ARIS…


“Apa Tuhan malu sehingga tak mau menganggapku lagi sebagai hamba-NYA?”

Pertanyaan itu keluar dari Aris. Usainya dua puluh empat tahun. Sama sepertiku. Bedanya, aku belum pernah menjadi bulan-bulanan warga sedangkan dia nyaris tewas diamuk masa sebab perilakunya kala itu.

“Tuhan itu penerima ampun dan pemaaf. Siapa yang mau kembali pada-NYA, pasti diterima-NYA dengan lapang dada, Ris…” kataku mencoba meluruskan pemikirannya yang keliru.

“Tapi mengapa sudah hampir dua tahun aku mencoba memperbaiki kelakuanku, Tuhan tak pernah sedikitpun melirikku dengan memberikan setetes saja rahmat-NYA?”

Pembicaraan nyaris membuat buluk kudukku merinding. Apalagi logat Medan-nya membuat suaranya yang lantang begitu terdengar bergetar. Baru kali ini Aris begitu ngotot membicarakan nasibnya. Padahal ini diteras mushollah. Di rumah Tuhan.

“Mengapa kau diam saja, Gung?” Aris menatapku seolah-olah ia menang karena aku tak menjawab pertanyaannya. Aku bukan tak ingin menjawabnya. Tapi aku membiarkannya menerawang sendiri dengan fikirannya. Aku tak menyangka Aris akan mengatakan seperti itu. Karena selama ini aku melihat ia begitu menikmati hidupnya dua tahun belakangan.

“Kau harus banyak-banyak istighfar lagi, Ris. Tak pantas kau berkata seperti itu. Kelakuan bejatmu di masa lalu belum pantas terbayar hanya karena kau sudah bertobat sejak dua tahun yang lalu. Dan keikhlasanmu bertobat perlu dipertanyakan. Maaf, aku pamit. Assalamu’alaikum…”

Sampai kontrakan aku tak bergegas tidur meski besok ada pekerjaan yang menyita waktuku yang bekerja di kontraktor. Aku jadi teringat Aris dua tahun lalu. Nasibnya sangat naas. Ia kepergok sedang melakukan perbuatan bejat dengan seorang lelaki teman kuliahnya di sebuah rumah kosong RW sebelah. Mereka sedang memadu kasih layaknya suami isteri. Padahal, mereka sesama lelaki. Waktu itu ada seorang pemulung yang hendak mencari tempat istirahat. Dan ketika pemulung itu hendak mendatangi rumah kosong itu, ia mendengar sesuatu yang dianggapnya ganjil. Tanpa pikir panjang si pemulung memanggil para penjaga pos kamling yang sedang bertugas yang tak jauh dari rumah kosong itu. Saat itu juga Aris dan temannya itu dihajar habis-habisan. Syukurlah ia masih diselamatkan. Atas instruksi ketua RW setempat, Aris dan temannya dibawa ke rumah pak RW. Tapi demi menjaga nama baik kampungnya, ketua RW meminta masyarakat untuk tenang dan tidak membawa masalah ini ke jalur hukum. Meskipun banyak yang protes, termasuk aku, tapi akhirnya sepakat Aris mau bertobat dan sangat menyesali kekhilafannya. Dan ia kembali ke masyarakat seolah-olah tak pernah ada masalah apapun. Seiring waktu, tobatnyapun terbukti hingga kini. Ia aktif di kegiatan RT maupun mushollah. Tetapi tetap saja, Aris masih dianggap hina oleh sebagian masyarakat terutama ibu-ibu yang memiliki anak-anak. Mereka takut anaknya menjadi korban kekerasan seksual seperti yang pernah dilihatnya di televisi.

Keesokan pagi harinya aku bertemu Aris lagi. Di peron stasiun. Kali ini ia tampil berbeda. Setelan kemeja dan celana hitam bahan menutupi tubuhnya. Teman yang sudah aku anggap saudara itu memang tampan. Tinggi dan tubuh atletis. Aku benar-benar tak menyangka ia memiliki kelainan seksual.

“Aku capek menjadi penjaga warung bang Ucok. Ijazah S1-ku seperti meneriakiku untuk mencari pekerjaan, Gung. Aku sudah meyakinkan bang Ucok bahwa aku bisa menjaga diriku dengan baik. Do’akan aku, Gung”

Bang Ucok adalah abang satu-satunya. Sejak lulus SMA dan kuliah, pendidikannya memang dibiayai oleh abangnya hingga lulus S1. Dan setahun lulus S1 ia bosan karena sehari-hari ia hanya menjaga warung. Dan tak sedikit yang meremehkannya yang lulusan sarjana tetapi menganggur.

