Senyum Abah



Langkahnya tertatih. Tongkat yang menyanggah tubuhnya bergetar ketika sosok tua berusia lima puluh delapan tahun itu mulai mengayunkan setapak demi setapak menuju musholah kecil di ujung jalan. Dengan sabar, Abah, panggilan akrabnya, sambil menggenggam tasbih dijemari kanannya, melewati rumah-rumah yang saling berdempetan di kanan dan kiri jalan. Tidak hanya itu, sapaan dan senyumnya, seluruh warga yang sedang duduk-duduk di teras rumah atau warung-warung begitu mengenalnya. Hangat dan akrab. Padahal, Abah sangat jarang ikut duduk-duduk bersama mereka. Mungkin sungkan. Karena sosoknya yang bersahaja dengan kopiyah hitam memberi kharisma tersendiri yang terpancar dari dalam dirinya.

“Aabaaahhh…”

Segerombolan bocah-bocah perempuan yang sedang bermain boneka menyapanya. Mereka sangat mengenal abah. Tiap jum’at sore, di halaman depan rumahnya, abah menggelar tradisi tersendiri, berbagi pengalaman dengan bocah-bocah di sekitar rumahnya melalui kelihaiannya dalam berdongeng. Saat bercerita, di tangan kirinya tersaji berbagai macam gambar binatang. Jerapah, kelinci, katak dan berbagai jenis binatang lucu hasil karyanya. Abah memang jago gambar sejak dulu.
Senyumya mengembang.

“Jangan lupa ya besok sore ke rumah abah. Abah punya cerita bagus loh…”

“Oke abaaahhh…”

Abah kembali melangkah. Musholah tercintanya sudah di depan mata. Sebentar lagi masuk sholat ashar. Sebelum langkah kanannya menginjak lantai depan musholah, matanya mengelilingi seluruh sudut-sudut musholah. Berharap ada satu dua yang sedang beristirahat. Biasanya yang tidur-tiduran di rumah allah pedagang kasur, mainanan anak, jepitan, atau tukang bakso. Tapi sama seperti hari-hari yang lalu. Sepi. Senyap dan hanya suara cicak yang sedang bercengkrama di dinding putih musholah.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh…”

Abah yakin walaupun rumah allah ini kosong tak ada orang lain selain dirinya, tetapi Allah, cicak, semut dan segala benda yang ada di rumah Allah ini mendengar dan menjawab salamnya.
Disusuri seluruh penjuru musholah.

“Uhhukkk…”

Ditutup hidungnya. Bau pesing menyengat dari toilet. Abah beristighfar. Masih dengan tertatih, diciduknya beberapa kali air dari bak kolam. Setelah yakin baunya sudah hilang ia menyiramkan karbol ke lubang wc.

“Menggunakan kamar mandi untuk sekedar buang hajat boleh saja, yang penting di siram sampai bersih setelahnya” Katanya berbicara sendiri dengan nada sabar seolah pelaku perbuatan jorok itu berada di sampingnya.

Langkahnya lebih sigap menuju mimbar letak mic azan berada. Masjid besar di depan jalan raya sudah terdengar. Ia tidak boleh terlambat menyerukan panggilan sholat. Abah yang mengumandangkan, abah yang mengiqomatkan dan abah pula yang menjadi imamnya. Sendiri.
***

Tadi sepulang sholat ashar dari musholah, abah hampir saja terserempet pemuda tanggung yang mengendarai motor dengan ugal-ugalan. Syukur abah bisa menghindar. Namun sikut kanannya agak sakit karena tersenggol stang. Dibalurinya obat gosok ke sikutnya. Diurut-urunyat pelan.

“Makanya, bah. Abah udah tua, jalan aja susah, ngapain pake ke musholah. Allah juga gak maksa abah untuk ke musholah toh. Lagi pula abah bilang yang sholat di situ juga cuma abah doang.”

Abah yang mendengar perkataan Agus, anaknya yang baru saja pulang kerja tentu saja tersulut. Tapi abah sudah belajar menahan marah meskipun abah tersinggung dengan ucapan anaknya sendiri. Abah hanya diam.

