Lelaki yang Memeluk Angin



“Yah, Panjul masih kangen ibu”

Semalam ayah dan anak ini baru saja menjenguk seorang wanita yang sangat mereka cintai. Jumi, sudah dua bulan ini dirawat di rumah sakit jiwa.

Kasto masih ingat kejadian tempo hari yang dialami isterinya.

“Samiiin… Samiiin…” teriak Jumi kala itu.

Sebenarnya jauh sebelum Kasto menikahi Jumi, Kasto sudah tahu akan kekurangan isterinya tersebut. Mereka kenal sejak sama-sama dibangku SMP. Bagi Kasto, Jumi cinta pertamanya. Dan Kasto tak perlu berjuang untuk mendapatkan cinta sebab Jumi juga mencintainya. Sebelas tahun merajut cinta, sulit bagi Kasto tuk melepaskan sampai ia akhirnya mereka menikah.

Ini adalah bulan ke dua penyakit isterinya kambuh. Setiap yang keluar dari mulutnya hanyalah Samin. Tiap kali Kasto menemui sang isteri untuk melepas rindu, justru yang terucap dari mulut Jumi adalah Samin. Sang Dokter yang menagani kasus Jumi meminta Kasto untuk mencari keberadaan orang yang selalu disebut-sebut isterinya tersebut. Awalnya Kasto cemburu, sebagai suami ia merasa tak pernah dianggap oleh isterinya. Pengorbanannya selama ini sia-sia. Tapi ia sadar, bahwa isterinya sedang sakit dan membutuhkan penanganan khusus.

“Iya nak, besok malam kita ke sana lagi.” Jawab Kasto mencoba memberikan ketenangan pada anak satu-satunya itu.

Keesokan harinya, Kasto mulai mencari informasi keberadaan Samin. Tempat yang pertama ia datangi adalah SMP dimana mereka dulu bersekolah dan saling mengenal. Ia mencari tahu alamat Samin. Setelah mendapatkan alamat Samin dan didatanginya ternyata rumah yang dituju sudah bukan milik keluarga Samin lagi.

Ia lalu mendatangi rumah Agus, teman akrab Samin kala SMP dulu. Ia masih ingat rumah Agus karena ia sempat satu kelas dengannya di kelas dua dan pernah menjenguk Agus yang kala itu sakit. Sayang rumah yang didatanginya sepi. Agus sudah lama merantau ke Kalimantan, salah satu keluarganya bilang sudah tiga tahun tidak pulang dan tidak kasih kabar. Kasto menangis. Hampir saja menyerah. Tapi hasrat untuk kesembuhan isterinya masih membuncah didalam hatinya. Ia ingin Jumi sembuh. Ia ingin semua kembali normal. Ia ingin Panjul kembali dalam dekapan ibunya tercinta.

Sepulang dari rumah Agus hari sudah larut. Panjul yang dititipkan ke tetangga sudah tidur di sofa ruang tamu rumah pak Kasim, tetangga depan kontrakannya. Kata pak Kasim, Panjul tidak mau tidur dikamar karena mau menunggu ayahnya pulang. Tiap malam, Panjul juga uring-uringan. Badannya panas. Ia kangen ibunya. Ia mau diantar sekolah oleh ibunya. Seharusnya awal masuk SD menjadi hal yang menyenangkan dan gembira, tetapi Panjul justru harus kesepian, merasa tak ada yang memperhatikan. Air mata Kasto kembali jatuh. Ia sangat mencintai Jumi dan Panjul. Penyemangat hidupnya hanya mereka.

Setiap malam setelah menemani Panjul hingga benar-benar tidur, Kasto menaiki atap loteng kontrakannya. Beberapa pakaian masih menggelantung di tali-tali jemuran. Ia lihat pakaian Panjul. Ah,, ia sering lupa mengangkat jemuran pakaian belakangan ini. Tapi kali ini ia tidak ingin langsung mengangkat pakaiannya, ia ingin memandangi langit. Kasto kangen Jumi. Ya, disaat-saat seperti ini ia ingin dekat dengan Jumi. Kasto kangen ngobrol dan bercengkrama dengan isteri yang sangat disayanginya. Kasto kangen memeluk isterinya.

