Sebentuk Rasa Kangen Ini…


“Aku kangen neeeneeeekkk…”

Aku yang sedang serius menekuni laporan di depan monitor melirik mendengar asal suara.

“Ehhh, abyan laagii… abyan kangen nenek lagi?” seru saya sambil mendekatinya yang berdiri di sudut meja kerja. Air matanya deras mengalir di pipinya. Sesegukan seolah menggambarkan suasana hatinya yang begitu kangen berat pada sosok yang diucapkannya. Tangan kanannya mengusap air matanya yang deras tersebut.
Saya melihat jam dari layar monitor. Jam ke enam baru saja di mulai.

“Aku kangen neeeneeekkk…”

Sudah dua kali ia datang sambil bercucuran air mata. Wajahnya begitu polos. Kemarin ia melaukan hal yang sama. Datang dengan deraian air mata yang mengalir dan sesegukan. Katanya kangen pada neneknya. Sebenarnya siswa kelas dua tersebut bukan kali ini saja menangis sambil mengucapkan kata kangen. Ketika ia kelas satu, ia juga pernah melakukannya.

“Aku kangen bundaaaaa”

Bayangkan, ia merengek meminta menelpon ibunya yang sedang bekerja. Aksinya pun sedikit ekstrem, ia membawa jilbab yang selalu dikenakan ibunya di rumah. Alamak, kangen macam apa lagi ini?

Saya sempat berpikir, banyak sebab seseorang tiba-tiba muncul rasa kangen pada sesuatu atau seseorang. Bagi abyan yang anak tunggal, kangennya mungkin masih sebatas kangen pada orang-orang yang dicintainya. Pada mereka yang selalu dekat dan perhatian padanya. Respon badannya menggerakkannya untuk bertindak agar rasa kangennya terobati.

Begitupun saya yang usianya terpaut lima belas tahun lebih dengannya. Konteks kangennya jelas berbeda. Reaksinyapun jelas tidak seperti yang abyan lakukan. Kepada apa dan siapanya pun tak sama. Bahkan terakhir kali saya kangen pada sesuatu, saya kangen ragunan. Saya masih ingat kapan saya menginjakan kaki di ragunan, yaitu setahun yang lalu. Rasa yang saya tunjukan bukan berarti saya harus ke ragunan. Kangen ini hanya bentuk sebuah keadaan yang ingin diulangi lagi. Dirasakan lagi. Dinikmati lagi. Tetapi tidak serta merta harus dibayarkan.

Seperti halnya ketika kita kangen masa-masa SD. Toh bukan berarti kita ingin kembali ke zaman SD dan bersekolah lagi di SD. Atau, ketika saya merasakan kekangenan pada sosok baba, almarhum ayah. Saya kangen pijitannya. Masih ingat di memori saya ketika saya sedang menonton tivi, baba datang dan tnpa dipinta meminjit-mijit punggung saya. Atau ketika tiba-tiba saya dikepali uang lima ribu hasil penjualan singkong dan hasil kebun lainnya. Ya, saya begitu menagngeni baba, tapi bukan berarti saya ingin baba kembali hadir. Semua rangkuman kangen itu adalah gumpalan-gumpalan reaksi dari satu peristiwa yang pernah dialami. Baik itu kepada sebuah keadaan maupun seseorang.

“Memang kenapa abyan kangen nenek?” aku merangkulnya. Mendekati wajahnya yang masih berderai air mata.

“Nenek kan lagi di rumah aku, aku takut nenek pulang ke Jakartaaaa…” jawabnya makin histeris. Padahal kalau dipikir, Depok-Jakarta bukan jarak yang jauh. Hmmm… anak-anak memang mempunyai penilaian tersendiri atas apa yang dirasakan dan dipikirkannya.

“Aku takut nenek maatiii…” lanjutnya semakin emosional.

Aku semakin mengerti mengapa anak kecil begitu takut dan menangis jika ditinggal oleh orang tuanya. Atau orang yang begitu dekat dengannya. Ketika ayah atau ibunya berangkat kerja, dengan berbagai cara, sang nenek atau penjaga di rumah yang mengasuh berusaha mengalihkan tangisan sang anak dengan mengajaknya bermain ataupun dibuatkan susu. Karena dipikiran mereka yang masih kecil itu, sosok ibu atau ayahlah yang membuatnya merasa punya teman. Peluk hangat dan belaian orang tua yang membuatnya merasa dekat.

Dan saya menyadari, kangen itu tak bisa diungkapkan dengan kata. Seperti sebuah dorongan perasaan yang mencari-cari sumber kekosongan hati agar terpenuhi. Saya, yang usianya hendak beranjak seperempat abad ini, juga mengalami kekangenan tersendiri. Pada sosok yang membuat saya tenang, tempat berbagi keluh kesah, berpegang tangan menyusuri jalan-jalan kota, atau sekedar teman pelepas kegalauan hati. Tapi saya yakin, kangen itu akan membawa takdirnya sendiri. Entah kangen itu akan menjawab semua kekosongan hati hingga terpenuhi ataukan hanya akan menjadi sebentuk kenangan yang diingat saja, dan tak ingin dibayarkan.

“Kan besok kan hari sabtu, libur. Abyan bisa main dengan nenek sepuasnya. Ya?”

“Tapi katanya nenek mau pulang ke jakartaaaa…”

“Ya sudah, sekarang abyan boleh menelpon nenek. Bilang ke nenek jangan pulang dulu ke Jakarta. Oke?”

Senyumnya mengembang. Meskipun ketika ia sudah tersambung dengan neneknya, isak tangisnya masih saja terdengar. Dan saya hanya bisa mengangguk-angguk saja.

Kangenmu terbayarkan, nak… lirihku dalam hati.

Depok,, 5.11 pagi
31 Januari 2012
Selasa ini begitu dingin ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s