“Apa kau benar-benar siap dengan dunia luar yang jauh lebih kejam dari yang kau pikirkan, Ris?” tanyaku memancing suasana. Mekipun aku tahu, lelaki berkaca mata itu jika memiliki keinginan sangat sulit ditentang.

“Jika Tuhan memang baik padaku dan aku masih boleh menjadi hamba-NYA, aku meminta Tuhan mengizinkan aku bekerja dan aku akan teguh pada tobatku, Gung.” jawabnya dengan pandangan lurus ke ujung rel yang lengang. Aku melihat keyakinanya yang begitu dalam.

“Aku harap kau memegang janjimu itu, Ris” Kami terpisah dibeda gerbong kereta yang penuh dan berjubel.

“””

Sudah tiga minggu aku tak melihat Aris di mushollah. Biasanya kami bertemu setiap sabtu malam di mushollah ini. Terasa juga Aris tak ada. Sabtu malam para pemuda di lingkungan ini rutin mengadakan kajian yang dimoderatori oleh Aris. Tak sedikit yang menanyakan Aris. Ris, andai saja kau tahu bahwa kami menunggumu…

“Aris selalu pulang malam, Gung. Sampai rumah ia langsung tidur. Besok paginya sudah berangkat kerja lagi. Abang saja yang satu rumah dengannya jarang bertemu dan ngobrol dengannya lagi.”

Ada kekhawatiran yang tiba-tiba menyelusupiku. Tapi aku meyakinkan diriku bahwa perubahan yang aku lihat dua tahun belakangan sudah melunturkan segala sifat tercelanya dan kelakuan menyimpangnya dimataku.

Dipenghujung sore. Di stasiun yang sama. Aku baru saja turun dari kereta. Aku melihat sosok yang sangat kukenal sedang berjalan mengikuti arus penumpang yang keluar stasiun. Ya. Aris dengan seorang lelaki. Aku rasa ia juga baru turun dari kereta yang sama denganku. Aku mengikutinya dari belakang. Bukan mengikuti. Tetapi menyusulnya.

“Ris… Aris…” Aku memanggilnya dengan kencang. Beberapa orang menengok ke arahku. Termasuk Aris. Aku percepat langkahku dengan menerobos para pejalan kaki yang ada didepanku. Aris dan temannya menepi.

“Apa kabar, bos? Sudah kerja makin sibuk saja kau ini. Aku beberapa kali ke rumahmu, tetapi abangmu bilang kau selalu pulang malam.” Tanyaku sambil menyalaminya.

“Kau ini bisa saja. Iya. Ini kebetulan aku pulang lebih cepat. Pekerjaan lebih longgar dari biasanya. Oya, kenalkan, Radit…”

Lelaki yang bernama Radit tersenyum dan seraya memperkenalkan diri. “Saya Radit. Teman sekantor Aris”

Sebelum berpisah angkot karena Aris akan singgah dulu kerumah temannya, aku meminta Aris untuk bertemu nanti malam dirumahnya. Aku ingin mengobrol banyak padanya.

“””

“Kau tampak lebih segar sekarang, Ris”

Aku duduk di teras rumahnya. Aku lihat ia baru saja selesai sholat isya. Wajah cerah sisa air wudhu masih nampak. Begitupun sarung dan koko yang dipakainya.

“Bisa saja kau ini.” Katanya sembil menjatuhkan tubuhnya ke kursi disebelahku.

“Apa benar teman yang tadi sore itu teman kantormu, Ris?”

Aris mengerutkan kening.

“Radit maksudmu?” katanya balik bertanya. Aku mengangguk.

“Jangan berfikiran negatif padaku Gung. Aku masih bisa menjaga diriku sampai saat ini. Jika kau tak percaya, hubungi saja dia. Paling dia sedang besama anak dan isterinya.”

Aku langsung minta maaf atas kecurigaanku.

“Tapi apa sampai saat ini kau belum punya seseorang yang bisa menjaga dan mendampingimu?”

“Aku tak yakin ada wanita yang mau dengan orang sepertiku, Gung. Sudahlah. Aku sedang tak ingin membahas yang seperti itu.”

Lalu Aris bercerita banyak perihal pekerjaannya. Kesibukannya.

