Bang Sampah


Perawakannya tambun. Rambutnya gimbal. Kulitnya juga agak hitam. Giginya tanggal satu di depan. Tahi lalat besar bertengger di janggut kirinya. Diantara yang masih enak dilihat, ya senyumnya. Hiasan benda hitam di janggut itu yang membuatnya begitu manis.

Dan semua yang mengenalnya mengamini itu.

Di hari sabtu pagi ini, ia mengayunkan langkahnya dengan ringan ke lapangan bulu tangkis. Lapangan satu-satunya yang masih tersisa di kampungnya. Ada sabtu bersih yang diadakan RT.

“Bang Sam, saya prihatin melihat got sering mampet kalau hujan deras turun. Abang masih inget kan seminggu yang lalu, saat hujan deras tempo hari itu, banyak warga yang rumahnya terendam banjir. Ya meskipun hanya sebatas mata kaki, tapi cukup membuat warga kewalahan”

Sebelum acara bersih-bersih dimulai, beberapa warga mengeluarkan keluhannya kepada para petinggi kampung. Ada pak RW si kumis melengkung yang sedang sibuk melintingkan kumisnya yang panjang. Di tangan kirinya memegang pacul kecil. Pacul yang biasa digunakan untuk bercocok tanaman. Sangat kontras dengan tubuhnya yang hampir menyamai bang Sam.

Disebelah kirinya, pak RT yang berperawakan pendek yang mengenakan celana hawai pendek. Beliau sendiri membawa sapu lidi berpangkal.

“Saya baru saja membelinya tadi pagi-pagi di pasar lama” katanya pada bang Sam.

Matahari duha sudah menyembul. Warga yang berpartisipasi sudah mulai kepanasan. Acara seremonial sambutan dari pak RW dan RT membuat mereka gelisah. Ada yang menyingkir mencari tempat teduh, ada yang berjongkok. sedangkan yang mengenakan topi tetap berdiri.

“Sebenarnya kendalanya adalah di kampung ini masih sangat sedikit tempat sampah umum yang disediakan. Baik itu di tempat umum seperti di lapangan ini, atau di pinggir jalan. Jika kita mau lebih sedikit berkorban untuk kebersihan lingkungan kita, apa salahnya kita membuat tempat sampah sendiri di depan rumah kita. Cukup dua. Satu untuk sampah basah. Yang satu untuk sampah kering.” kata bang Sam ketika diberi kesempatan memberikan sambutan sambil membasuhkan keringat yang mengalir di wajah dan lehernya dengan handuk tangan yang dibawanya. Sebagian warga mengangguk-angguk namun ada juga sebagian yang menggeleng-geleng.

“Tapi kan nggak semua warga sanggup membeli tong sampah, bang,” protes salah satu warga seolah mewakili pertanyaan warga yang lain.

“Kita tidak harus membeli tong sampah. Manfaatkan apa yang ada. Bisa kardus bekas mie, kaleng bekas cat, atau mungkin ember yang sudah bocor. Semua bisa dimanfaatkan.”

Keluhan dan masukan dari warga di tampung oleh petinggi lingkungan. Warga mulai membagi tugas kerja mereka. Ada yang bertugas menyapu jalan seperti ibu-ibu dan pemudi yang ikut antusias kerja bakti. Sedangkan membersihkan selokan menjadi tugas para bapak dan pemuda. Semua menyebar ke delapan titik yang sudah ditentukan.

“Bang Sam,” panggil pak RW saat bang Sam hendak berjalan ke titik empat. “Saya selaku RW disini sangat setuju dengan usulan abang untuk membuat tong sampah didepan rumah masing-masing warga. Saya akan segera memberitahukan warga tentang hal tersebut. Selain itu, saya akan meminta bantuan kepada pemkot untuk menyediakan tong-tong sampah di setiap jalan di lingkungan dalam radius tiap empat meter. Saya merindukan lingkungan ini sehat, bang.” Lanjutnya dengan antusias.

Warga dengan semangat bekerja bakti. Menjelang musim penghujan seperti ini, aktivitas kerja bakti membersihkan lingkungan gempar dilakukan. Tapi ya seperti kebanyakan tempat lain, antusias warga hanya diawal saja. Setelah empat lima kali dilaksanakan, sama seperti tahun lalu, warga mulai meninggalkannya.

