Tentang Kita (Sebuah Perjalanan Menuju Cinta)



“Nia, kulingkarkan cincin ini ke jari manismu. Dan ku harap, Tuhan melingkari hati kita untuk terus bersama…”
Nia menatap Afri, lama. Dan dalam. Kau lelaki yang kupilih mengisi bait-bait dihatiku. Sungguh malam ini aku seperti melambung tinggi. Merasa menjadi perempuan paling bahagia. Ya, kau telah menepati janjimu untuk segera meminang hati dan ragaku.
Afri mempersembahkan senyum terbaik dan pertama kali dalam sejarah hidupnya.
Nia, aku akhirnya bisa menyentuh hatimu. Melingkarkan cincin dijemari manismu. Seperti mimpiku dulu ketika aku pertama kali melihatmu. Saat kedua mataku tak berhenti terpesona akan cantikmu. Ketika degup jantung ini memompa lebih deras dari biasanya.
Jika kau ingat dulu, sungguh aku lucu bila mengingatnya. Masa-masa SMA saat putih abu-abu masih tersemat diseragam kita. Kau telah menggoyahkan hati ini. Membuat aku tak sabar menunggu pagi jika malam menjemput dan berharap malam segera cepat berakhir. Aku akan sigap mengambil sepatu kets tanpa kaos kaki dan tas cangklong gembel tua yang sudah kupakai lima tahun lamanya.
“Semoga semangatku bukan hanya untuk bertemu denganmu saja, Nia… tetapi juga menyejajarkan keceradasanmu yang terlalu terpaut jauh oleh otakku”
Kau bilang aku lelaki slengean. Kurang ajar. Gombal. Buaya darat. Preman sekolah. Tak mengapa, itu semua aku terima. Sebab, itu tandanya kau begitu perhatian pada segala sikapku. Dan itu menjadikanku malah menjadi semangat untuk mengejarmu. Bahkan umpatanmu itu laksana puisi balasan yang selalu ku dawaikan dan kirimkan padamu saban pagi dan sore hari.
Hangat mentari ini, nia… Sehangat aku menunggumu tiap pagi disisi jalan depan sekolah kita. Menyambutmu dengan puisi yang kubuat semalaman dan gitar pinjaman yang kumainkan sekenanya. Aahhh, sadarkah kau, nia…
Dan ketika matahari sore yang berjarak lima senti dari malam datang, akupun tak lupa mengirimkan selembar bait puisi ketika kau hendak memejamkan matamu tuk berisitrahat,
“Bukalah surat ini nanti malam, sebelum kau beranjak memejamkan mata…” pintaku ketika sore.
Sampai akhirnya kau bosan dan mulai berani menolak lalu membuang sepucuk demi pucuk surat bersampul polos dariku untukmu. Tak mengapa. Sebab memang aku hanya bisa menguraikan kata-kata saja. tak berani untuk mengantarkan kamu pulang sekolah atau menjajanimu di kantin bila bel istirahat tiba. Aaahhh… aku begitu kecut bila harus berhadapan langsung dengan matamu dengan jarak yang terlalu dekat.
Aku juga masih sangat ingat ketika kau memaki-makiku di tengah lapangan ketika aku sedang mendrible bola basket. Dan aku tahu, itu puncak kekesalanmu padaku. Sehingga kau berani mempermalukanku didepan umum. Tapi kau juga melihat sendiri, aku sedikitpun tak pernah merasa sakit hati atas perlakuanmu padaku. Entah bisikan surga dari mana yang menghembuskan hati ini sampai-sampai aku tak bisa membencimu apalagi bermaksud membalas semua perlakuanmu padaku.
Dan kini, Nia… setelah semua loncatan-loncatan kisah terlewati satu persatu, ku tatap matamu. Ya, tatapan yang begitu indah, penuh keikhlasan. Dan matamu berkaca. Ya, sesuatu hal yang belum pernah ku lihat. Apa kini kau melihat kesungguhan dari mataku? Nia, yakinlah. Cintaku padamu bukan cinta monyet. Bahkan sejak SMA dulu. Karena aku tlah meyakini cinta ini datang begitu saja dan aku tak bisa mengontrol untuk tidak mencintaimu. Bahkan untuk tidak mengejarmu.
6 tahun. Inilah perjuangan cintaku yang paling lama. Dalam benakku aku sempat merasa menjadi orang yang paling bodoh dan lemah. Sebab, selama perjalanan 6 tahun itu aku terus menunggumu. Mengejarmu. Bahkan, aku setia membututimu berkencan dengan pacarmu yang tak pernah kau ketahui.
