran seni di taman kota. Masyarakat bercampur baur memenuhi arena hiburan. Jajanan dan aneka permainan anak tersebar ke setiap sudut taman. Demin memusatkan diri di panggung utama. Ada seni tari Parigamo. Hedos menyebutnya tarian Selendang. Lihat saja, setiap penari mengapitkan selendang bercorak bunga berukuran satu meter di leher mereka. Berpasangan mereka bergantian menukar pakai lalu menyibakkan selendang ke penari lain untuk dipergunakan sebagai penutup tubuh.

“Filosofinya sederhana, Dem. Berbagi.”

Demin sangat menikmati. Hempasan selendang yang diputarkan dan dikembangkan terlihat cantik. Empat puluh lima menit tak terasa mereka menyaksikan.

“Aku cukup lapar. Padahal sebelum kesini kita sempat makan dulu ya, Dos” ucap Demin memegangi perutnya. Jajanan pengganjal perut yang Hedon tunjuk Roti Samberloci. Isi daging cincang, campuran kentang, kacang kedelai dan taburan keju cukup untuk mengganjal perut sampai pulang. Harganya murah. Begitupun minuman es teh manisnya. Demin jadi ingat teh buatan bunda.
Demin makin kagum dan cinta dengan semua yang ia dapatkan disini. Sampai acara selesai, tak ada sedikitpun sampah berserakan. Di setiap penjuru taman tong-tong sampah berdiri kokoh siap menerima sampah-sampah orang yang datang ke taman.

“Lama-lama aku mencintai negeri ini, Sahabat. Terima kasih telah mengenalkanku pada negeri ini. masih banyak yang akan aku jelajahi. Bahkan, sampai usiaku senja tak akan cukup untuk menikmati keindahan negeri ini”

Demin memeluk Hedos. Hedos hanya tersenyum.

“Sebab kau sahabatku, saudaraku…”

***
23.08 malam

“Nak, kamu belum tidur juga?”

“Oh, ibu.”

Aku melebarkan daun pintu kamarku yang setengah terbuka. Lalu menarik lembut tangan ibu dan mengajaknya duduk di bibir kasur. Rupanya ibu belum tidur. Mungkin masih mendengar aku sibuk mengetik dan menekuni layar monitor.

“Iya, bu…” aku memeluknya dari samping.

“Gadis, kamu gak boleh terlalu sering tidur larut malam. Besok kan kamu masih harus kerja. Ya?”

Ibu mengelus rambutku.

“Ibu temenin Gadis bobo disini ya, bu…”

“Dasar manja”

Ibu mencubit lembut ujung hidungku. Aku makin erat memeluknya.

***
Kemacetan. Pemerkosaan. Pelecehan seksual. Pembunuhan. Mabok. Narkoba. Perceraian. Gosip. Korupsi. Aborsi. Bayang-bayang itu tiba-tiba bermain di kepala Demin yang hendak memejamkan mata.

Apa kabar negeriku sekarang? Indonesia, lama aku tak menginjakkan kaki ku ke tanahmu…

2 thoughts on “Negeri Tak Bernama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s