Kado Merah Jambu buat Ibu


“Mar, mana ibumu?”

Huuh. Pak Hadi lagi! Sebal! Amar tahu dia kemari mau nagih utang ke ibu. Tapi yang amar gak suka, dia datang tanpa salam. Amar yang sedang memakai sarung diam saja. amar gak merasa ada orang yang datang ke rumahnya. Karena yang amar tahu dari ustadz, kalau sedang bertamu di rumah orang, ya ucap salam.

“Heeeh bocah ingusan, mana ibumu?”

“Siapa yang datang, mar?”

Tiba-tiba saja ibu muncul dari dapur. Mungkin mendengar suara pak hadi yang membentak amar.

“Eh Pak hadi… Mohon maaf pak hadi… mohon maafff…”

Amar sedih melihat ibu mulai menunjukkan wajah memelas dan permohonan maaf seperti yang dilihatnya sekarang. Memang, ibu belum punya uang untuk membayar, tetapi amar tidak suka cara ibu memelas seperti itu. Memohon-mohon bak seorang minta doa ke Allah agar doanya segera dikabulkan. Sudah beberapa kali amar bilang ke ibu supaya gak melakukan hal itu. Tapi ibu tetap saja mengulanginya lagi.

“Gak apa-apa, Mar. Sebulan sekali ini. lagipula kalau gak kayak gitu, pak hadi gak akan luluh hatinya!”

Amar menarik napasnya. Semenjak bapak tiada, ibu memang menjadi tulang punggung untuk memenuhi kebutuhan amar. Berjualan gorengan dan lontong, menjadi pembantu di rumah Tante Dita, kadang juga ikut Bu Ita bantu masak untuk keperluan ketering pesanan. Amar selalu berdoa agar cepat besar dan segera bisa membantu ibu dan gak terus merepotkannya.

Amar melangkah keluar rumah. Di depan rumah, Didit, Yodi dan Fahmi sudah menunggu menjemputnya untuk sholat maghrib di masjid.

“Amar pergi sholat dulu, bu. Assalamu’alaikum…”

***

“Tadi pak hadi menagih hutang ya, Mar?”

Yodi mencoba menyejajarkan langkah Amar. Masjid masih setengah jalan lagi.

“Iya” jawab amar pendek.

“ Oya, mar. Ustadz Hidayat udah kasih tahu ke kamu belum?” kali ini Fahmi yang berada dua jarak dengan amar.

“Tentang apa?”

“kata ustadz, rumah gedong yang ada di depan jalan ngundang anak yatim. Seperti tahun lalu”

Mata Amar berbinar.

“Kapan, Mi?” tanya Amar menggebu.

Amar melangkah lebih cepat untuk menemui ustadz Hidayat. Setahun yang lalu, rumah gedong itu memberikan amplop yang berisi uang tiga ratus ribu. Dan amar ingat, uang itu di pakai ibu untuk membeli perlengkapan sekolah amar. Dan tahun ini amar yakin akan mendapatkan jauh lebih besar.

Senyum amar semakin mengembang ketika bertemu ustadz hidayat dan ustadz bilang kalau amar disuruh datang ke rumah gedong itu. Sama seperti Fahmi.

“Pasti. Pasti amar dateng ustadz…” katanya sambil loncat kegirangan.

***

Amar memang paling suka bila tahun baru islam datang. Persisnya sejak dua tahun yang lalu. Karena ketika tanggal 10 muharram, banyak orang baik hati yang mengundang anak yatim seperti amar ke rumah mereka. Selain pulang mendapatkan amplop (ini yang paling ditunggu), nasi kotak dan minuman ringan selalu menjadi idola. Dan tanggal sepuluh besok, rumah gedong itu akan menjadi tempat favorit bagi semua anak yatim yang di undang.

Amar benar-benar gak sabar.

“Mar, ibu mau ada pengajian di rumah umi maryam. Tolong antar foto kopi KTP ibu ke rumah bu RT ya.”

Ibu sudah rapih dengan jilbab biru mudanya.

“Kok tumben bu ada pengajian?” tanya amar polos. Biasanya, yang amar tahu setiap hari minggu gak pernah ada pengajian.

“Iya, umi maryam menyuruh ibu kerumahnya buat selametan ibu”

Amar yang sedang mengerjakan tugas sekolah melirik ke arah ibu.