Ketika aku tahu kau berjuang masuk kuliah impianmu. Dan akupun bertekad masuk kuliah sama sepertimu meski beda jurusan. Dan aku berhasil. Begitupun kamu.Semasa menempuh bangku kampus, empat tahun aku membututimu. Empat tahun aku memantaumu. Dari jauh. Dan aku yakin kau tak pernah menyadari itu. Aku segaja tak pernah bertemu denganmu. Mencoba lenyap dari kehidupanmu. Satu-satunya yang bisa mendekatkanku padamu ya kamera DSLR kesayanganku. Canon 1000D. Ditambah lensa yang lebih panjang aku bisa dengan leluasa membidikmu dari kejauhan. Ini mungkin terlihat bodoh. Dan teman-temanku mengiyakan.
“Gak jentel”
“Kuno! Hari gini masih aje pake cara jadul”
“Apa nikmatnye mendangin cewe Cuma dari kamera? Gak ada sensasinya!”
“konon, lelaki yang hanya bisa mandangin wanita idamannya dari kejauhan, menyebabkan penyesalan tak berujung”
Ya, teman-temanku menganggapku sebagai lelaki merah jambu. Aku yakin pernyataan mereka sebenarnya memotivasi aku untuk terus berjuang mendapatkanmu. Tapi mereka gak pernah tahu bagaimana dulu ketika SMA. Aku sudah merasa cukup dengan semua ulah keremajaan aku dulu. Dan kini aku menikmati aktivitasku seperti ini. Karena aku sadar kau sudah terlalu capek dengan kenakalanku padamu kala itu.
Sampai saat ini, ketika hati kita sudah merasa menjadi satu, mungkin kau tak pernah tahu bahwa aku masih menyimpan semua foto-fotomu ketika kuliah. Saat kau sedang dibonceng Bob, cowok anak ekonomi yang ku tahu pacar selingkuhamu. Atau ketika kau sedang menunggu bus di halte depan kampus. Saat kau menyiram tanaman di depan rumahmu. Ketika kau sibuk mondar-mandir sebagai ketua panitia acara open rekrutmen BEM jurusanmu. Bahkan, ketika kau sedang berbelanja mencari kebutuhan rumah bersama ibumu? Semua lengkap, Nia… empat tahun. Dan yang paling aku terpukul sekaligus sakit hati, adalah ketika aku meihat kau sedang bersama Gatot, mahasiswa semester akhir yang menjadi pacarmu, sedang memelukmu di taman kampus. Bahumu berguncang hebat waktu itu. Ya kau menangis. Entah kau menangisi apa. Sebab aku tak pernah mendengar setiap obrolan kamu dengan siapapun. Seharusnya yang memelukmu, aku. Saat itu aku sakit sekali, Nia. Sakit. Melihat seseorang yang dicinta sedang dipeluk oleh orang lain. Rasanya aku tak sanggup untuk menagabdikan momen itu. Tapi aku sadar, aku bukan siapa-siapa kamu. Dan aku juga tak punya hak untuk melarangmu. Tiga hari setelahnya, aku ketahui ayahmu ternyata meninggal.
Nia, aku tak pernah bermaksud menelanjangimu dengan semua foto-foto yang aku ambil secara diam-diam itu. Tidak sama sekali. Aku hanya ingin tahu kau sedang apa. Dimana. Dengan siapa. Sebab aku tak pernah berani meneleponmu. Mengirim pesan ke hp-mu. Mencari facebook atau twittermu. Tidak. Karena aku sudah berjanji selama kuliah aku tak akan mengganggumu.
Nia, ketika kau hulurkan tanganmu menerima pinanganku, ada getar yang tak bisa aku sebut itu apa. Ini pertama kali rasa terindah saat aku menyentuh jemarimu. Serasa persendian lemas. Dan hati bergejolak tak menentu.
