Sebuah Catatan Kecil Dari Novel Ke Film Negeri 5 Menara



Bisa menghadiri Launching Perdana Trailer Film Negeri 5 Menara saat Indonesian Book Fair 2011 pada bulan November 2011 cukup membuat saya lega bercampur senang. Apalagi sempat menjabat tangan bang Fuadi. Berharap energi positif untuk menulis bisa tertular (bilang aja gak kedapetan foto bareng. Hehehe). Saya masih ingat saya pertama kali membaca novel N5M di Gramedia Depok. Saat itu novel N5M belum setenar sekarang. Dan ‘baunya’ belum seharum sekarang. Saya membaca novel tersebut di Gramedia Depok hampir setengahnya sampai akhirnya saya memutuskan membeli di tiga hari berikutnya. Saat itu belum punya uang untuk membeli dan ke toko buku juga hanya berniat membaca. Hehehe. Dan untuk bukunya sendiri, entah sekarang ada dimana. Saya berharap, siapapun yang memegang novel tersebut, bisa membawa energi man jadda wa jada.

Saya salah satu yang menunggu hadirnya film ini. Kenapa? Sebab pertama saya senang dengan cerita yang ada dalam novelnya. Kedua saya mengharapkan dengan adanya film tersebut dapat menjadi tontonan alternatif film dalam kacamata pesantren. Yang saya amati, film dengan latar belakang pesantren hanya menempelkan pesantren agar kesan film islami seolah-olah hadir. Namun kanyataan pesantren masih dilihat sebagai ‘sesuatu’ yang menakutkan atau pesantren yang masih dinilai sebagai sebuah ‘penjara’.

Mengapa saya mengharapkan lebih pada film ini? Karena ketika saya baca novel yang tebal tersebut, kacamata saya tentang pesantren begitu terbuka luas. Sampai-sampai saya berpikir, apa seusia saya yang sudah berkepala dua ini bisa belajar di pesantren? Selain itu, kita sama-sama tahu bahwa pesantren gontor merupakan pesantren modern yang sudah banyak mencetak generasi muda yang kompeten. Selama ini, saya pernah menonton film bernuansa pesantren, namun memunculkan nilai-nilai pendidikan dalam pesantren tidak kuat. Kebanyakan masalah ‘cinta ala pesantren’ yang selalu dominan menghiasi film pesantren. Selebihnya…

Semoga apa yang saya harapkan bisa benar-benar terwujud. Apalagi pengambilan syuting di Padang dan Peantren Gontor itu sendiri dan London. Tentu membuat nilai lebih untuk film ini. Meskipun saya sadar (apalagi baru lihat trailernya saja), bahwa seperti yang di sampaikan bang Fuadi, novel ya novel, film ya film. Paling tidak ruh-nya tidak jauh melenceng dari apa yang ingin bang Fuadi bagi untuk masyarakat yang menikmati karyanya. Karena alasan beliau membuat novel dan akhirnya di filmkan beliau ingin berbagi. Bagaimana kekuatan man jadda wa jada bisa membuat seseorang bisa berhasil.

Akhirnya saya dan juga anda harus sabar untuk menyaksikan film Negeri 5 Menara. Sebab, film ini baru bulan Maret 2012 akan tayang di bioskop. Kalau begitu, anda yang belum sempat membaca novel ini, masih ada kesempatan untuk membacanya sebelum menonton filmnya. Paling tidak, bisa menjadi penyempurna dari perjalanan novel ke film. Oke! Man jadda wa jada! (Beli bukunya ya. Dan jangan beli yang bajakan.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s