Melepaskan semua rasa yang terpendam selama ini. Kasto ingin mengatakan cinta pada Jumi. Membisikkan kata-kata mesra pada Jumi. Kasto ingin membawa Jumi jauh dari sakit yang diderita isterinya. Kasto ingin…

Tanpa sadar Kasto seolah-olah sedang memeluk isterinya dalam angin yang berhembus malam ini. Dalam bintang yang dua tiga berkelap-kelip malu-malu dan langit yang tak terlalu terang tetapi terasa indah. Kasto seperti sedang bersama isterinya. Memeluk erat dan menghabiskan malam sampai pagi bersama angin yang menjelma menjadi Jumi, isteri tercintanya.

Paginya Panjul yang sedang sarapan setelah mengenakan seragam SD-nya bertanya tentang ayahnya yang semalaman tidak tidur disampingnya. Sebenarnya Kasto ingin menjawab bahwa ia semalaman sedang asyik berdua dengan ibunya, tapi ia tak tega. Bisa-bisa Panjul ngambek karena merasa tidak diajak.Dan tidak mungkin menceritakan pada Panjul tentang sikapnya yang diluar jangkauan fikiran anak sepertinya.

Tiba-tiba hati Kasto terasa perih, ia masih harus mencari keberadaan Samin. Sudah empat hari ia absen izin tidak masuk kerja. Kasto bersyukur karena bos di tempat ia bekerja baik hati sehingga mengizinkan Kasto tidak masuk kerja dalam seminggu. Dengan resiko Kasto tidak mendapatkan gaji harian. Tak apalah, fikir Kasto. Demi kesembuhan Jumi ia rela melakukan apapun.

Salah satu tempat yang akan ia datangi hanya rumah kakak dari Samin. Tadi pagi selepas ia mengantar Panjul ke sekolah Kasto dapat telepon dari salah keluarga Agus, Pak Tomo, bahwa Samin punya kakak yang tinggal di kota sebelah. Betapa hati Kasto berbunga, harapannya mendapatkan jalan terang. Setelah memohon izin pada pak Kasim untuk memohon menjemput Panjul di sekolah dan menitipkan dirumahnya serta mendapat alamat yang lengkap Kasto langsung mendatangi rumah tersebut. Sepanjang jalan ia hanya berdoa dalam hati bahwa ini adalah pencarian terakhirnya. Ia ingin isterinya sembuh. Tiga jam perjalanan semakin membuat dada Kasto berdegup kencang. Ia baru saja pindah transportasi dari bus ke angkot. Setengah jam lagi ia akan sampai rumah yang dituju.

Alamat yang diberikan tidak terlalu sulit untuk dicari. Isteriku, kamu akan sembuh. Anakku, kamu akan bersama ibumu lagi, nak…
Semakin ia meresapi semua yang ia alami bersama keluarganya, air matanya jadi sangat mudah tumpah. Ia jadi begitu cengeng dan sensitif. Cinta yang ia rajut bersama isterinya sangat kuat. Kasto memang pencemburu. Dan Jumi sudah tahu itu sejak mereka kenal dan dekat. Tapi Kasto juga bukan lelaki yang posesif yang melarang Jumi untuk beraktivitas. Membuka taman baca kecil dan mengajak anak-anak sekitar rumah mendengarkan dongeng yang keluar dari mulut Jumi membuat Kasto sangat bangga. Apalagi saat Jumi sedang hamil delapan bulan, anak pertama mereka, di rumah kontrakan yang sempit Jumi membuka kursus bahasa inggris gratis. Jumi memang sudah ahli bahasa asing itu dari SD. Dan saat Kasto dekat dengannya, Kasto banyak dibantu belajar karena Kasto sangat lemah dalam bahasa asing itu.

Belum lagi malam-malam sepanjang mereka merawat Panjul yang baru lahir, Jumi tak henti-hentinya bercerita sepanjang malam menjelang tidur. Berdongeng, berkisah yang membuat Kasto seperti anak kecil karena ikut mendengarkan Jumi bercerita. Makanya sekarang Panjul sangat senang bercerita dan banyak ingin tahu melebihi teman-teman sebayanya. Jumi, cintaku, kau sangat berarti untukku…

“Mandor… mandor…”

Kasto terperanjat dari lamunannya saat sopir berterik menyebutkan salah satu jalan. Segera ia men-stop angkot yang dinaikinya. Ya Allah, mudahkan urusan hamba, ya Allah… lirihnya dalam doa.