Tapi aku akan membawamu dulu kesuatu tempat. Dimana selepas kita menanggalkan titel mahasiswa dan segera mencari kerja lalu mendapatkannya dengan gelar sarjana di belakang nama kita, ragaku dan ragamu dipertemuakan. Memang, pertemuanku denganmu bukan tanpa direncanakan. Sebab Vika, teman karibmu kala kuliah dulu satu kantor denganku. Aku benar-benar kaget saat aku masuk diperusahaan yang sekarang aku jalani. Vika beda departemen denganku tetapi masih satu lantai. Dan seperti melihat cahaya di dalam diri Vika tentangmu, aku seolah tercerahkan. Membuka jalanku untuk menggapai mimpiku. Dan Tuhan ternyata mendengar doaku. Doa yang aku panjatkan sejak SMA dulu. Kalau kau tak percaya aku masih menyimpan tulisanku di buku tulis mata pelajaran sejarah SMA. Dihalaman belakang. Disaat aku bosan pak Min mengerangkan sejarah berdirinya samudera pasai kaerena aku memang paling lemah dengan sejarah. Dihalamn terakhir itu aku tuliskan,
“Sejarah akan mencatatku sebagai pencari cinta sejati. Cintaku padamu, Nia. Ku yakin Tuhan mendengar doaku. Amin”
Kuberikan beberapa fortofolio tentangmu pada Vika agar dia percaya bahwa selama ini aku tak pernah bermain-main dengan perasaanku padamu. Di awal Vika memang terkejut. Dia tak pernah sekalipun mengenalku. Melihat batang hidungku dikampuspun tidak. Namun, ketika aku sodorkan beberapa foto saat dia sedang bersamamu di suatu tempat, ia percaya. Dan dia menggeleng-gelengkan kepala mengetahui semua kelakuanku.
“Betapa bodoh Nia telah menyia-nyiakan cowok sepertimu, Fri.”
Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Vika. Mungkin vika baru bertemu dengan orang sepertiku. Tapi aku yakin, di belahan wilayah atau negara lain atau mungkin di sekeliling kita, ada juga orang sepertiku. Hanya kebetulan, vika bertemunya denganku.
“Tapi benar, Fri. Aku salut denganmu. Andai ada cowok satuuu lagi aja kayak kamu, aku gak akan pernah lepaskan”
Dan vika mempermudah semua. Setelah beberapa janji tak terlaksana, pada satu kesempatan. Di tempat ini juga, di sini. Persis. Sama seperti saat kita duduk berdua ini. kita bertemu. Aku dengan setelan pakaian kerjaku dan kamu dengan setelan pakaian kerjamu. Dan aku pangling melihatmu. Sejak kapan kau berjilbab, Nia? Rasanya aku ingin melontarkan pertanyaan itu ketika aku melihat dirimu yang anggun. Sebuah bros berwara cokelat menghiasi jilbab ungu muda yang kau kenakan. Aaahhhh,,, aku semakin jatuh cinta padamu, Nia… Sungguh.
Dan kau sangat terkejut ketika melihatku.
“Kamu…”
Dan kita saling terdiam untuk beberapa saat. Aku tak tahu harus memulai dari mana untuk membuka percakapan waktu itu. Empat tahun lebih kita tak pernah bertegur sapa. Berkomunikasi. Bahkan mungkin kau gak pernah melihatku. Entah apa yang ada dipikiranmu saat itu.
“Hmm, kamu mau aku pesankan jus mangga tanpa es? Dan roti bakar selai kacang?”
Seketika aku teringat makan dan minuman kegemaranmu. Sama seperti hidangan yang ada didepan kita saat ini. Kau hanya mengangguk. Senyummu tak pernah berubah, Nia… selalu memesonakan aku.
Dan kita menjadi sering, setidaknya sepekan sekali bertemu. Waktu itu, sebelum kita bertemu, aku ingin sekali memegang jemarimu. Menuntunmu ketika menyeberang jalan. Atau menggandeng tanganmu saat kita sedang berjalan bersama ditempat keramaian. Tetapi aku tak sanggup, Nia… dan ini kelemahanku. Keberanianku saat ini baru sampai mengajakmu jalan. Belum berani untuk menyentuhmu. Kalaupun kita pernah bersentuhan itu juga ketika kau hendak jatuh karena sepatu hak tinggimu patah. Aku dengan sigap menagkap tubuhmu yang tak seimbang. Dan satu lagi, ketika kita menonton film. Kamu mengajakku menonton film horor trailer luar negeri. Saat itu aku tak terlalu suka. Tetapi kau kekeuh mau nonton. Dan jadilah sepanjang film berlangsung, tangamu mengapit erat tangan sebelah kananku. Saat itu aku seperri menjadi lelaki paling bahagia. Karena telah memberikan keamanan padamu.