“Selametan apaan, bu? Pantes ibu dari pagi repot banget bikin puding.”

“Ibu baru saja khatam iqro, mar. Dan besok ibu mulai baca al qur’an kayak kamu!”

“Iiibuuuu…”

Amar memeluk ibu. Amar bangga pada ibu. Amar ingat waktu ibu meminta amar mengajari ibu baca iqro. Pada saat itu amar baru saja khatam al qur’an yang pertama. Sebenarnya amar belum lancar benar. Tapi akhirnya ustadz hidayat menyuruh ibu mengaji di rumah umi maryam dan sampai sekarang.

“Jangan lupa kasih foto kopi ini ke bu RT ya Mar”

“Buat apa, bu?”

“Pendataan ibu-ibu janda di RT kita”

“Oh…”

Sepanjang jalan ke rumah bu RT, amar melihat fotokopian KTP ibu. Matanya terbelalak. Besok tanggal 06 Desember kan? Ibu ulang tahunnn. Selama ini amar memang gak tahu kapan hari ulang tahun ibu. Sebab ibu gak pernah bilang apalagi merayakan. Otak amar berputar. Besok kan amar dapat uang dari rumah gedong, amar janji, amar akan membelikan sesuatu buat ibu. Kalau tahun lalu semua uang dari rumah gedong itu untuk keperluan amar sekolah, maka tahun ini spesial amar berikan buat ibu. Langkahnya menggebu. Gejolak hatinya memburu.

***

Malamnya amar sengaja tidur lebih awal. Berharap hari besok cepat datang. Tapi tiba-tiba matanya tertuju pada foto di dinding kamar. Diraihnya bingkai foto lalu di dekatkannya. Foto ibu, bapak dan amar yang sedang tersenyum lebar. Amar ingat ini foto ketika mereka sedang jalan-jalan ke ragunan. Dua setengah tahun yang lalu. Ketika amar naik kelas lima SD.

Hari yang ditunggu datang. Amar sengaja gak memberitahu ibu kalau hari ini ada santunan. Mungkin ibu heran. Biasanya ustadz dayat datang ke rumah untuk memberitahu tentang undangan ke rumah gedong. Tapi ibu gak berani menyinggung hal itu ke amar. Khawatir amar sedih karena gak mendaparkan undangan.

“Mar, kamu mau kemana?” tanya ibu melihat amar memakai sandal.

“Amar main dulu bu ama Fahmi. Kemarin sudah janjian.” Suara puber amar masih sangat ketara. Amar mencium punggung tangan ibu seraya mengucapkan salam. Sebenarnya amar mau mengucapkan selamat ulang tahun buat ibu. Tapi… ah, amar gak biasa seperti itu. Kalau ke teman sudah biasa. Tapi kalau ke orang tua, amar gak pernah dan agak sungkan. Lagipula sekarang amar sedang mempersiapkan kado buat ibu setelah amar dari rumah besar itu. Jadi mengucapkan selamat ulang tahunnya nanti saja sekalian amar memberikan kado.

Fahmi sudah menunggu di ujung gang. Waahh, fahmi rapi sekali. Berkoko dan berpeci. Sedangkan amar hanya berkemeja lengan pendek dan bercelana jin. Kalau amar memakai rapih kayak gitu, bisa-bisa ibu curiga.

“kamu bilang apa ke ibumu, Mar?”

Fahmi sudah tahu rencana amar. Fahmi juga yang nanti akan mengantar amar ke mall membeli kado.

“Bilang mau main denganmu. Alhamdulillah-nya ibu sih gak nanya apa-apa lagi.”

Undangan sudah banyak yang datang sesampainya di rumah gedong. Amar memandangi rumah besar ini. sudah banyak berubah. Tahun lalu di ruang tamu masih belum ada guci besar dan tinggi. Selain itu, ya bingkai foto sarjana itu tahun lalu warnanya krem, polos dan terlihat sederhana. Sekarang bingkai fotonya berwarna cokelat tua dan bermotif serat kayu. Tapi amar suka. Amar membayangkan kalau yang sedang berdiri memakai seragam sarjana itu amar yang disisi kiri dan kanan ada bapak dan ibu. Tiba-tiba amar sedih. Rasanya gak lengkap jika nanti amar kelak lulus kuliah tanpa foto bersama bapak.