Beberapa kali ia bertanya ke warung, pangkalan becak, menanyakan alamat yang di genggamnya. Sampai akhirnya ia diantar oleh seorang pemuda tanggung. Dadanya semakin berdegup kencang. Langkahnya satu-satu menuju depan rumah yang dicarinya. Setelah ada yang menjawab salam dari dalam rumah hati Kasto semakin tak karuan. Ia dipersilahkan duduk dan pemuda tanggung tadi pamit. Ia mengepalkan uang lima ribuan pada pemuda tanggung tadi saat bersalaman. Ia lihat wajah cerah dari pemuda itu. Uang sebesar itu tak lebih berharga dibanding kesembuhan isteriku anak muda. Seperti Allah yang akan menyembuhkan isteriku dengan cara-Nya, katanya dalam hati.

“Saya mohon maaf sebelumnya, saya Kasto. Saya suami Jumi”

“Jumi?”

“Ya, pak. Benar. Bapak mengenal Jumi?”

“Antarkan Jumi kemari, mas. Tolong…”

“Tapi, pak…”

“Tolong, tiap hari yang Samin lakukan hanya berteriak-teriak. Memanggil-manggil Jumi, nak…”

“Apa??”

“Ia sekarang sedang berada dipasung belakang rumah. Sudah dua bulan ini ia mengalami depresi karena usahanya hancur dan bangkrut.”

“Jadi… pak…?”

Seketika tubuh Kasto lemah. Ia tak bisa berkata apa-apa. Air matanya benar-benar tumpah kali ini. Jumi, cintaku…

Malamnya Kasto tak langsung menjemput Panjul yang tidur di rumah pak Kasim, ia langsung ke rumah sakit menjenguk Jumi. Ia ingin tidur disamping isterinya. Sampai di rumah sakit ia melihat Jumi sedang sisiran. Merapihkan rambutnya yang berantakan sejak dua bulan yang lalu. Kasto bergetar melihat pemandangan yang tak biasa. Ia melangkah pelan menghampiri punggung isterinya dan mendekat persis di sisi Jumi, yang masih menyirir rambutnya yang sebahu.

“Pak…”

Jumi tahu kedatangannya. Ia mempercepat langkahnya. Beberapa bangsal yang berada di ruangan luas itu tampak sepi. Banyak pasien yang sudah tidur. Dua bulan sudah tidak menjadi hal yang asing bila melihat pasien-pasien yang se-ruang dengan isterinya itu tidur dengan berbagai macam gaya. Ah,,, tak pernah terfikir sedikitpun di bayangan Kasto kalau ia akan mengalami mimpi buruk ini.

“Bu…”

Kasto memeluk punggung Jumi dari sisi kanannya. Erat. Ia seperti mendapatkan Jumi yang lama tak dikenalnya. Ia menangis. Menangis karena belum bisa membahagiakan isterinya. Menyembuhkan isterinya dengan mendatangkan Samin yang dulu pernah menyembuhkan isterinya. Dan harapan untuk menyembuhkan Jumi semakin pupus karena Samin ternyata juga mengalami depresi sama seperti isterinya.

“OOhh, isteriku…”

Ia ciumi isterinya penuh mesra. Sedangkan Jumi masih menyisir rambutnya. Bau yang tercium dari rambut Jumi tak membuat Kasto merasa jijik. Ia ingin terus memeluk Jumi.

“Maafkan bapak,bu… maafkan bapak…”

“Pak… kita pulang ya pak… kasihan Panjul di rumah tidur sendirian.”

Kasto tersentak. Ia tatap wajah isterinya lekat-lekat. Ada tatapan yang Kasto rindu. Tatapan yang sejak dua bulan lalu tak pernah ia lihat.

“Isteriku, kamu…”

Ia menangis dalam pelukan Jumi. Jumi sembuh. Ya, isterinya sembuh. Malam ini ia benar-benar memeluk isterinya. Tak seperti malam-malam yang lalu ketika ia ke atas loteng jemuran dan memeluk angin yang menjelma menjadi isterinya.

Dan Jumi membisikkan sesuatu di telinga Kasto,

“Ibu baru saja bertemu Samin, pak… di mimpi ibu…”
****

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s