Lompatan-lompatan kisahku jauh lebih bahagia saat itu. Sebab, kau tak pernah lagi menolak saat aku ajak jalan. Atau sekedar minta ditemani ke suatu tempat. Bahkan, kau yang kaulah lebih perhatian padaku. Membangunkanku tengah malam hanya untuk sekedar mengucapkan selamat tidur. Mengirim pesan sambil ngingetin aku untuk makan siang atau sholat. Menelponku pagi-pagi agar aku gak kesiangan berangkat kerja. Bahkan, kamu selalu mengantarkan aku ke bandara ketika aku dapat tugas luar ke kalimantan atau daerah lain. Aku merasa perjuanganku membuahkan hasil. Aku telah mendapatkan apa yang aku inginkan darimu, Nia. Entah vika menyampaikan apa kepadamu sehingga aku melihat kau begitu berbeda dengan Nia yang aku kenal ketika SMA dulu.
Tapi suatu hari,
“Fri, sekarang pacar kamu siapa?”
Deg. Nia, kau menanyakan hal itu. Sebuah pertanyaan yang sangat ku tunggu. Karena momen pertanyaan itu akan aku jadikan momen aku mengatakan perasaanku padamu. Belum sampai aku melontakan sepatah kata, kau telah mematahkannya.
“Cowok setia kayak kamu pasti sudah punya pacar. Hmmm. Beruntung ya punya pacar kamu.”
Aku tak bisa berkata apa-apa. Sebulan setelah itu kita putus komunikasi. Vika jadi susah diminta ketemu. Semua seolah kembali seperti semula.
“Kamu bilang kamu sedang dekat dengan seorang cewek di kampung, Fri. Dan itu yang membuat Nia tak yakin padamu!” hanya itu kalimat terakhir Vika saat berpapasan dijalan.
Tuuhaaannn, aku melupakan Asti, wanita yang dekat denganku. Aku memang pernah bilang ke vika kalau aku sedang dekat dengan Asti. Dua minggu yang lalu. Tapi hanya baru dekat. Tidak sampai pada tahap pacaran. Memang, aku selalu mendatangi rumahnya ketika sedang ke rumah kakekku. Disetiap bertemu, panjang lebar aku banyak gobrol dengannya. Asti sosok cewek sederhana tetapi pikiran dan wawasannya sangat luas. Bisa semalaman kami ngobrol di beranda rumahnya. Memang, kakek juga sering memanas-manasi kami tentang hubungan aku dengan Asti. Ya, jujur aku mengagumi Asti. Sempat aku berpikir sebelum aku bertemu denganmu, Nia, jika aku memang tak berjodoh denganmu, aku akan meminang Asti. Tapi Tuhan berkata lain. Dia memberikan jalan untuk aku padamu.
Seminggu setelah perkataan Vika, aku berpikir keras dengan cara apa aku meyakinkan Vika, terlebih Nia.
“Lihatlah, aku baru saja mendapatkan undangan pernikahan Asti.”
Dengan perasaan bersalah aku memberikan undangan palsu yang ku buat meminta pertolongan seorang teman. Ini cara terbaik yang bisa aku lakukan untuk kelangsungan hubungan aku dengan Nia, Vika… Maafkan ya… dan kamu percaya. Juga Nia.
Tiga hari setelah kamu membaca undangan Asti, kita bertemu lagi. Di tempat yang sama. Di meja ini.
“Aku sayang kamu, Nia. Kamu mau menjadi pacarku? Untuk hubungan yang lebih serius?”
Ya. Senyummu mengembang, Nia. Aku yakin kau juga mencintaiku.
“Kita jalani saja dulu, Fri. Sampai kita terus menata hati kita untuk terus dekat.”
Jawabanmu menenangkanku, Nia. Entah kamu mau menafsirkan kita berpacaran atau tidak. Tetapi aku meyakini, sekali lagi, aku meyakini, kita telah resmi berpacaran.
Enam bulan. Setahun. Setahun setengah. Aku masih menyimpan semua memori tentangmu. Foto-foto itu. Surat-surat yang kau buang dan robek. Ya. Aku akan menyerahkan padamu. Membuktikan perkataan Vika tentang apa yang telah aku lakukan pdamu. Dulu Vika memang hanya mengutarakan lewat kata-katanya saja. tapi kini, aku akan membuktikannya, Nia.
Malam ini.
Dan ini untuk pertama kalinya aku menyentuh jemarimu dengan sesungguhnya. Melingkarkan cincin perak kejemari manismu. Lengkap sudah perjalananku. Perjalanan tentang kita. Tentang cinta.

02.18
Selasa, 13-12-2011
DBS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s