“Assalamu’alaikum, pak ustadz…” amar menyalami pak ustadz yang sudah duduk bersila di lantai berkarpet krem dengan bulu-bulu lembut. Tahun lalu karpet sepesrti ini belum ada. Amar duduk persis di sebelah kiri ustadz sedangkan fami di sebelahnya.

“Pak Wagi makin sukses aja ya, Tadz. Tadi amar lihat di depan garasi rumahnya sudah ada mobil keren. Tahun lalu kan hanya mobil lama dan kelihatan tua. Belum lagi sekarang Pak Wagi angkotnya banyak. Amar sering gratis naik angkot kalau kebetulan ketemu. Di depan kaca mobil angkotnya kan tertulis Pak Wagi, jadi dari jauh juga sudah kelihatan. Pas amar turun, amar tinggal bilang, saya penerima santunan tahunan pak wagi. Beres.”

Fahmi menyikut pinggang amar. Sepertinya ia tidak sepakat dengan perkataan jujur amar ke ustadz.

“Karena pak Wagi sekeluarga menyayangi anak yatim. Jadi rezekinya selalu bertambah. Selalu di doakan oleh kalian.” Kata Ustadz Hidayat. Amar dan Fahmi mengangguk bersamaan.

Tak lama, acara dimulai. Pembacaan al qur’an lalu ceramah dari ustadz Hidayat. Kemudian istri dari pemilik rumah besar memberikan kata sambutan. Beruntungnya anak-anak yang dilahirkan dari rahim ibu haji. Terlahir dari keluarga kaya. Gak perlu memikirkan mau membantu membayarkan utang orang tuanya. Gak perlu menerima santunan sepertinya.

Ini saat-saat yang paling ditunggu. Satu persatu para penerima santunan dipanggil. Amar gelisah. Biasanya, dua nama setelah Fahmi namanya akan disebut. Tapi ini tidak. Apa sebenarnya amar tidak di undang? Kemarin ustadz Hidayat keceplosan ngomong karena gak enak ditanya amar?

“Amar Fahriansyah”

Alhamdulillaaaahhh… dadanya plong. Fahmi yang tadi ikut gelisah kembali tersenyum lebar ke arah amar. Keakrabannya dengan amar membuatnya merasa ikut sedih. Sesama anak yatim. Dari keluarga tak berada. Dan sama-sama penerima santuanan rumah gedong.

Acara usai. Satu-satu penerima santunan keluar rumah gedong sambil menenteng sekotak nasi boks. Dan tentunya sudah mengantongi amplop. Amar yakin penerima santunan menebak-nebak berapa uang yang akan didapatkan. Sama sepertinya.

“Amar, tunggu sebentar nak”

Ustadz Hidayat memanggilnya. Sandal yang baru saja di pakainya dilepas kembali. Dan menghampiri ustadz hidayat yang berdiri di depan teras.

“Ada sesuatu yang ingin ustadz sampaiakan” katanya ragu.

Amar menatap ustadz dihadapannya. Pikiran nakalnya mulai bermain. Ustadz sebenarnya ganteng. Usianya juga sudah cukup matang untuk menikah. Andai ustdz mau dengan ibu… Amar mesam-mesem sendiri.

“ada apa ustadz?”

“Mungkin ibumu belum menyampaikan hal ini ke kamu.”

Wajahnya tampak gelisah.

“dua hari yang lalu, ibumu ke rumah ustadz. Coba kamu buka isi amplop santunan kamu, mar”

Diambilnya amplop dari kantong celananya. fahmi ikut membuka. Disobek sisi pinggirnya. Dan dilihatnya uang selembar seratus ribuan. Amar terkejut.

Harapannya pupus. Isi amplop ini sangat jauh dari perkiraan amar. Sudah banyak rencana dari uang yang didapatnya. Membeli kado untuk ibu. Kasih uang ke nek Pinah, seorang nenek tua yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Mentraktir Fahmi karena tahun lalu fahmi yang mentraktirnya makan baso.

Fahmi ikut merasa sedih. Dirangkulnya amar dari sebelahnya.