“Aku menikmati hidupku yang sekarang, Gung” katanya selepas menceritakan kegiatannya.

“Maksudmu?”

“Ya, bulan depan aku akan mencari kontrakan yang dekat dengan tempat kerjaku. Aku gak sendiri tapi bersama seorang teman”

“Jangan bilang kalau temanmu itu ‘laki-laki’?” kataku menepis kekhawatiran sambil tanganku memberikan tanda petik saat mengucapkan laki-laki.

“Kau ini. Masih saja meremehkanku. Kau tak yakin dengan perubahanku? Aku tak mau dihajar massa lagi seperti dua tahun yang lalu, Gung…”

“Ya. Aku percaya kau. Dan aku harap kau sering-sering silaturhamilah kemari. Apalagi dua bulan kedepan aku akan mengundangmu kepernikahanku.”

“Kau serius?” tanyanya sambil terkejut.

“Kau tinggal menunggu undangan saja. Oke..”

“Sip. Aku salut padamu, Gung…”

“”””

Ternyata pintaku yang terakhir tak ditanggapinya. Sudah hampir dua bulan setelah ia pindah kontrakan yang ia bilang, ia tak pernah menampakkan batang hidungnya. Sebuah undangan sudah aku pegang. Aku mendatangi rumah bang Ucok. Ia sama sepertiku. Tak mengetahui kabar adiknya sejak ia mengontrak. Aku mencoba menghubunginya lewat hanphone juga tak bisa.

“Aris memberikan nomornya yang baru seminggu yang lalu. Kau catatlah…”

Setelah menelepon dan mendapatkan kabarnya aku langsung meminta alamat rumahnya. Aku ingin berkunjung kekontrakkannya sekalian mengantarkan undangan pernikahanku. Aku berjanji akan mengantarkan kekontrakannya dua hari yang yang lalu. Tapi aku tak sempat. Baru hari ini aku akan kekontakannya. Pulang kerja akau langsung ke kota. Aris sudah aku kabarkan. Tapi ia tak membalas. Aku sempat bingung dengan arah kontrakannya. Beruntung aku bertemu dengan seorang yang rumahnya tak jauh dari kontrakan Aris berada. Setengah jam akhirnya aku sampai juga. Kontrakan yang cukup bagus untuk ukuranku. Kontrakannya tipe 29. Rapih dan terawat baik. Aku jadi berfikir kalau nanti aku sudah resmi menikah, aku akan mecari kontrakan yang seperti ini.

Tok tok tok.

Dua kali aku mengetok dan mengucapkan salam. Aku coba meneleponnya tak diangkat. Padahal suara televisi terdengar dari luar. Aku coba mengetuk lagi. Terdengar suara menyahut dari dalam. Alhamdulillah, gumamku. Dan benar. Aris keluar. Dengan sarung dan telanjang dada. Tangannya mengucek-ngucek matanya.

“Agung, masuk-masuk… aku hampir lupa kalau hari ini kau mau datang”

Ruang tamunya hanya beralaskan karpet. Sama seperti dikontrakanku. Hiasan dinding maupun buffet juga tak ada. Hanya sebuah bingkai foto yang cukup besar saat Aris diwisuda.

“Kau pulang kerja jam berapa? Kok sempat-sempatnya tidur?” tanyaku melihat pakaian yang dikenakan Aris. Sepertinya ia tidur sudah lama.

“Iya. Tadi pulang siang. Oya. Mau minum apa? Maaf aku tak sempat menyiapkan apa-apa” jawab Aris seperti mengalihkan pertanyaanku.

“Yaang… sayaang…”

Aku mendengar suara seseorang dari dalam kamar yang tertutup. Aris sedikit salah tingkah.

“Kau tunggu sini ya. Aku ambilkan minum dulu” katanya sambil masuk ke ruang dalam.

“Yaang…”

Jantungku berdetak lebih kencang. Otakku mulai berputar. Pertanyaan demi pertanyaan langsung begitu saja bermain-main dikepalaku. Siapakah yang ada di dalam kamarnya? Apa yang sedang dilakukannya? Apa Aris…?

Krek…

Pintu kamar terbuka. Sebuah kepala menyembul dari balik pintu. Dadaku sesak melihat sosok yang baru saja membuka pintu kamar dan sekarang berdiri persis di depan pintu.

“Temannya Aris ya?”

Aku mengangguk gugup. Sosok itu kembali kekamarnya. Hatiku perih melihat kenyataan yang ada didepanku.