“Mau lingkungan ini dibersihin maupun nggak, sama saja. Banjir mah banjir juga…”

Itu perkataan tajam dari bang Sam tahun lalu. Dari perkataannya turut membuat warga terhipnotis dan mengiyakan dengan pernyataannya. Tapi kini ia sadar, setelah masuk dan bekerja di bidang lingkungan hidup, pola pikirnya berubah. Apalagi di kantornya ia ditambut menjadi kepala kebersihan dari 2 program K3. Kebersihan. Keindahan dan Kerapihan. Dari jabatannya itu bang Sam jauh lebih giat mendemokan hidup bersih dan sehat.
***

Tiga hari setelah kerja bakti, bang Sam dan beberapa warga menghadiri undangan dari pengurus RT. Mengevaluasi hasil kerja dan follow up-nya.

“Masih banyak warga yang ketahuan buang sampah di jalan, pak” seru Pak Jamil, warga baru yang sangat perhatian dengan lingkungan.

“Selain itu, warga juga belum menjalankan instruksi ketua RW untuk menyediakan dua tong sampah di setiap depan rumah warga.” Kali ini Bu Dahlia, penagih arisan RT yang memang biasa keliling ke rumah-rumah warga.

Belum lagi keluhan warga dengan got yang masih mampet. Kemarin malam hujan turun cukup deras. Dan got di titik lima sampai delapan masih tersumbat.

“Setelah dilakukan pembersihan, sampah-sampah plastik masih menjadi ancaman sampah nomor wahid!”

Bang Sam berpikir keras. Ia mengingat-ingat agenda yang dibuat di kantornya. Dicarinya proyek yang bisa dilakuan di kampungnya. Ya paling tidak, tidak merepotkan atau malah membuat warga mengeluarkan uang.

“Ada usul?”

“Saya pak!” Dibyo, pemuda kelas dua SMA itu merupakan perwakilan dari ketua RW yang tidak bisa hadir yang juga anak dari ketua RW itu sendiri.

“Menyambung lidah yang bapak saya sampaikan kepada saya, sejatinya bapak sangat mendukung kegiatan bersih-bersih di lingkungan ini. Saat ini bapak sedang mengupayakan untuk permohonan tong sampah ke pemkot. Dalam dua sampai tiga hari ke depan insya allah sudah ada hasilnya.”

Dibyo yang postur tubuhnya sebelas duabelas dengan ayahnya itu menutup perkataannya.

“Kata bapak, bersih dan sehat merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan. Jika kita mau sehat, maka lingkungan kita harus bersih. Mungkin itu saja. Terima kasih.”

Tepuk tangan bergemuruh di teras depan rumah pak RT.

“Saya pak,” Bang Sam mengacungkan tangannya. “Terima kasih atas waktu yang telah diberikan kepada saya.”

Senyumnya berkeliling ke seluruh wajah warga yang hadir. Karena ia berharap, semua warga mendengarkan penuturannya.

“Ini saatnya kita bergerak. Teori akan menjadi sia-sia jika tidak diiringi dengan aplikasi. Begitupun dalam hal ini. Saya berharap kita bisa memulainya dari hal yang kecil. Sepele namun sangat besar manfaatnya.”

Bang Sam merapihkan duduknya. Mengganti posisi duduknya yang tadi bersila menjadi kaki bertumpu seperti duduknya adat jawa. Kakinya sedikit kesemutan.

“Ketika kita melihat sampah di depan mata kita, ambil! Pegang sampai kita melihat tong sampah lalu membuangnya. Bagaimana?”

Semua mata tertuju kepadanya.

“Jadikan diri kita adalah bank sampah. Anggaplah kita adalah tong sampah berjalan. Apa susahnya kita memegang sampah, yang mungkin tidak seberat kita membawa barang belanjaan atau tas kita. Paling lama kita hanya memegang selama dua menit.”

Warga mencoba mencerna kata-kata bang Sam. Dan sebagian nyengir mendengar ungkapan yang keluar dari mulut bang Sam.

“Berarti nama bang Sam cocok!”

Mata bang Sam dan sebagian warga mengarah ke asal suara.

“Maksud kamu, Day?” Pak RT mencari penegasan atas perkataan Aday, salah seorang warga.