“Dua hari yang lalu, ibumu meminta ustadz untuk menemaninya ke sini. Bertemu dengan ibu haji. Ibumu bilang kalau ibumu hendak membayar hutang ke pak hadi tetapi belum ada uang. Selain itu, ibumu juga butuh uang untuk slametan khatam iqro. Makanya apa yang kamu dapatnkan dari amplop sekarang sudah dikurangi dari pinjaman ibumu. Maafkan ustadz ya, nak, tidak memberitahumu sejak awal”

“Jadi…”

Amar memeluk ustadz Hidayat.

“Terima kasih ya, Tadz. Amar senang ustadz telah membantu ibu. Amar gak merasa kecewa atas apa yang ibu lakukan. Karena uang yang amar terima ini sebenarnya memang akan amar kasih ke ibu untuk membayar hutang ke pak hadi. Dan sisanya untuk membeli kado buat ibu”

Fahmi tersenyum sambil memasukkannya kembali ke kantong baju kokonya amplop yang berisi uang lima ratus ribu.

“Kamu memang anak yang baik, nak. Ustadz pikir kamu akan marah mendengar penjelasan ustadz tadi.”

“Ya udah ustadz. Saya mau ke mall dulu. Ada yang saya mau beli untuk ibu.” Kata amar sambil memakai kembali sandalnya. Fahmi mengikuti dari samping.

“Tunggu dulu, nak.”

Ustadz merogoh kantong celana bahannya.

“Ini untuk menambah membeli kado ibumu” sambungnya sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan.

“Terima kasih ustadz”

***

Kado sudah ditangan. Amar melangkah cepat menuju rumahnya. Fahmi ikut ke rumahnya sekaligus mau mengucapkan selamat ulang tahun untuk ibu.

“Assalamu’alaikum… Bu… Iibuuu…”

Ternyata ibu baru saja mengambil air wudhu di kamar mandi. Selesai ibu mengambil air wudhu, disalaminya tangan ibu yang masih basah. Sementara kado masih aman disimpan dipunggung amar sebelum diberikan ke ibu.

Tatapan ibu sedikit berbeda.

“Ambil wudhu sana, sholat bareng ibu”

“Tunggu dulu, bu… ini hadiah untuk ibu. Selamat ulang tahun ya, bu…”

Amar menatap lekat wajah ibu yang masih basah air wudhu. Ibu terkejut.

“Apa ini, mar?” tanya ibu dengan kekagetannya.

“Maafkan amar karena amar gak bilang akan dapat santunan dari rumah gedong itu. dan ustadz juga sudah menyampaikan tentang kedatangan ibu dua hari yang lalu ke rumah gedong itu. amar gak marah atau kecewa bu. Amar sayang ibu…”

Dipeluknya ibu dengan erat. Bulur-bulir hangat jatuh di pipi ibu.

“Terima kasih, mar. Maafkan ibu juga. Seharusnya ibu yang menyampaikan ke kamu bukan pak ustadz.”

Dilepaskannya dekapan ibu. Fahmi hanya menatap ibu dan anak itu dengan haru.

“Terus kado merah jambu ini isinya apa, mar?”

Ibu menimang-nimang sekotak kado berukuran sedang ditangannya. Tadi di toko tempat membeli kado amar sendiri yang membungkusnya. Sedikit berantakan karena memang amar gak terbiasa membungkus kado.

“Ibu buka aja”

Amar dan fahmi tersenyum. Ibu terlihat senang. Amar yakin ini pertama kalinya ibu mendapatkan kado di hari ulang tahunnya.

“Subhanallah… makasih ya, sayang…”

Sehelai jilbab biru muda dan sebuah bros bunga.

“Kado ini supaya ibu makin rajin ngaji”

“Iya, mar. Ibu sangat senang. Terima kasih ya. Ya sudah, ambil air wudhu sana. Kita sholat berjamaah. Dan ibu mau kamu menjadi imam sholat maghrib nanti. Ya?”

Degh! Menjadi imam? Oh iya, sekarang amar sudah SMP. Sudah seharsunya menggantikan posisi bapak. Seperti pesan bapak dulu untuk menjaga ibu, menyanginya dan kelak menjadi imam sholat menggantikan bapak jika bapak tidak ada.

“Sip, bu…”

Tiba-tiba saja amar kangen bapak…

Rabu, 13122011
05.08 pagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s