“Motor jangan di masukkan ke dalem dulu, Gus. Abah minta anterin sholat maghrib ke musholah, boleh?”

Agus yang hendak memasukkan motor metiknya kembali menaruh ketempat semula.

“Abah, abaah…” Agus menggelengkan kepalanya. Tak mengerti dengan kemauan orang tua.
***

Mahgrib berkumandang. Suara azan abah begitu khas. Agus, menunggui abahnya di warung kecil tak jauh dari musholah.

“Lu gak masuk buat sholat juga, bang?”

Pian, pemuda tanggung yang berjualan di warung tempatnya menunggu abah menghampirinya sambil membawa segelas kopi susu pesanannya.

“Belum mandi gua. Baru aja sampe rumah, si abah minta dianter ke musholah.” Katanya sambil menyeruput kopi susu yang masih mengepul asap.

“Saya salut dengan abah, bang. Tiap hari dengan tertatih pake tongkat tapi masih semangat buat ke musholah. Sejak saya tinggal di kota dan berjuang hidup sendiri di sini, saya benar-benar kangen bapak yang selalu ngingetin dan mengajak saya ke masjid untuk sholat. Kota memang kejam, bang. Saya benar-benar sudah jauh meninggalkan kebiasaan saya yang dulu. Kalau saja bapak saya ada di sini…”
Agus menggaruk-garuk daun telinganya yang tak gatal.

“Kenapa lu jadi curhat sama gua? Kalo emang lu kangen sama bapak lu, ya pulang sana ke kampung lu dan jangan balik lagi. Jakarta udah sesak sama perantau gak jelas kayak lu,”

Agus menenggak habis minumnya. Membayar dan menghidupkan mesin motornya. Abah sudah berdiri di depan gerbang musholah.

“Kembalinya, bang?”

“Ambil buat lu pulang kampung!”

Pian memajukan mulutnya berberapa senti.

“Kembali Cuma dua ribu mana bisa buat modal pulang kampung, bang…”
***

Halaman depan rumahnya sudah ramai anak-anak yang menunggunya. Abah melangkah menuju halaman dengan membawa beberapa gambar yang dibuatnya semalam. Kali ini ia tidak membuat gambar binatang.

“Assalamu’alaikum, anak-anak abah…”

Serantak anak-anak berhamburan ke arahnya. Menjawab salam dan berebut menyium tangan abah. Yang diam-diam dari ciuman mereka abah bersemangat menggambar untuk mereka. Seperti seorang anak yang hendak berangkat sekolah dan menyium tangan orang tuanya sehingga doa mengalir untuk anaknya sepanjang belajar.

“Abah, abah, hari ini abah mau bercerita apa?” Winda, gadis kecil berkepang dua yang tak pernah absen ke rumah abah tiap jum’at sore

itu memang selalu penasaran dengan cerita abah. Dan yang paling antusias.

“Hari ini kita bercerita tentang ibu, nak…” jawab abah sambil mengelus kepala Winda dan tersenyum.

“Hore…” sorak Winda sambil berlari menuju tikar yang di gelar di halaman.

Kacamata bacanya mulai dipakai. Kopiahnya dilepas dan digantinya dengan topi panjang ala pesulap di televisi. Kali ini abah memakai kemeja dan dasi. Abah terlihat begitu berwibawa.

“Waahhh,,, abah ganteng banget!” seru Gilang, lelaki kecil anak pak RT.

“Dengan kasar, Gandi, anak satu-satunya itu mengamuk! Ibuuu… mana susu pesanan gandi? Gandi mau berangkat ke sekolah. Nanti terlambat!”

Gambar Gandi yang abah sebut diperlihatkannya kepada seluruh anak-anak yang ada di hadapannya. Anak-anak terkesiap. Terdiam. Sebagian mengerutkan tubuhnya. Lalu wajah sketsa ibu hadir.

