Binar Restu Ibu



Aku menangkap kecemasan ibu. Baru kali ini aku melihat ibu menatapku lebih dalam. Bukan hanya itu, ada buliran air yang menganak sungai di pelupuk matanya. Begitu sedihkah ibuku tercinta hingga tatapan matanya pun menyiratkan kesedihan yang begitu mendalam?

“Bu, izinkan Anan, Bu. Anan tak ingin berjalan tanpa restu Ibu…”

Aku tahan air mataku. Meskipun akhirnya air mata ku jatuh juga dipipiku. Begitu hangat.

“Apa kau benar-benar menyintainya, Nan?”

“Apa ibu membaca keraguan dimata Anan bahwa Anan tak menyintainya?”

Sedetik. Dua detik. Ibu tak menjawab. Matanya kembali menekuni gamis yang sedang di pasang manik-manik. Jemarinya sudah begitu terlatih memasukkan manik-manik lewat jarum.

Tes…

Air matanya jatuh ke bahan gamis berwarna merah marun yang berada dipangkuannya. Sebuah tarikan napas terdengar berat darinya.

“Bu, sampaikan apa yang ingin ibu katakan pada Anan. Anan tak bisa menebak gejolak yang ada di hati ibu. Jangan membuat hati Anan gelisah, Bu…”

Ruang tamu yang juga menjadi satu dengan ruang TV dan ruang makan seolah menjadi saksi atas pembicaraanku dengannya. Karena, selepas Ayah meninggal empat tahun yang lalu, hanya kami berdua yang menempati rumah peninggalan Ayah ini.

Malam masih beranjak. Pukul sepuluh selepas aku pulang bekerja tadi aku meminta Ibu untuk meluangkan waktunya. Khusus untuk membicarakan hal ini.

“Anakku … ibu tak pernah melarangmu melakukan apapun selagi masih dalam kebaikan dan kau mampu untuk mempertanggungjawabkannya. Tak pernah ibu melarang.”

Ibu kembali menatapku.

“Lalu mengapa ibu seolah-olah berat merestui hubungan Anan dan wanita pilihan Anan?”

Ibu mengatur posisi duduknya. Ditaruhnya gamis persis disampingnya.

“Saat ayahmu meminang ibu, satu yang ibu suka dari ayahmu karena ayahmu adalah seorang muadzin terkenal. Suaranya sangat indah. Dan ibu sangat senang sholat dimana ayahmu mengumandangkan adzan. Karena ibu bisa melihat ayahmu. Meski hanya sekilas.”

Ibu tersenyum. Bahagia sekali ibu menceritakan kenangan indahnya bersama ayah.

“Ibu sangat mencintai ayahmu. Begitupun ayah pada ibu.”

Tangan kananku melingkar dipinggang ibu. Aku jadi teringat saat masih kecil dulu. Ibu sangat sering memanjakanku dengan menidurkanku dipangkuannya. Mengelus-elus rambutku. Dan sesekali menciumiku dengan gemas. Dan kini, kenangan itu kembali hadir. Meski dengan cara yang lain. Aku sandarkan kepalaku dipundaknya.

“Bu, ada yang ingin Anan tanyakan pada ibu”

“Tentang apa, Nak?”

“Apa ibu takut Anan tinggalkan jika Anan menikah?”

Ibu mengelus-elus rambutku. Aku rasa ibu juga mengingat kenangan yang sama sepertiku.

“Ibu sudah terbiasa sendiri dirumah. Toh kau pagi-pagi berangkat kerja dan pulang juga sudah larut.”

“Lalu apa yang ibu fikirkan dan takutkan?”

Kami sama-sama menarik nafas dalam. Aku masih sabar menunggu ibu mengatakan sesuatu. Tapi ibu tak mengatakannya. Ibu malah menceritakan kisah cintanya dengan ayah. Ya. Ibu sangat sering menceritakan bagaimana ibu dulu sangat mencintai ayah dan ayah juga sebaliknya.

“Tapi ada yang membuat ayahmu sempat ditolak keluarga ibu kala itu”

Aku tersentak. Selama ini ibu tak pernah menceritakan hal yang satu ini.

“Bukankah ayah lelaki yang sangat ideal, bu. Rajin bekerja dan tak pernah meninggalkan sholat?” tanyaku mencoba mencari tahu.

“Iya. Tetapi saat itu ketika kakekmu menanyakan sesuatu kepada ayahmu, ayah tak bisa menjawabnya.”

“Memang pertanyaan apa sehingga ayah sampai tak bisa menjawab?”

Ada aura sedih terpancar dari mata ibu.

“Apa kau siap untuk mencintai bapak dan ibu dari calon pasangan hidupmu, pemuda?”

Aku mencerna perkataan ibu. Aku angkat kepalaku yang sedari tadi bersandar dibahunya. aku pegang jemari ibuku yang sudah tak halus lagi. Tangan yang penuh pengorbanan. Perjuangan untuk membesarkanku.

“Apa Ibu takut isteri Anan tak mencintai ibu dan hanya mencintai Anan saja?”

Ibu mengangguk. Isaknya terdengar pelan. Aku dapat merasakan bagaimana kesedihan ibu. Karena hanya aku yang selama ini menjadi curahan hatinya. Tempat dimana ibu melepas kerinduan pada ayah.

“Ibu tak ingin seperti bu Sari dan pak Nurdin, Nak. Ketiga anaknya yang sudah menikah sangat jarang mengunjungi mereka. Memang kiriman uang selalu datang tiap bulan. Tetapi sesungguhnya bukan itu yang dibutuhkan. Orang tua seperti ibu butuh kehadiran mereka saja. Membawa cucu. Tapi hari-hari bu Sari dan pak Nurdin hanya dihabiskan dengan menjaga warung milik mereka. Ibu tak mau seperti itu, nak…”

Tak terasa sesak juga dada ini. Ya, aku jadi berfikir apa aku akan seperti anak-anak pak Nurdin. Aku bisa saja berjanji pada ibu untuk selalu datang dan mengunjungi ibu, tapi apakah setelah memiliki isteri dan anak semua akan menguap begitu saja? Aku genggam tangan ibu lebih erat. Sungguh, aku tak ingin kehilangan sosok ibu dari hidupku.

“Ibu akan tinggal bersama Anan, bu…”

Aku harap perkataan itu melegakan hatinya. Karena kami akan tetap bersama.

“Belum tentu isterimu kelak mau tinggal bersama ibu, nak… ibu sudah tua. Pasti akan sangat merepotkan isterimu kelak”

Ibu… dalam usia yang sudah tua seperti sekarang, tetap saja ibu tak ingin merepotkan orang lain.

“Sungguh pasti isteri Anan kelak mau merawat ibu. Sungguh bu…”

Malam semakin larut. Ibu tak mengatakan apa-apa setelah itu. Ibu malah menyuruhku untuk istirahat. Karena besok aku harus berangkat kerja lagi.

“Nak… ibu ikhlas dengan keputusanmu menikah dengan calon isteri pilihanmu. Dan ibu percaya pada apa yang kau katakan tadi. Besok ajaklah calon isterimu kemari untuk dikenalkan pada ibu.”

Aku yang hendak beranjak ke kamar terhenti mendengar ibu mengatakan itu. Aku mengampirinya dan aku peluk kakinya. Sungguh, restumu ibu tak dapat terbayar oleh apapun…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s