“Ya bang Sam yang memploklamirkan dengan bank sampah, berarti bang Sam merupakan Duta Bang Sampah”

“Hahahahaha…”

Derai tawa terdengar. Warga sepakat untuk mengikuti saran bang Sam. Dan malam ini, bang Sam akan menceritakan kepada isterinya bahwa sekarang ia sudah menjadi duta dadakan. Ya meskipun hanya duta bank sampah. Paling tidak sudah cukup membuatnya bersemangat untuk menjadikan lingkungan yang bersih dan sehat, seperti pesan dari pak RW tadi.
***

Seperti janji pak RW, akhirnya tong sampah pemberian dari pemkot diterima dan mulai dipasang. Warga menyambut gembira. Dan tong sampah pribadi di depan rumah warga juga sudah mulai berjalan meskipun masih ada saja yang nakal.

“Program ini menjadi salah satu program khusus yang akan dicanangkan oleh pemerintah kota. Dimulai dari lingkungan RT yang belakangi oleh tiap-tiap RW, kami berharap, gelar Adipura menjadi tonggak keberhasilan kita dalam mengelola dan menjadikan lingkungan yang bersih dan sehat.”

Salah satu perwakilan pemerintah kota sengaja datang pada peresmian pemasangan tong sampah yang dimulai di depan lapangan bulu tangkis.

“Dan kami berharap RT lain dapat mengikuti jejak RT 8 ini. Satu hal lagi, saya telah berkoordinasi dengan pihak RT dan RW, bahwa kami sepakat membuat program Tebar Bang Sampah dan akan mengutus bang Sam untuk mendampingi kami dalam menebarkan tong sampah kepada warga ke setiap penjuru kota.”

Bang Sam terperanjat dengan kejutan yang baru saja didengarnya. Tepuk tangan bergantian dari warga yang turut hadir dalam program yang dicanangkan pemerintah kota tersebut. Bang Sam diminta untuk menyampaikan sepatah dua patah kata.

“Betapa saya benar-benar terkejut dengan apa yang saya terima saat ini. Saya yakin apa yang saya coba terapkan di lingkungan ini sejatinya merupakan penyambung dari harapan bapak dan ibu sekalian akan terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat. Ketika kita bisa melakukan sesuatu dengan dasar kesadaran yang tinggi bahwa apa yng dilakukan untuk sebuah kebaikan, maka tak akan ada yang sia-sia. Saya percaya bapak dan ibu dapat bersama-sama menjalankan program ini secara berkelanjutan. Sekali lagi terima kasih.Terima kasih…”
***

“Pak, gimana kerja bakti tadi?”

Safiyah, isterinya yang mengenakan kerudung biru muda sedang menggosok pakaian ketika bang Sam sampai di rumah. Disandarkan tubuhnya ketembok dan duduk tak jauh dari isterinya berada. Kemudian sang isteri ke dapur mengambilkan segelas air putih. Dilihatnya suaminya begitu kelelahan.

“Amanah baru datang lagi untuk bapak, bu…”

Bang Sam menerima gelas dari tangan isterinya lalu menenggak isinya.

“Sejak bapak pindah bagian di kantor, banyak sekali sesuatu yang baru menghampiri bapak.”

“Seharusnya bapak bersyukur. Berarti bapak memang telah mampu untuk mengemban amanah yang bapak terima.”

Isterinya memang selalu memberikan ketenangan dalam kondisi seperti ini. Penghibur hatinya. Ya, sudah hampir delapan tahun mereka belum di karuniai anak. Hanya sabar yang mereka selalu kedepankan.

“Iya,bu. Tetapi tetap saja bapak belum bisa memberikan sesuatu yang membuat ibu bahagia.”
Isterinya menengok ke arahnya. Ada sesuatu yang tak berkenan yang didengarnya. Ia jarang mendengar suaminya mengeluh.

“Ibu jangan salah sangka dulu. Bapak ikhlas menjalankan ini semua. Karena bapak yakin setiap apa yang dilakukan jika dijalankan dengan ikhlas akan mendapatkan kebahagiaan yang luar biasa nanti. Hanya saja…”

Bang Sam terdiam. Ada berat yang hendak diucapkannya.

“Hanya saja apa, pak?” Safiyah mematikan setrika listriknya.

“Hanya saja mungkin Allah belum memberikan kepercayaan untuk menjalankan amanah lain untuk kita, bu…”

Safiyah mulai mengerti arah pembicaran suaminya. Kegusaran hati suaminya. Disaat seperti ini, Safiyah hanya menjadi pendengar yang baik untuk suaminya. Memahami kata dan isi hati suaminya.