“Anakku yang ibu cintai, ibu mohon maaf, hari ini kamu tidak minum susu dulu. Ibu sudah membuatkan teh manis hangat untukmu. Semalam dagangan bapak tidak habis. Diminum ya nak teh hangat ini…”

Abah menatap mata bulat Winda yang berkaca. Entah apa yang ada dipikirannya. Sehingga ia tersentuh dengan cerita abah. Yang abah tahu ibunya menjadi TKW di Arab Saudi. Mungkin ia teringat ibunya di sana.

“Pokoknya Gandi gak mau sekolah kalau gak minum susu!”

Gambar kemarahan Gandi di bentang. Gelas berisi teh manis hangat di singkirkan kasar oleh Gandi sehingga lepas dari genggaman tangan ibunya.

“Ya Tuhan… berikanlah kami rizki agar anak kami bisa minum susu ya Allah… jangan biarkan kemarahannya membuatnya tidak berangkat sekolah…”

Sang ibu berdo’a. Dari gambar terlihat air mata sang ibu mengalir. Do’anya khusyuk. Permintaan yang benar-benar ingin segera dikabulkan Tuhan.

“Hari berganti, berkat do’a yang di lantunkan sang ibu, akhirnya Gandi kembali mau bersekolah karena selalu tersedia susu sebelum ia berangkat sekolah. Suaminya, karena kerja kerasnya akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik. Diterima bekerja di pabrik kerupuk dan penghasilannya jauh lebih besar daripada hanya sekedar berdagang gorengan.”

Abah menatap satu-satu anak-anak yang berjumlah lebih dari duapuluh anak itu. Gambar terakhirnya menunjukkan kebahagiaan sang ibu dan Gandi.

“Anak-anak abah, siapa yang sikapnya mau menjadi seperti Gandi? Yang kasar pada ibunya? Yang jika kemauannya tidak di turuti, tidak mau bersekolah?”

Semua menggeleng. Termasuk beberapa orang tua yang sedang menunggu anak-anak mereka.

“Kita sebagai anak yang dibesarkan, dirawat dan disayangi, harus menghormati orang tua kita, terlebih ibu. Ibu yang telah melahirkan kita. Siapa yang sayang dan cinta dengan ibu?”

Semua mengacung. Tapi ada tiga anak yang tidak mengacungkan tangan. Mereka malah menunduk.

“Pul, kenapa kamu tidak mengacungkan tangan?” tanya abah menatap lekat mata Ipul.

“Mmmm, Ipul gak punya ibu dari Ipul kecil. Jadi Ipul gak tahu apa ibu Ipul sayang ipul apa nggak…”
Abah menarik napasnya.

“Pasti ibu Ipul sayang dengan Ipul. Asalkan Ipul selalu mendoakan ibu Ipul. Ya?”

Ipul mengangguk.

“Kalau kamu, Ta, mengapa kamu tidak mengacungkan tangan?”

Dita, si pemalu bermata sipit itu mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk.

“Dita tinggal dengan nenek di sini. Jadi, Dita sayangnya sama nenek. Mamah juga jarang datang ke rumah nenek. Jadi Dita Cuma sayang nenek…”

“Sini, nak. Sini…” abah meminta Dita menghampirinya. Dengan malu-malu Dita melangkah kehadapan Abah. Abah memberikan selembar gambar seorang ibu yang dibuatnya. Seorang ibu yang sedang berdo’a.

“Kamu tempel gambar ini di depan meja belajarmu ya, nak. Bayangkan ini adalah wajah mamahmu. Mungkin Dita nggak tahu bahwa ternyata di sana mamah Dita selalu mendo’akan Dita. Pasti mamah Dita kangen dengan Dita. Mulai sekarang, Dita nggak Cuma menyanyangi nenek saja, tetapi juga menyayangi ibu Dita yang di sana. Ya?”

Diambilnya gambar berukuran 4R itu. Didekapnya erat.

“Terima kasih ya, bah…”

Diciumnya punggung tangan abah. Abah begitu bahagia hari ini.

“Hadi, boleh abah tanya mengapa kamu juga tidak mengacungkan tanganmu?”

Hadi yang duduk di baris ke dua memang sejak awal abah bercerita sudah gelisah. Sepertinya tidak mendengarkan cerita abah.

