Guruku di kelas 1 SD dulu…


Apa sih yang kamu ingat dari guru kelas 1 SD kamu?
Pasti akan beragam jawaban terbentang. Dan banyak.
Pada satu obrolan pendek dengan seorang guru di tempat saya bekerja, saya kembali membuka kenangan semasa saya masih duduk di kelas 1 SD lima belas tahun silam. Tentunya dengan wali kelas saya yang dulu.
Namanya Bu Neni. Waaahhh… kalau mengingat beliau mengajar, rasa saya cengar-cengir sendiri, mengingat Bu Neni bukanlah guru yang lemah lembut dalam bersuara. Setiap kata yang terlontar dari mulutnya begitu tegas, kencang dan seolah seluruh ruangan kelas yang berisi lima puluh siswa itu penuh oleh suaranya. Tapi bu neni juga bukan seorang guru yang ringan tangan. Tak pernah beliau mencubit atau memukul siswanya.
Ya kelas 1 SD memang menjadi kenangan yang tak bisa terlupakan. Saya masih ingat waktu kelas 1 dulu, saya pulang dengan celana merah yang basah. Betul. Saya kencing dicelana! Kala itu sebagai siswa baru rasanya sangat takut untuk keluar minta izin ke kamar kecil. Apalagi dengan guru seperti Bu Neni. Alhasil saya mencoba menahan pipis dan pada akhirnya tak tahan juga.
Saya begitu terkesan dengan cara mengajar baca yang dipraktikan oleh Bu Neni.
“I en I ni Ini I eb u bu ibu es e se ed a da eng sedang em e me en ec u cu ec I ci mencuci”
Sebenarnya begitu mudah memahami instruksi Bu neni dalam mengajari saya juga teman-teman membaca. Hanya saja e yang di baca adalah e (pepet) contohnya sesuatu. Saya yang baru belajar begitu senang dengan pola membaca seperti itu. Mudah diingat dan mudah dipraktikan. Apalagi saat satu persatu siswa disuruh maju untuk membaca. Dengan mistar kayu yang panjangnya 1 meter Bu neni menunjuk huruf demi huruf yang ditulisnya di papan tulis kapur.
“a ey a ya ha ayah em I mi en u nu em minum ek o ko ep I pi kopi”
Hentakan ujung mistar seolah memacu kami untuk berpikir keras agar tidak salah baca. Kalu sudah salah… hentakan makin keras dan Bu neni akan mebetulkan bacaan kami dengan suaranya yang lantang.
Jujur, dulu saya sangat takut dengan beliau. Apalagi kalau hari senin, saat pemeriksaan kuku. Jika ada yang kotor dengan sigap beliau akan menggetok kuku tangan kami yang kotor dengan mistar kayunya. Tapi bukan getokkan yang mebuat sakit melainkan ketokan halus yang saya pahami agar kami tidak lupa lagi untuk memotong kuku kami.
Sampai saya naik kelas dua dan sudah tidak diajar oleh beliau, dan saya melewati kelas 1 yang menjadi akik kelas saya, saya berkata dalam hati, “Berarti saat kelas 1 dulu suara Bu neni kalau didengar dari luar seperti ini. Sangat besar dan lantang…”
Dan kini, aku sadar, bahwa saya tak akan menjadi siapa-siapa tanpa jasa guru yang telah mengajari banyak hal. Terima kasih guruku… Karenamulah gerbang ilmu terbuka didepan mata.

Saya jadi ingat kelulusan saat saya lepas SD,
Guru engkau suluh ilmu
Penuntun akal dan hati
Pikir zikir dalam amal
Menjadi teladan bagi masyarakat

Ilmu dan amal yang engkau berikan
Ibarat kawan yang cerdik setia

(kalau ada teman-teman SD saya yang bisa meneruskan dipersilahkan, kebetulan saya lupa… J )

Ini syari tentang guru yang paling saya suka…

Kita jadi bisa menulis dan membaca
Karena siapa…
Kita jadi tahu beraneka bidang ilmu
Karena siapa..

Kita jadi pintar dibimbing bu guru
Kita bisa pandai dibimbing pak guru

Guru bak pelita
Penerang dalam gulita
Jasamu tiada tara…

Selamat Hari Guru… Semoga Selalu Diberkahi…)

Ini cerita tentang guruku, apa cerita tentang gurumu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s