“Dalam setiap kebaikan yang bapak lakukan, do’a bapak hanya satu, bu…”

Dua pasang mata bertemu. Gejolak cinta itu tetap sama. Tetap membara ketika pertama mereka bertemu dulu. Didekatinya bang Sam. Diciumnya kening suami tercintanya itu. Air mata yang keluar bukanlah air mata kesedihan atas amanah yang belum kunjung datang. Tetapi air mata bangga atas semua cinta yang dimiliki suaminya.

“Bisikkan, pak. Bisikkan ke telinga ibu apa do’a bapak…”

Dipeluknya sang isteri. Dekat. Sangat dekat.

“Bapak hanya berdo’a agar Allah segera mengamanahi kita seorang anak. Itu saja, bu, tak lebih…”
***

Kesibukan bang Sam bertambah. Setiap sabtu pagi, ia mendapatkan tugas berkeliling dan mensosialisasikan program Tebar Bank Sampah dan aplikasinya dalam menjalankan program tersebut yang pernah dilakukan di RT-nya.

“Satu yang rutin harus kita laksanakan adalah…”

“Permisi, bapak-bapak, ibu-ibu…” Tiba-tiba seorang pemuda tanggung berlari mendekat dengan napas turun naik. Dibiarkannya pemuda itu mengatur napasnya.

“Ada apa, Nu?” tanya ketua RT 4 yang berdiri tidak jauh dari sang pemuda.

“Gini, pak. Di rumah pak Rustam, pak…”

Petinggi kampung dan bang Sam mengerutkan kening. Pemuda itu masih mencoba meneruskan ucapannya.

“Itu pak, ada bayi!”

“Baaayiii?” seru warga hampir berbarengan.

“Iya, pak. Isteri pak Rustam yang baru pulang dari kampung menemukan bayi di bak sampah depan rumahnya!”

Seorang bayi di bak sampah? Bang Sam mengelus dada. Disaat banyak yang menunggu dikaruniakan anak, tetapi ada orang tua yang tega membuang anak mereka begitu saja. Hati bang Sam perih. Dunia sudah begitu terbolak-balik.

“Baiklah, untuk sementara kegiatan ini kita tunda, kita lihat dulu apa yang terjadi disana.”
***

Wajah bayi lelaki itu begitu putih, matanya belo berbinar, bulu matanya lentik, pipinya padat. Dan ketika tersenyum, lesung pipit itu… bang Sam tak henti-hentinya menatap. Ia teringat isterinya, pasti isterinya begitu bahagia bila melihat bayi montok itu. Dielus dan ditimang-timang oleh bang Sam ketika bayi tersebut akan dibawa ke puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan. Sepanjang jalan bang Sam menyanyikan lagu-lagu anak yang diingatnya. Warga yang melihat bang Sam merasa keheranan meskipun pada akhirnya mereka paham bahwa bang Sam sangat merindukan dikarunai seorang anak.

“Maaf bapak-bapak dan ibu-ibu, mungkin heran melihat saya begitu senang dengan bayi ini. Ini seperti mimpi bagi saya. Saya seperti merasa baru saja memperoleh seorang putra. Sungguh, izinkan saya membawa bayi ini sampai puskesmas”

Warga hanya bisa mengangguk dan tersenyum melihat tingkah bang Sam dengan bayi yang ditemukan itu. Pak RT 4 ikut mendampingi bang Sam membawanya ke puskesmas dengan mengendarai sepeda motor.

“Bang, saya begitu terharu melihat abang sangat gembira menggendong bayi itu. Setelah pengurusan bayi ini ke puskesmas dan melapor ke polisi, saya akan mengusahakan agar abang bisa merawat bayi ini, jika abang berkenan”

Seperti mendapatkan berita luar bisa, mata bang Sam terbelalak mendengar ucapan Pak RT.

“Sungguh, pak? Pak RT sedang tidak becanda kan dengan saya?”

Pak RT menggeleng dan kemudian menatap lurus membawa motornya. Sementara bang Sam, menyiumi bayi digendongannya. Dipeluknya hangat.

“Bu, Allah seperti mendengar do’a bapak selama ini meskipun dengan cara yang berbeda. Kita rawat dan besarkan dengan penuh cinta ya, bu…”

Dipelupuk matanya ia melihat wajah isteri tercintanya yang menatap bahagia, sama sepertinya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s