“Untuk apa hadi sayang ibu kalau hadi tiap hari dimarahin dan dipukulin ibu?”

Abah mengerutkan kening. Semua mata tertuju ke arah lelaki kelas tiga SD itu.

“Hadi, kemarilah, nak…”

Hadi menggeleng.

“Hadi gak sayang ibu, untuk apa hadi harus maju?” katanya dengan nada sedikit tinggi.

Mata abah mengisyaratkan hadi untuk ke depan. Berdiri disampingnya. Hadi maju dengan ragu.

“Nak, setiap ibu pasti menyayangi anaknya. Hadi ingat, kalau hadi sakit siapa yang merawat hadi?”

“Bapak!” jawabnya ketus.

“Kalau hadi pergi sekolah, siapa yang membuatkan sarapan?”

“Hadi nyendok sendiri. Mana pernah hadi disendokin. Ibu sibuk dengan Sifa, adik Hadi”

Abah mengangguk. Abah melayangkan pandangan ke anak-anak di hadapannya.

“Anak-anak abah, sekarang mari kita sama-sama mengucapakn, aku sayang ibu… ikuti abah ya… aku sayang ibu…”

Serenak mengikuti, mulut kecil Dita pelan juga mengikuti. Sebenarnya abah berharap hadi mengikuti, tetapi hadi bergeming. Mulutnya rapat.

“Hadi, sekarang abah minta hadi mengatakan apa yang tadi abah katakan ya?” dirangkulnya punggung hadi.

Hadi masih terdiam. Suasana hening. Pasang-pasang mata menunggu hadi mengucapakan apa yang abah pinta. Abah memberi keyakinan dengan menatap mata hadi dan menyunggingkan senyum khasnya.

Hadi menarik napas dalam. Ya, hadi ingin mengatakan itu. Tetapi bibirnya seperti kelu. Ia masih ingat seperti apa perlakuan ibunya terhadapnya. Dipukul dengan pangkal sapu ijuk, di siram dengan air sumur karena bangun kesiangan. Mencuci piring sambil dimarahi karena telat pulang sekolah. Hadi tak melihat sayang itu dimata ibunya. Tidak.

“Hadi… Sayang… Sayang Abah…”

Abah menunduk. Ada hangat mengalir ke pipinya yang keluar dari matanya. Dipeluknya hadi erat. Abah kangen kata-kata itu. Dulu, hanya isteri tercintanya yang mengatakan itu sebelum akhirnya meninggal dunia. Dua anaknya? Abah menggeleng. Dulu ia terlalu keras kepada kedua anaknya. Sama seperti yang dilakukan ibunya hadi. Air matanya semakin deras.

“Abah juga sayang… sayang sekali dengan kamu, nak…”

Sebentar lagi maghrib. Agus sudah ada sejak tadi, setengah jam yang lalu. Air matanya ikut basah. Kata-kata Abah kepada hadi yang terakhir seperti mengarah untuknya. Agus melangkah menuju teras rumahnya. Ditaruhnya tas cangklong kerjanya. Ditunggunya abah hingga semua sepi. Yang tersisa hanya mereka berdua.

Tertatih abah memasuki teras. Hentakan tongkatnya terdengar jelas dari lantai. Duduk terlalu lama membuat pinggangnya sakit.

“Gus, kamu sudah pulang toh? Bagaimana pekerjaanmu hari ini?”
Sebuah pertanyaan yang selalu terlontar dari abah untuknya sepulangnya dari kerja. Abah memang sudah berubah. Apalagi setelah wafat ibu tercintanya.

“Bah, abah mau agus antar ke musholah?” Ini pertama kali ia menawarkan diri mengantar. Ada ragu yang menyelusup hatinya.

“Kamu baru saja pulang, Gus. Abah jalan saja sendiri. Abah sudah menyiapakan makan malam untukmu. Pasti kamu lapar. Ya sudah, abah berangkat ke musholah dulu, assalamu’alaikum…”

Abah memberikan gambar buatannya ke tangan Agus. Meminta ditaruh dikamar abah. Ditatap punggung abah yang sudah semakin membungkuk karena ia sering melihat abah menggambar di lantai. Berjalan pelan dengan tongkat kesayangannya.