“Gung, diminum…”

Aris keluar dari dapur membawa segelas minuman dan toples isi kue. Belum sempat aku mencicipi hidangannya kau minta pamit. Setelah aku memberikan undangan aku langsung keluar tanpa minta penjelasan apapun dari Aris. Mungkin ia heran dengan sikapku. Tapi ia sepertinya bisa menebak sikapku yang langsung berubah.

“””

Aku tak pernah menceritakan apa yang telah aku lihat dikontrakan Aris pada siapapun. Dan seiring dekatnya resepsi pernikahanku aku sudah melupakannya. Dua hari lagi aku akan menunaikan setengah dienku. Membuka lembaran cinta baru dengan calon isteriku yang sah.

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumsalam..”

Malam beranjak. Malam ini malam angkat pernikahanku. Kesibukan menjelang hari besok sudah terasa sejak malam kemarin. Dan aku tak henti-hentinya memanjat do’a untuk kelancaran resepsi pernikahanku besok. Dan Aris datang. Entah untuk apa. Untuk menuntut Tuhan seperti katanya waktu itu. Atau apalah aku tak tahu. Lalu Aris mengajakku ke teras mushollah.

“Selamat ya, Gung. Besok hari yang paling terindah dalam hidupmu”

Aris membuka percakapan. Aku lebih banyak diam. Hanya sesekali mengangguk saat Aris menanyakan kabar keluargaku atau warga disini. Sampai kami sudah saling diam, aku angkat bicara.

“Apa Tuhan malu sehingga tak mau menanggapku lagi sebagai hamba-NYA? Kau ingat ucapan itu, Ris?”

Aris memperbaiki duduknya. Mungkin fikirannya menerawang mengingat kembali kata-kata yang pernah diucapkannya itu.

“Mengapa kau mempertanyakan itu? Aku sudah melupakannya. Sekarang Tuhan telah banyak mengubah hidupku. Dan aku bersyukur atas semuanya.”

“Mengubah hidupmu dengan melakukan kebejatan lain yang sama hinanya?”

“Aku mencintai Sifa karena ia mau menerimaku apa adanya, Gung. Bahkan ia tahu bagaimana aku dulu. Awalnya aku ragu untuk mengatakan siapa aku dan bagaimana aku dulu. Tapi sungguh, pernyataan dia membuatku yakin bahwa ia benar-benar mencintaiku apa adanya.”

Suasana hening.

“Lalu mengapa kau berani jujur tentang masa lalumu padanya?”

Meskipun akuj ijik nengingat perilakunya tapi diam-diam aku salut dengan keberaniannya membuka masa lalunya pada seorang wanita.

Ia menunduk. Sesaat ia mengusap wajahnya. Lama aku menunggu.

“Karena aku tak ingin berbohong pada diriku, Gung. Berbohong pada orang yang kelak akan menjadi pendamping hidupku. Karena aku lelah pada hidup yang penuh kebohongan di masa laluku. Itu saja.”

Lalu ia menengadahkan kepalanya ke langit-langit mushollah.

“Kali ini aku tak akan menuntut Tuhan lagi, Gung. Aku beruntung karena aku dipertemukan oleh seorang wanita sepertinya. Kau pernah melihatnya saat kau berkunjung ke kontrakanku tempo hari. Ia adiknya Radit. Ia banyak mengubah hidupku. Dan aku memegang janjiku padamu bahwa aku akan sembuh. Kau pasti ingat itu.”

Dugaanku tepat. Suasana kembali hening. Entah apa lagi yang harus aku katakan padanya. Akuberistighfar berkali-kali.

“Iya, aku menghargai usahamu untuk sembuh, Ris. Tapi kau masuk lagi pada lubang lumpur dosa yang sama dilaknatnya oleh Tuhan. Apa kau tak sadar itu?” Kataku dengan nada sedikit menekan.

“Sudahlah, Ris. Aku tak ingin membahas yang sudah terjadi. Oya, maafkan aku, besok aku tak bisa hadir. Besok aku akan menemui keluarga calon isteriku. Aku akan mengikuti jejakmu. Semoga kau bahagia dengan calon isterimu nanti. Do’akan aku juga ya, Gung. Assalamu’alaikum…”

Aku masih tertegun. Malam terus berangsur samakin hening. Dan suara tokek mengiringi langkahnya meninggalkan mushollah. Tuhan tahu yang terbaik untukmu, Ris. Do’aku menyertaimu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s