“Tongkat ini bagus ya Gus, sangat cocok dengan tubuh abah. Apalagi warnanya cokelat tua. Bang, abah ambil yang ini ya?”

Masih ingat di memori Agus ketika abah begitu ngotot meminta diantarkan mencari tongkat ke pasar. Dengan berat Agus mengantar abah ke pasar tradisional. Sepanjang perjalanan hatinya hanya menggerutu. Hari itu ia punya janji dengan Mita, wanita yang sedang di dekatinya. Apa yang abah tanya, katakan, bicarakan, hanya dijawab dengan anggukan dan cemberutannya. Entah mengapa ia merasa menyesal hari ini.

Dilihatnya gambar buatan abah. Ya, darah seni yang masih mengalir ketubuhnya sampai saat ini adalah ini. Ya, abah yang mengajarkannya menggambar hingga ia sekarang bekerja di sebuah penerbitan buku khusus desain grafis. Sedangkan kakaknya yang sudah menikah bekerja sebagai arsitek.

“Terima kasih, bah… agus sayang abah…”

Agus mendengarkan suara azan itu. Suara abah. Maghrib telah masuk. Kali ini Agus mendengarkan hingga selesai. Ada senyum abah yang menggantung dipelupuk matanya. Senyum yang dulu dirindunya.
***

“Bah, agus mau kasih tahu sesuatu ke abah.”

Abah dan anaknya sedang duduk di saung belakang rumah. Ahad pagi mereka baru saja merapihkan gudang. Rencananya gudang itu untuk studio gambar abah.

“Terima kasih ya, Gus, sudah bantu abah merapihkan gudang. Oya, kamu mau kasih apa buat abah? Dengan kamu bantu abah merapihkan gudang sudah menjadi hadiah besar buat abah. Mana bisa abah merapihkan sendiri. Haha…”

Ya. Ini yang Agus rindukan. Percakapan ini. Tak ada yang dibuat-buat. Dan abah juga merasakan itu.

“Gini, bah. Agus ingin melamar, bah… Agus minta do’a restu abah. Insya Allah awal bulan depan”

Abah terkejut. Abah tersenyum. Ada bahagia. Ya, anaknya yang kedua akan segera melapas lajang. Disaat ia mulai merasa dekat, ternyata ada satu hal yang ia lupakan.

“Memang sudah waktunya kamu berkeluarga, Gus. Do’a abah selalu untukmu, Gus. Pesan abah, cintai isterimu kelak, bimbing ia selalu dalam kebaikan ya, Gus…”

Agus merangkul punggung abahnya. Sore beranjak menepi. Setengah jam lagi maghrib tiba.

“Abah juga mau kasih tahu sesuatu ke kamu, Gus…” kata abah penuh teka-teki.

“Sesuatu apa, bah?” kening Agus berkerut.

“Kamu tahu mengapa abah meminta kamu membantu abah merapihkan gudang?”

“Karena akan di jadikan studio gambar abah,kan?”

“Ya salah satunya.”

“Tapi…”

“Tapi selain di jadikan gudang, sebuah stasiun televisi swasta juga mau membuatkan program dongeng di sini. Abah akan menandatangani kontrak untuk acara dongeng anak, Gus… Do’akan abah selalu sehat ya…”

Agus memeluk abah. Lalu menuntun tangan abah ke dalam rumah. Dan Agus semakin bangga pada abah. Sayang yang teramat dalam.

“Nanti Agus antar abah ke musholah ya, bah. Sekalian agus temanin abah sholat di sana. Agus mau jadi imam yang baik untuk isteri agus nanti, bah…”

“Iya, gus. Itu harus…”

Senyum abah mengembang. Dan senyum itu memberi energi untuk anaknya. Begitu dalam. Dan Agus tahu, abah begitu menyintainya.
***

3 thoughts on “Senyum Abah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s